PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 27


__ADS_3

Kadang-kadang permainan catur kami berjalan cukup lama hingga kami terpaksa menyatakan seri karena hari sudah larut. Aku menunjukkan danau kecil yang kutemukan di hutan belakang pondok kami, & jika menunggu saat senja, aku hampir selalu bisa melihat rusa yang datang untuk minum.


Kami menyusuri jalan utama Treb, kadang-kadang kami berhenti di kedai minuman untuk bersantai & minum secangkir sari apel. Sesekali anak-anak seumuran kami berusaha bergabung, tapi Jose selalu bisa menggiring mereka pergi tanpa membuatnya terlihat tidak ramah. Kadang-kadang aku berharap dia tidak sehebat itu melakukannya; sepertinya menyenangkan jika bisa mengenal mereka, & aku terlalu pemalu untuk menghampiri mereka sendiri. Tetapi pada umumnya aku senang memiliki seorang teman, sedikit kebahagiaan.


Aku sempat mempertimbangkan untuk bercerita pada Jose mengenai perasaan aneh yang kurasakan di dalam tubuhku, perasaan seperti ada sesuatu yang terperangkap di dalam diriku & berusaha untuk keluar. Sensasi itu semakin parah, sehingga kadang-kadang aku merasa bisa melihat hawa panas menguar dari kulitku. Saat Jose menatapku dengan mata jernihnya& tersenyum, kupikir dia akan memahaminya.


Namun aku ragu, tidak mau membebani waktu yang kami habiskan bersama dengan rasa takut mengenai sesuatu yang mungkin atau mungkin juga tidak nyata. Apa pun itu, sepertinya tidak menyakitiku, selain menyebabkan rasa cemas, maka aku tidak mengatakan apa-apa.

__ADS_1


Aku berusaha memikirkan ucapan Bibi Vania mengenai Jose. Bibiku tidak pernah mencegahku menemui Jose, tapi ekspresi cemberutnya mau tidak mau membuatku terdiam setiap kali meminta izin untuk pergi dari rumah.


Ekspresi itulah yang selalu berkelebat di dalam benakku setiap kali Jose melontarkan lelucon untuk meledek sesuatu mengenai Treb, atau saat berusaha meminta Tabita menurunkan harga sari apel kami di kedai. Ekspresi itu menghantuiku setiap kali sella menatap Jose dengan raut muka sakit hati saat melihatnya bersamaku, sebuah ekspresi yang seakan-akan memperlihatkan sesuatu yang tiba-tiba direbut. Namun, biasanya aku berhasil melupakan momen singkat penuh kecemasan itu, karena beberapa saat kemudian Jose menatapku dengan senyum yang sangat ramah hingga aku beranggapan tentunya nada angkuh pada suaranya hanya bayanganku saja.


Aku berusaha tidak memikirkan Devan. Aku berusaha tidak membandingkan sifat cerdasnya yang ramah & santai dengan ketenangan & senyum indah Jose. Kadang-kadang, aku berusaha tidak berharap Devanlah yang duduk di seberang mejaku. Aku memaksa diriku agar tidak membayangkan bagaimana Devan akan memesona semua orang, mulai dari Ardi, pandai besi yang tertutup, hingga Tabita, pengurus penginapan yang riang & berpipi merah.


Kemudian tibalah hari saat Jose menciumku, & semua hal langsung tersingkir dari kepalaku.

__ADS_1


Itu terjadi saat kami sedang berada di hutan. Seharusnya aku tidak ditemani Jose saat mengumpulkan tanaman untuk Bibi Vania, tapi sore itu dia melihatku saat berjalan menuju hutan & mengikutiku. Sempat berpikir olehku untuk menyuruhnya pergi, untuk berjaga-jaga seandainya Bibi Vania mencariku, tapi saat aku hendak mengatakannya, Jose menatapku lekat-lekat hingga aku melupakannya.


“ Yah, kalau begitu kau harus bekerja,” aku tertawa.


“ Kau bisa membantuku mencari Meadowsweet.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2