
Apa? Batinku, atau setidaknya mulai membatin, karena tepat pada saat itu, ada sesuatu yang terjadi yang membuat Jantungku teremas menyakitkan dan telingaku berdenging bagaikan sebuah sarang lebah.
Sebuah kabut keemasan, awalnya samar, lalu terang, terpancar di sekitar Diana, menyelimutinya. Di dalam mulut aku mengenali rasa besi yang berasal dari darah. Sebuah kabut keemasan. Aula Thorvaldor. Raja dan ratu mengawasi. Tanda lahirku menghilang dan sesuatu yang tidak kusadari keberadaannya juga menghilang.
Awan keemasannya memudar. Bahkan hanya dengan satu lampu yang menyala, aku bisa melihat lengan Diana dengan cukup jelas, karena dalam keadaan terentang. Tanda lahir dilengannya berkilau, tiga titik merah itu terlihat panas dan menyala. Kemudian, di depan mataku, tanda-tanda itu memudar kembali seperti semula, dan aku nyaris tidak bisa melihatnya.
Sosok berperisai itu mengatakan sesuatu; aku nyaris bisa mendengar ucapannya melalui jendela kaca, tapi sayangnya tidak. β Biarkan aku mendengarnya,β bisikku, mengirimkan sedikit mantra menuju jendela. Itu nyaris bukan apa-apa, usaha yang sangat lemah, karena aku takut orang berperisai itu akan merasakan mantranya dan menyadari kehadiranku. Ini tidak akan berhasil, aku tahu ini tidak akan berhasil, sebelumnya aku baru berhasil menggunakan mantra ini sebanyak dua kali, dan sekarang aku nyaris tidak memberinya kekuatan. Namun samar-samar, sangat samar hingga aku nyaris tidak bisa mendengarnya melampaui dengingan telingaku, aku mendengar, β Kembalilah ke kamarmu. Kalau kau bertemu seseorang dalam perjalanan, katakan kau sakit dan pergi mencari salah seorang dokter istana. Lupakan semua ini.β
__ADS_1
Suara orang itu juga dipasangi mantra, jadi kedengarannya bukan suara lelaki maupun perempuan, tidak tua maupun muda. Di samping sosok itu, Diana menurunkan tangannya dan berjalan menuju pintu. Setelah mengetahui apa yang harus diperhatikan, aku bisa melihat lemahnya pengendalian gerakan Diana, kekuatan mantra yang menuntunnya. Diana membuka pintu dan keluar, menutupnya tanpa suara. Di dalam kamar, sosok itu tiba-tiba terhuyung kelelahan setelah menggunakan mantra, seraya mencengkeram punggung sebuah kursi di dekatnya. Orang itu tetap berada di sana, menggenggam kursi, untuk waktu yang lama, dan aku menunggu, Jantungku sudah melonjak hingga kerongkongan, berharap bisa melihat perisainya lepas.
Namun tidak, sepertinya orang itu berhasil mendapatkan sejumlah kekuatan lagi, karena dia menegakkan tubuh lagi dan, setelah melirik sekeliling, menghampiri pintu.
Di luar, tubuhku menggigil, terus gemetar saat cahaya kelabu pagi membanjiri taman istana.
Aku berdiri, merapat pada semak-semak tajam, dan berusaha berpikir.
__ADS_1
Apa itu benar-benar seperti dugaanku? Apa tidak ada penjelasan lain atas peristiwa yang baru saja kulihat? Mungkin, sebuah mantra lain yang harus dilakukan pada saat tertentu, yang bisa menjelaskan waktu yang janggal. Atau mungkin sisa-sisa mantra yang dulu dilakukan pada kami semasa kecil, sebuah kesalahan tak terlihat yang perlu diperbaiki. Tetapi aku tahu mantranya harus sering diperbarui, karena raja memberitahuku itulah yang mereka lakukan padaku. Tetapi orang yang menggunakan perisai meminta Diana agar tidak mengingatnya, menghapus kenangan apa pun mengenai semua yang terjadi. Tetapi Diana dikendalikan mantra yang membuatnya tidak bisa melawan.
Aku memeluk tubuh dengan tanganku yang bebas dan menggelengkan kepala. Aku mengenalinya dari lubuk hati terdalam, mengenalinya seperti aku mengenali darah yang mengalir di dalam pembuluhku. Seumur hidup kuhabiskan di bawah pengaruh mantra itu, dan aku pernah melihatnya ditarik keluar dari tubuhku di aula Thorvaldor. Dan aku tahu, aku tahu itu mantra yang sama, tapi kali ini hanya diperbarui, bukan dihilangkan.
######
Aku tambahkan satu bab lagi, siapa putri yang asli? di manakah dia? dan jawabnya ada jika kalian terus mengikuti alur ceritanya. Dan jangan lupa dukung Author dengan cara ikuti akunnya; like, vote, & komen, buat vitamin atau semangat melanjutkan kisah Devan & Amelia. Sehat sll. Terima kasih.ππͺππ₯°πΉπβ€οΈ
__ADS_1
Bersambung