PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 49


__ADS_3

Akhirnya, aku mendatangi Paula untuk meminta libur, Namun, aku terkejut & hampir pergi lagi saat mendapatinya di ruang kerja bersama Omar, sang kepala kampus penyihir, & pria yang ikut memasang mantra pada tubuhku agar terlihat seperti putri.


“ Oh, maafkan aku,” ujarku saat memasuki ruangan & melihat mereka duduk dengan kepala berdekatan, tertunduk di atas sebuah gulungan kertas tua yang sudah usang. Paula mendongak & tersenyum, tapi Omar merenggut karena gangguan ini. “ Aku tidak tahu…..”


“ Bahwa ada seseorang yang sangat tenar datang mengunjungiku?” Paula melanjutkan ucapanku.


“ Bukan,” Aku berkata sambil menggelengkan kepala. “ Aku tidak tahu kau sedang sibuk.” Tentu saja, aku juga memang tidak tahu Paula mendapat kunjungan tamu penting. Sejauh ini, pengalamanku bersama Paula memberitahuku bahwa sebagian penyihir kampus tidak memberinya banyak peranan, mengingat perilakunya yang aneh & sikapnya yang menentang aturan.


Paula menggerakkan jarinya ke arahku. “ Tak ada gunanya menyangkal. Biasanya aku juga terkejut saat dia sudi menghubungiku, tapi kami memang masuk kampus pada tahun yang sama, & bahkan reputasinya pun tidak menyebabkan kami berhenti berteman. Dia hanya berkunjung untuk menanyakan pendapatku mengenai mantra yang mereka temukan di dalam arsip…. yang tidak pernah dilihat selama, oh, dua ratus tahun… & tentu saja, lebih mudah mencariku di sini daripada di kampus.”

__ADS_1


Saat itu Omar sudah mendongakkan kepala dari gulungan kertas & memusatkan matanya yang berwarna gelap padaku. Mau tidak mau aku teringat saat terakhir kali melihatnya, & perutku terasa melilit. Tetapi aku berhasil menyunggingkan senyum kaku. “ Tuanku,” ujarku.


“ Nona Muller,” ujar Omar, terlihat sama kakunya denganku. Pria itu mengerutkan kening & menelan ludah, sambil menarik leher jubah hitamnya dengan sikap yang nyaris terlihat gugup. Mungkin dia, juga, teringat pada pertemuan kami yang terakhir.


Aku menduga Omar akan melanjutkan ucapannya, tapi dia hanya menatapku dengan ekspresi kesal, maka aku berpaling pada Paula.


“ Besok saja,” ujarnya. “ Seorang temanku… seorang penyihir juga akan datang berkunjung, jadi aku tak akan bisa mengajarmu. Tapi pastikan kau sudah menyalin catatan yang kubawa kemarin. Aku menumpahkan teh di atasnya , jadi bisa memberimu kesempatan untuk berlatih mantra penghilang jika kau tidak bisa membacanya, & mengingat jumlah teh yang tumpah, kurasa kau tak kan bisa membacanya. Pastikan saja bukan kata-katanya, alih-alih teh, yang kauhilangkan.”


Aku mengangguk pada Paula, lalu menundukkan kepala sedikit ke arah Omar, & menyelinap ke luar ruangan. Namun, saat keluar dari ruangan, aku mendengar Omar berkata sambil mendengus, “ Aku tahu kau mengajarnya, tapi kenapa harus dia, Paula. Ini sangat tidak biasa.”

__ADS_1


“ Yah, mungkin kau sendiri yang akan mengajarnya, kalau bukan aturan kuno di kampusmu,” Paula menjawab ketus.


“ Kalau aku pernah memberitahumu, mungkin aku sudah memberitahumu ratusan kali…. & dia punya bakat, lumayan banyak, bahkan meskipun sekarang masih tidak stabil. Tidak, jangan menatapku seperti itu. Aku tak kan bisa dibujuk, tak peduli apa pun yang kau katakan.”


Terdengar ******* panjang, yang bahkan terdengar olehku dari selasar. “ Kalau begitu setidaknya kuminta kau terus mengabariku mengenai kemajuannya,” ujar Omar. “ Bisa saja ini penting… maksudku, untuk kerajaan.”


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, vote, & komen. Jika masih ada typo tolong di maafkan 🙏🙏🌹🥰


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2