
Dia diberitahu bahwa suatu hari nanti akan dipanggil ke istana, sesuai permintaan walinya. Dia lebih aman jika tidak mengetahuinya.
“ Apa yang Mulia pernah bertemu dengannya? Apa yang Mulia mengunjunginya?”
Sang raja memejamkan mata.
“ Tidak. Melani & Omar, mereka pernah bertemu dengannya benerapa kali. Beberapa tahun sekali, salah seorang dari mereka harus mengunjungi panti asuhan, dengan samaran sihir, untuk memperbarui mantra & menghapus memorinya.
Tapi kami belum pernah bertemu putri kami sejak lahir.”
Putri kami, batinku. Kemudian, Dia memanggilnya Diana.
Aku merasa lelah, lebih lelah daripada yang pernah kurasakan seumur hidup, jadi rasanya sulit untuk terus mengangkat kepala, & lebih sulit lagi mengajukan pertanyaan berikutnya. “ Siapa aku? Kalau aku bukan Diana, siapa aku?”
“ Melani menemukanmu. Dia meramal selama satu hari, mencari bayi yang tepat. Ayahmu seorang penenun di kota. Kami memanggilnya, memberitahunya rencana kami. Dia memberikanmu pada kami secara sukarela, lalu Omar mengubah memori Ayahmu, membuatnya beranggapan bayinya sudah meninggal.”
__ADS_1
Saat aku terlesiap kaget, dia berkata dengan sedikit Penekanan, “ Itu lebih aman. Semakin sedikit orang mengetahuinya….”
“ Dan ibuku?” Pertanyaanku pendek & pelan. “ Apa dia juga menyerahkanku?”
Sang raja menggelengkan kepala. “ Dia tidak menyebut-nyebut soal istrinya.”
Aku mencengkeram rok gaunku. Ini terlalu berat, terlalu berat untuk dipahami.
“ Apa ayahku masih hidup?”
Lagi-lagi, wajah sang raja terlihat sedih.
Cahaya dari jendela terus menekanku, sama terang & tajamnya seperti berlian. Aku sendirian, batinku saat menatap sekeliling aula. Semua ini, seluruh kehidupanku, ini hanya sebuah mimpi. Dan sudah berakhir.
“ Siapa namaku?” tanyaku.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya sang ratu bergerak , mendongakkan kepala untuk menatapku.
“ Amelia,” ujarnya, suaranya pelan.
“ Pria itu bilang namamu Amelia.”
“ Amelia,” bisikku. Aku menunggu sampai kata itu terasa memiliki makna, untuk mengisi tempat yang kosong saat cahaya keemasan menghilang.
Namun nama itu hanya memudar, tidak mengisi apa pun, hilang di dalam aula Thorvaldor yang berlangit-langit tinggi.
Aku berdiri di depan jendela kamar yang bukan lagi milikku. Di bawahku, dua orang dayang ratu berjalan melintasi salah satu taman utama, ketiga anak mereka berlarian kesana kemari di sepanjang jalan setapak. Salah seorang dayang berhenti untuk berbicara dengan seorang pemuda yang mengenakan jubah hijau khas seorang penyihir belum berpengalaman, mungkin seorang pelajar bangsawan datang mengunjungi orangtuanya. Aku tahu cuaca di luar masih nyaman.
Jika menekankan tangan pada jendela, aku bisa merasakan kehangatannya menembus kaca. Namun, di dalam aku merasa kedinginan, sangat kedinginan hingga aku merasa tubuhku bisa pecah jika bergerak terlalu cepat.
Tadi mereka melangsungkan sebuah rapat dewan, yang dihadiri oleh semua konselor & para bangsawan tingkat tinggi yang sedang berada di istana. Aku berdiri di samping sang raja saat menjelaskan ramalan yang sesungguhnya pada orang-orang yang berkumpul di aula.
__ADS_1
Aku mengulurkan lengan untuk memperlihatkan tanda lahir yang sudah hilang, & mendengar diriku berkata bahwa aku bukan sang putri di tengah suara orang-orang yang terkesiap kaget. Setelah itu aku diperbolehkan pergi. Aku mendengar raja berkata, saat aku meninggalkan ruangan, bahwa Diana akan tiba sore ini.
Rasanya menyakitkan, & itu membuatku terkejut selama kurang lebih satu jam yang dibutuhkan untuk mengumpulkan anggota dewan & para bangsawan di aula untuk mengumumkan rahasia ini, aku tidak menduga akan merasakan sakit hati. Dadaku terasa sesak, seperti diimpit batu besar & mataku terasa membara akibat menahan air mata yang tak tertumpahkan. Tentunya tidak ada hal lain yang bisa membuatku merasa lebih buruk lagi, lebih tersesat & sendirian, daripada yang kurasakan sekarang. Namun, rasanya makin menyakitkan saat berdiri di depan kerumunan & mendengar pria yang kupikir ayahku mengambil kembali namaku.