PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 70


__ADS_3

Namun, aku senang aku bekerja untuk penyihir, karena pria itu memberi jalan dan, setelah menunjukkan arah menuju kamar Devan, memunggungiku.


Setelah berada di sini, aku merasa malu saat berjalan menuju sayap istana yang menampung bangsawan rendahan, mengambil jalan setapak taman alih-alih melewati melewati istana. Mengapa tadi aku menganggap ini sebagai ide bagus? Aku akan terlihat konyol, mengetuk pintu kamar Devan untuk memberitahunya….? Bahwa kami tidak akan pernah bisa menemukan pintunya? Meskipun terjemahanku sangat menarik, tiba-tiba aku tidak yakin apakah ini sepadan dengan dibangunkan sebelum fajar. Terutama karena kami sudah tidak bicara selama berhari-hari.


Aku berhenti, mundur satu langkah lalu maju satu langkah dan merasa ragu. Tidak, aku sudah ada di sini, ujarku dalam hati, aku melanjutkannya. Namun, bahkan setelah memikirkannya, aku merasa aneh, seperti ada sesuatu yang menahanku, pelan-pelan tapi tak tertahankan. Aku benar-benar tenggelam dalam pikiranku sendiri hingga membutuhkan beberapa saat untuk menyadari bahwa ini bukan bayanganku saja, bahwa aku merasakan sebuah tarikan kuat di dalam dadaku.

__ADS_1


Dan aku membutuhkan beberapa saat lagi untuk menyadari bahwa aku pernah merasakan sensasi ini sebelumnya.


Diana, batinku dengan kaget. Dia ada di dekat sini. Aneh juga dia berada di luar selarut ini, atau sepagi ini, tergantung bagaimana kau memandangnya. Tanpa berniat melakukannya, aku berbalik ke arah istana. Deretan semak-semak tinggi memagari bangunan, memperlembut garis batu kelabu, dan aku berdiri di balik bayangannya. Aku beruntung, karena saat sebuah cahaya lembut menyala di jendela di dekatku, sinarnya tidak mengenaiku. Aku tetap berada di balik kegelapan, mengamati dengan penasaran.


Diana mengenakan mantel yang cukup panjang hingga sebagian besar orang mungkin tidak akan menyadari renda yang mengintip dari baliknya, dan rambutnya tergerai panjang bergelombang di atas punggungnya. Aku mengerutkan kening saat menyadari renda itu berasal dari gaun tidurnya. Apa yang dilakukannya di luar kamar pada jam seperti ini, dan hanya mengenakan pakaian itu?

__ADS_1


Namun aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya, karena saat aku mengamatinya, Diana mengangkat kedua lengan, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Dia melakukannya pelan-pelan, seperti seseorang yang bergerak dalam mimpi, dan keanehan itulah yang membuatku maju dua langkah, hingga jemari kakiku menyentuh tepi bayangan semak-semak, untuk mengamati wajahnya. Dengan kerutan bekas tidur dan lingkaran hitam di bawah matanya. Wajah Diana terlihat datar, sama mulus dan tidak sadarnya seperti seseorang yang berjalan sambil tidur. Tanganku yang tidak menggenggam peta terangkat ke leher, dan aku mengunci bibir dengan bingung saat sosok lain di ruangan itu mengangkat dan meletakkan tangannya di atas tangan Diana. Hal itu membuatku menatap sosok itu, dan saat melakukannya, aku harus mengucek mata dan melakukannya lagi.


Semula aku menduga sosok itu mengenakan jubah bertudung. Namun saat berusaha menatap lebih seksama, mataku teralihkan bahkan tanpa sempat melihat warna rambut atau bentuk tubuh orang itu. Sebuah perisai penglihatan, aku menyadarinya dengan bingung. Baru beberapa hari yang lalu Paula memasang perisai pada dirinya sendiri agar aku bisa melihat bagaimana mantranya membuat sebuah objek terlihat kabur dan tidak mencolok, mencegah orang yang melihat untuk mengingat penampilannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2