PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 115


__ADS_3

“ Itu perbuatanmu, ya kan?” Dia menunjuk dadanya, tempat dia merasakan mantra menarik kami bersama. “ Semacam tipuan? Kalau Porter Andover yang menyuruhmu melakukan semua ini, demi sang Dewa Tanpa Nama, aku akan, aku akan—“ wajahnya membara dan dia mengayunkan kepala, mengempaskan rambutnya dengan marah. “ Katakan padanya, aku tahu pendapatnya tentang aku, apa pendapatnya tentang nenekku, tapi dia tidak punya hak memgirim penyihir tradisional untuk memantraiku hanya karena datang ke tempat itu.”


“ Aku tidak melakukannya,” ujarku, menggelengkan kepala kuat-kuat. “ Ini sebuah mantra, tapi bukan aku yang merapalnya.”


“ Benar sekali. Dan karena itulah aku tidak merasakannya sampai melihatmu sedang menatapku di jalan. Karena itulah kau memgejarku sampai ke hutan.” Kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya, buku jarinya memutih. “ Aku belum lupa apa yang dilakukan Porter saat terakhir kali bertemu denganku—seluruh penjuru rumahku masih berbau lumpur danau karena perbuatannya. Dan kalau sekarang dia menyuruh seorang pawang kodok untuk—“


“ Aku tidak merapalnya,” aku berkeras. “ Aku bersumpah tidak melakukannya. Tapi mungkin…. mungkin aku bisa melindungimu darinya.”

__ADS_1


Gadis itu menatapku dengan dagu terangkat tinggi. Kelihatannya dia siap untuk membanting pintu di depan mukaku atau memukulku dengan tangan kosong. Aku merasa gemetar dan ragu, benar-benar tidak siap untuk mencoba sebuah mantra. Sihir berkecamuk di dalam diriku, terdorong untuk melonjak-lonjak akibat sensasi mantra yang mengikat kami dan keteganganku sendiri.


Tenanglah, batinku dengan putus asa. Aku bisa melihat mantra yang bisa melindungi kami dari sensasi yang menarik kami—sebuah perisai sederhana tingkat rendah. Namun jika aku mengacaukannya, menggunakan terlalu banyak energi, kekuatan perisainya bisa membuat kami terempas sampai ke hutan. Kumohon, tenanglah. Aku mengangkat tanganku yang gemetar, tapi tidak ada gunanya. Aku terlalu cemas, terlalu takut untuk merasa tenang dan takut menyakitinya. Aku mengangkat wajahku ke arah langit, berusaha untuk menahan air mata.


Kau bisa melakukannya, sepertinya ada seseorang yang berbisik di telingaku. Suara itu terdengar sama akrabnya seperti suaraku sendiri. Aku berpaling, nyaris berharap akan melihat Devan muncul dari dalam hutan. Namun, aku mendengar suaranya di dalam kepalaku sendiri. Meskipun begitu, ketenangan yang kurasakan sesaat, sensasi nyaman yang muncul bersama kenangan itu sudah cukup. Di dalam benak, aku membayangkan sebuah selimut lembut yang membalut tubuhku dan Diana, selimut yang menghalau sensasi mantra yang menarik kami.


Aku mendengar Diana menghela napas saat mantranya terpasang. Matanya menyipit padaku saat aku menatapnya, tapi lebih terlihat sedang menilai daripada curiga. “ Apa kau melakukannya?” tanyanya.

__ADS_1


“ Kau bersumpah?”


“ Aku bersumpah.”


Diana merengut, lalu berkata, “ Namaku Bella Erish.”


“ Namaku Amelia Muller. Dan seperti yang tadi kubilang, aku sedang mencarimu.”

__ADS_1


Rumahnya mungil, jauh lebih kecil daripada rumah bibi Vania—hanya terdiri atas satu kamar berlantai tanah, sebuah dipan kecil, dan beberapa perabot yang sudah usang. Di dalam, Bella memanaskan air di atas perapian, meremukkan sejumlah daun ke dalamnya, dan menyerahkan cangkir teh encer itu padaku. Kemudian, sambil menggenggam cangkir tehnya, Bella duduk di atas salah satu dari dua kursi yang ada dan melambaikan tangan ke arah kursi satunya. Dia menatapku dari bibir cangkirnya saat aku duduk, lalu berkata terus terang, “ Bicaramu seperti perempuan terhormat. Dan aku sudah pernah mendengar namamu. Orang-orang membicarakanmu saat mereka menemukan putri yang asli. Semua orang sudah melupakannya, tapi aku masih ingat. Untuk apa kau mencariku?”


Bersambung


__ADS_2