PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 86


__ADS_3

Aku juga sudah menimbang-nimbang gagasan itu, tapi tidak mengatakannya pada Devan. Bisakah aku meminta sang peramal untuk menunjukkan jalan pada Diana, memberitahuku nama kotanya, nama jalan tempat Diana tinggal? Entah mengapa, kurasa tidak akan semudah itu. Ramalan cenderung tidak sespesifik itu, biasanya selalu ada ruang untuk penafsiran.


“ Mungkin,” ujarku, tapi tidak memercayainya.


Kami berada di ruangan itu sampai sore hari, berpura-pura membaca jurnal dan menuliskan catatan palsu. Namun, bahkan pesona buku pun tidak berhasil menggodaku. Aku bisa merasakan diriku tergelincir ke sebuah tempat gelap, meskipun Devan berusaha menghiburku.


Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Sekarang aku harus mengakuinya. Aku mendatangi Siderros karena tidak punya gagasan nyata untuk menemukan Diana atau mengungkap indentitas orang yang berperisai mantra. Apa-apaan aku ini? Aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya seorang penyalin yang memiliki sihir yang nyaris tidak bisa dikendalikan, bukan seorang penyelamat Thorvaldor.


Sepertinya benakku terpaku pada jalur yang sama, berputar-putar sendiri tanpa menemukan tempat baru. Aku merasa berat, harapanku yang kandas membebaniku. Apa ini yang dimaksud bibiku saat bilang aku terlalu mudah menyerah? Mungkin ada hal lain yang bisa kulakukan, tapi dalam kesengsaraan, aku tak bisa melihatnya. Namun, akhirnya benakku yang kelam disela oleh suara seseorang yang memasuki ruangan.

__ADS_1


Ternyata, aku menyadarinya beberapa saat kemudian, Bruder Akson.


“ Sang peramal bersedia menemui kalian, kalau mau,” hanya itu yang dikatakannya.


Karena tidak punya gagasan lain, aku mengangguk dan berusaha terlihat bersemangat. Lagi-lagi kami berjalan melintasi perpustakaan dan keluar. Dinding benteng menghasilkan bayangan panjang di bawah cahaya sore, dan beberapa biarawan dan biarawati duduk di bangku-bangku yang diletakkan di tempat teduh, menyiapkan sayuran untuk makan malam.


Saat kami menaiki tangga rendah yang mengarah ke kuil, aku bertanya-tanya apa yang akan kukatakan pada sang peramal, terutama untuk mengalihkan perhatianku dari kakiku yang mendadak terasa lemas. Apa sang peramal akan melaporkannya, jika aku memberitahunya bahwa aku bukan seorang ilmuwan bangsawan melainkan seorang gadis yang melakukan pencarian putus asa? Dan seandainya aku melakukannya, apa dia punya informasi yang bisa membantuku? Terlepas dari kegelisahan yang mencengkeramku, aku merasakan gelenyar semangat sungguhan saat kami masuk.


Pada siang hari cahayanya pasti terpancar tepat ke bawah, tapi sekarang cahayanya sudah berpindah seiring matahari dan hanya samar-samar menyinari sosok kaku yang duduk di atas sehelai tikar tipis di podium.

__ADS_1


Bruder Akson berhenti hanya beberapa kaki dari pintu. “ Sekarang aku akan meninggalkan kalian. Apa kalian ingin bersama-sama, atau sendirian?”


“ D—Aldorick boleh ikut denganku,” gumamku.


“ Kalian harus menghampiri dan berlutut,” ujar Bruder Akson. “ Jangan bicara sebelum dia bicara pada kalian.”


Aku mengangguk, beberapa saat kemudian Bruder Akson pergi, dan menutup pintunya pelan-pelan.


Aku dan Devan berpandangan, sama-sama tidak bergerak, dan tiba-tiba aku merasakan desakan untuk mengulurkan tangan dan meraih tangannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2