PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 78


__ADS_3

Aku tidur sepanjang sisa hari itu dan baru terbangun keesokan paginya saat salah seorang pelayan mengetuk pintu kamarku dan memberitahu bahwa Paula sedang menungguku di bawah.


“ Dia bilang sebuah pelajaran mengenai, oh, sesuatu yang magis,” ujar Breta seraya kembali ke pintu. “ Aku tak ingat kata-kata yang diucapkannya. Tapi dia bilang kau harus ikut dengannya, sekarang.”


Aku cepat-cepat turun dari tempat tidur, berusaha merapikan pakaianku yang kusut sambil berjalan. Saat meraih sisir di mejaku… rambutku terlihat seperti habis dipatuki beberapa ekor burung…. aku melihat secuil kertas, terlipat dan disegel menggunakan segumpal lilin yang berasal dari mejaku. Saat membukanya aku mengenali tulisan tangan Devan.

__ADS_1


Jangan coba-coba bangun sebelum kau benar-benar istirahat! Kalau sudah, kirim salah satu cahaya pesan dan aku akan datang. Sementara itu, aku akan bicara pada O, untuk mencari tahu apa dia ingat sesuatu mengenai semalam. Dan aku akan mencari tahu apakah ada yang melihat M. atau D, berkeliaran di istana semalam. Jangan mengerutkan kening seperti itu! Aku akan melakukannya dengan cerdik.


Aku tersadar bahwa keningku memang berkerut, dan itu membuatku mengembuskan napas kesal. Devan mengenalku dengan sangat baik. Meskipun begitu, bahkan janjinya tidak menghilangkan rasa takutku. Mungkin Devan merasa dirinya cukup santai menanyai Riana, tapi aku khawatir sifat alaminya yang penuh semangat bisa membocorkan semuanya. Dan seandainya pengkhianat itu menduga Devan mengetahui sesuatu soal putri palsu yang kedua…. aku menggigil, dan meletakkan pesannya. “ Hati-hati, bisikku, lalu mengangkat sisir ke rambutku.


Cuaca hari ini nyaman dan cerah, tanpa satu pun awan yang terlihat, dan aku merasa pikiranku pun ikut jernih saat kami berjalan. Sepertinya aku sudah pulih setelah lelah begadang, dan keterterkejutan yang kurasakan setelah melihat peristiwa itu sudah sedikit teredam oleh waktu dan jarak.

__ADS_1


Ingatan itu masih terasa tajam, tapi sedikit demi sedikit aku mulai membiasakan diri dengan gagasan bahwa Riana bukan putri yang asli. Nah, seandainya saja aku tahu apa yang harus kuperbuat. Yah, aku akan memulainya dengan berusaha menyelinap keluar dari kuliah dan setidaknya mencari ruangan Omar, dengan begitu, saat aku kembali bersama Devan, kami sudah tahu benteng seperti apa yang harus kami hadapi.


Kami berjalan santai menuju kampus, hanya berhenti agar Paula bisa memeriksa sarang burung yang tertiup ke jalan dari sebuah pohon di taman. Namun, Paula bilang sarangnya terlalu rusak untuk digunakan, jadi kami meninggalkannya di sana. Setelah berada di kampus, kami bergegas menuju salah satu aula kuliah besar. Selama tahun-tahun yang kulewati sebagi putri, aku pernah mengunjungi beberapa aula untuk menghadiri berbagai macam seremoni, dan aula ini tidak jauh berbeda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2