
Aku tersadar bahwa aku sedang menguping, & mengingat mereka penyihir, mungkin saja mereka menyadarinya. Aku cepat-cepat pergi, penasaran mengapa Omar merasa perlu mengetahui perkembanganku dalam sihir. Mungkin raja & ratu khawatir aku akan berusaha mendapatkan kembali kekuasaan yang terenggut dariku, & jika Omar mengawasiku, dia pasti menyadarinya. Lagi pula, banyak hal yang lebih mendesak yang harus kupikirkan, jadi aku menyingkirkannya dari benakku.
Keesokan harinya aku bangun & langsung pergi ke perpustakaan, tanpa mampir ke dapur untuk sarapan. Perutku terasa seperti sedang menarikan sebuah tarian rakyat, & kupikir jika makan sesuatu, aku akan segera melihatnya lagi. Aku harus berusaha sampai empat kali untuk menghilangkan noda teh pada berkas Paula. & di tengah jalan aku mencipratkan cukup banyak tinta di atas salinanku hingga terpaksa memulainya dari awal lagi. Setelah berhasil menyelesaikannya pada tengah hari, tubuhku jelas-jelas gemetar, tanganku berkedut saat aku mengambil sehelai kertas kosong untuk menulis pesanku.
Aku sedang berada di kota. Kumohon temui aku di taman Goldhorn sore ini.
__ADS_1
Aku berhenti menulis, penaku terangkat di atas kertas dalam posisi membahayakan. Begitu banyak yang ingin kutulis, untuk berjaga-jaga seandainya Devan tidak mau menemuiku, tapi keberanianku menghilang pada saat-saat terakhir, & aku hanya menuliskan; Temanmu, A.
Aku melipat kertasnya , meneteskan lilin di atas sambungannya & menyegelnya dengan cap Paula, lalu menuliskan Devan Dulschessy pada lipatan luar. Sejenak aku menatap kedua kata itu, mulutku terasa kering, lalu meraihnya & keluar dari perpustakaan.
Selama perjalanan menuju istana, aku merasa ingin muntah, meskipun belum sarapan maupun makan siang. Bagaimana kalau Devan tidak ada di sana, atau terlalu sibuk untuk menemuiku? Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau dia ada di sana tapi tidak mau menemuiku? Saat berada di Treb aku telah mengatakan hal-hal mengerikan padanya, ucapan yang orang bilang tidak termaafkan.
__ADS_1
Di Vivaskari aku berusaha agar tidak memikirkannya, melatih mataku agar tidak menatap ke utara ke arah bukit tempat istana berdiri. Kedua taktik itu tidak berhasil, & aku cemas setiap kali memikirkan harus melalui satu hari lagi dengan perasaan hampa tanpa kehadirannya. Meskipun begitu, saat berjalan menuju istana, tubuhku lebih gemetar saat memikirkan kemungkinan Devan berpaling dariku, menyuruhku pergi…
Tidak. Aku memotong pikiran itu dengan menggeleng keras-keras. Aku harus mencari tahu … Devan sahabatku, & aku harus mencari tahu.
Benteng istana terbentang di sepanjang sisi atas Goldhorn tanpa putus, jadi aku harus pergi ke Sapphire untuk mencapai gerbang. Orang-orang yang berlalu-lalang di jalan ini mungkin saja mengenaliku jika mereka menatapku dengan seksama, jadi aku menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengan seseorang, sampai akhirnya aku menyadari perilaku mencurigakan seperti ini bisa menarik perhatian.
__ADS_1
Sesudahnya aku memaksakan diri untuk menatap ke depan, tanpa melakukan kontak mata, sambil berharap seandainya aku sudah mempelajari mantra untuk mengubah penampilan. Bukan berarti aku bisa melakukannya dengan sukses dalam kondisiku sekarang; mungkin saja aku akan terlihat seperti seorang pria berjanggut seumur hidupku. Namun, bahkan tanpa mantra pun aku berhasil tiba di istana tanpa hambatan. Dua orang pengawal berseragam merah tua, warna keluarga kerajaan, berdiri sigap di depan gerbang.
Bersambung