PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 109


__ADS_3

Aku pasti menikah untuk alasan politik; kami sama-sama mengetahuinya. Tidak ada alasan untuk mengakui bahwa kami bisa lebih dari sekedar teman. Meskipun begitu, itu hanya tampilan luar yang tipis, yang bisa kulihat, jika aku menginginkannya.


Dan setelah aku tidak menjadi putri? Apa aku mengetahuinya? Seandainya aku melihatnya dengan seksama, apa aku akan mengetahuinya? Ya, aku harus mengakui, aku pasti melihatnya. Tetapi rasanya seperti mengetahui kau membutuhkan udara untuk bernapas atau air saat merasa haus. Sesuatu yang sudah kuketahui, tapi tanpa pernah memikirkannya, tanpa sungguh-sungguh mempertimbangkannya. Aku sudah sangat lama menggenggam hati Devan hingga aku lupa sudah memilikinya, tersimpan di balik hatiku sendiri.


Jadi, ya, aku sudah mengetahuinya. Bukankah wajah Devan selalu muncul di antara aku dan Jose, tak peduli sekeras apa usahaku untuk melupakannya? Bukankah aku merasa bersalah saat mencium Jose, seakan-akan aku mengkhianati Devan? Dan bukankah Devan datang mencariku ke Treb, bukankah sejak aku kembali ke kota dia selalu menemaniku setiap kali punya waktu? Aku mengatakan hal yang sebaliknya pada Paula, tapi bukankah selama berminggu-minggu aku merasa aneh bersama Devan, canggung, setelah menyadari keadaan di antara kami sudah berubah?


Atau mungkin sebenarnya tidak berubah. Mungkin baru sekarang semua itu berubah menjadi sesuatu yang didambakannya selama ini.


Sesuatu yang selama ini kudambakan.

__ADS_1


Karena aku memang mendambakannya. Aku merasakannya dalam satu ciuman itu, bagaimana hubungan di antara kami bisa terbentuk. Dan aku menginginkannya. Oh, betapa aku menginginkannya.


Namun aku sudah membuang semuanya, dengan memasang mantra itu tanpa seizin Devan, dengan mencegahnya melakukan sesuatu yang menurutnya harus dilakukan untuk melindungiku. Aku melihat ekspresi terkejut pada wajah Devan saat menggunakan sihir padanya. Aku tidak tahu apakah dia bisa memaafkan aku, setelah semua yang kulakukan.


Aku sudah menghancurkan kesempatanku untuk bahagia bersama satu-satunya orang yang sudah memahamiku sejak dulu.


Semuanya kulakukan demi menyelamatkan kerajaan yang sudah menelantarkanku, atau mungkin hanya untuk membuktikan diri bahwa aku bisa melakukan sesuatu.


“ Sang raja,” perempuan yang berdiri di depanku memberitahu sang apoteker. “ Dia sakit. Semua dokternya ada di istana, bersama setengah penyihir dari kampus. Mereka tidak memberitahu banyak, tapi aku mendengar rumor soal demam nadi merah.”

__ADS_1


Apoteker itu membungkuk di atas konter. “ Demam nadi merah?” dia berseru sambil menggelengkan kepala. “ Kalau munculnya sangat cepat, biasanya pasiennya meninggal. Aku—“ pria itu terdiam, menatapku dari balik pundak wanita itu. “ Nona, apa kau baik-baik saja?”


Ternyata tanpa sadar tubuhku terhuyung, mengulurkan tangan dengan membabi buta untuk menyandarkan tubuh di dinding. Demam nadi merah. Aku memejamkan mata dan menggigil. Omar. Dia keluar kota karena demam nadi merah. Dan sang peramal, dia juga meninggal karena penyakit itu. Orang yang bisa mengancam rencana Melani dan mengetahui rencananya, dan merasa bersalah. Aneh sekali, mereka menderita penyakit yang sama. Bagaimanapun, deman nadi merah adalah penyakit yang langka. Yang lebih aneh lagi, sang raja pun terjangkit penyakit itu.


Sangat aneh


Aku mengguncang tubuhku. “ Baik, aku baik-baik saja,” ujarku. “ Tapi sang raja—apa mereka bilang penyakitnya parah?”


Perempuan itu terlihat gelisah. “ Iya. Mereka bilang raja sudah mengalami mimpi buruk akibat demam yang terlalu tinggi, dan tidak ada seorang pun yang bisa menyadarkannya dari mimpi itu. Sang ratu dan putri ada di sampingnya, siang malam.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2