PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 14


__ADS_3

Aku menatap peti sambil memuntir kedua tanganku, lalu mengambil surat & membuka pintu menuju rumah.


Aku sudah menyadari, bahkan dalam keadaan limbung semalam, di rumah ini ada tiga ruang mungil, yaitu ruang utama sebagian besar digunakan sebagai perapian & dapur, & dua ruang lainnya di gunakan untuk kamar tidur.


Bibi Vania tidak ada di ruang utama, & ruang yang tidak kutiduri tertutup rapat. Aku tidak berani mengintipnya. Tentu saja, Devan pasti berani.


Tidak aku menggelengkan kepala, memeluk tubuhku. Aku tidak akan memikirkan Devan.


Jadi aku berdiri terpaku, tidak yakin harus berbuat apa, tepat pada saat itu pintu depan terbuka & bibi Vania masuk, kedua lengannya berwarna hijau hingga sebatas siku.


“ Sejak tadi aku bekerja di belakang,” Bibi Vania berkata untuk menyapaku. Dia berjalan ke depan perapian, tempat sebuah mangkuk air berada, & memasukkan lengannya, menggosoknya keras-keras, tapi saat dia mengeluarkannya lagi, aku tidak yakin apakah warnanya sudah memudar.

__ADS_1


Bibi Vania mengamatiku sejenak, tatapan tajamnya tertuju pada semua hal mulai dari sepatu hingga wajahku. Aku menunduk, pipiku terasa panas, & kemudian aku teringat pada surat yang ada di tanganku.


“ Ini untukmu.” aku berhasil bicara, & mengulurkan suratnya.


Bibi Vania mengambilnya dengan tangan kehijauan & kemudian melepas segel suratnya. Dia membacanya sambil berdiri, lalu melempar kertasnya ke atas meja. “Apa kau tahu apa isinya?” tanyanya.


Aku menggelengkan kepala.


Wajahku semakin panas & memaksa diriku menatap matanya, sebuah ucapan terima kasih, atau sebuah hadiah rasa bersalah, sama seperti uang yang mereka berikan padaku? Pembayaran, atas beban yang di letakkan di atas pangkuannya?


Meskipun begitu, aku akan berusaha memasang wajah bahagia, karena aku juga mendapat “ hadiah”. Lagi pula, Hutan kerajaan, yang berada di bagian utara Vivaskari, hanya terbuka untuk keluarga kerajaan. Selain mereka, tidak seorang pun yang di izinkan untuk berburu hewan apa pun atau memetik tanaman apa pun di sana.

__ADS_1


“ Mereka baik sekali, iya kan?”


Bibi Vania mendengus. “ Mungkin, jika aku punya dana untuk pergi ke ibukota setidaknya sekali saja dalam satu tahun. Tapi aku tak punya. Atau kalau kupikir ada tanaman yang tumbuh di sana & tidak tumbuh di sini. & aku juga tidak beranggapan begitu.” Bibi vania mengedikkan bahunya sambil mendesah. “ Tak masalah. Aku tidak berharap banyak pada raja, mengenai hal-hal yang bisa membantu orang biasa sepertiku. Maupun berharap mereka peduli soal itu.”


Aku ingin protes, & mengatakan raja & ratu memang peduli, tapi kalimat itu tidak mau keluar, yang terbayang hanya raja & ratu yang mengirim bayi mereka & menerima bayi lain, bayi jelata yang mungkin dibiarkan mati untuk menggantikan posisi bayi mereka.itu, & sensasi menggelisahkan bahwa mungkin, dari sudut pandang tertentu, bibiku memang benar.


“ Kurasa aku sudah lapar,” tiba-tiba bibiku berkata, seperti tahu apa yang kurasakan & aku tahu masalah hadiah ini sudah dilupakan.


“ Makanannya tidak seperti yang biasa kau makan, tapi di atas meja ada sedikit roti & keju.”


Bibiku memang benar, makanannya memang tidak seperti yang biasa aku makan di istana. Tetapi aku tetap mencoba tersenyum , wajahku tidak terlalu ingat cara menyelesaikan gerakan itu, & mengangguk sambil berkata. “ Terimah kasih. Aku memang lapar.”

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komennya author tunggu. Jika ada kesalahan dalam menulis, tolong di maafkan🙏🙏🌹


__ADS_2