PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 83


__ADS_3

Di sebelah kanan kami terdapat beberapa bangunan yang lebih pendek dan memiliki banyak jendela, mungkin kamar para biarawati dan biarawan yang tinggal di sini, dan bangunan yang lain nyaris sama megahnya dengan kuil.


Disebelah kiri dan belakang terdapat bangunan-bangunan praktis yang biasa terdapat di komunitas mana pun—dapur, dikelilingi kebun sayuran, ruang mencuci, istal, dan semacamnya. Aku tahu orang yang tinggal di sini tidak terbiasa dengan seremoni, dan semua penghuninya, kecuali sang peramal, dituntut bisa memasak, mencuci, dan menjahit.


Di belakangnya terdapat beberapa kebun lain, lalu—aku bisa melihatnya karena tanahnya menurun ke selatan—sebuah pemakaman, dikelilingi pagar besi kecil tersendiri. Sebuah monumen yang dibangun dengan garis-garis sederhana dan anggun berdiri di bagian belakang pemakaman, paling dekat dengan benteng.


Saat sedang mengamati semua itu, seorang pemuda berjubah cokelat panjang menghampiri, wajahnya terlihat syahdu. “ Selamat datang di hadapan sang Dewa Tanpa Nama,” pria itu berkata sambil menangkupkan kedua tangan dan membungkuk. Namun, setelah berdiri tegak lagi, bibirnya menyunggingkan senyum santai. “ Namaku Bruder Akson. Ada yang bisa kami bantu?”

__ADS_1


Sambil turun dari sadel, Devan menyerahkan tali kekangnya pada seorang yang mengenakan jubah berwarna pucat , bukan cokelat. Devan mengulurkan tangan untuk membantuku turun, lalu berpaling ke Bruder Akson, dan berkata, “ Namaku Lord Aldorick, dan ini adikku , Nona Vania.” Devan terdiam sejenak, melirikku sekilas, kami sudah sepakat sebaiknya aku yang menjelaskan ‘pencarian’ kami.


Aku tersenyum, berharap Bruder Akson tidak melihat tanganku gemetar. “ Aku sedang menulis buku,” lanjutku. Kuharap suaraku terdengar santai dan cuek. “ Sebuah risalah pendidikan mengenai sejarah peramal di Siderros. Aku berharap bisa bicara dengan sang peramal, dan mungkin melihat-lihat berkas peninggalan peramal terdahulu. Perpustakaan istana memiliki berkas lengkap hingga peramal kedua puluh lima, tapi tidak banyak catatan mengenai lima peramal terakhir. Kurasa para pustakawan ragu meninggalkan kenyamanan kota demi mendapatkan berkasnya.” Aku berusaha mengedipkan mata penuh konspirasi, tapi mungkin hanya terlihat seperti sedang kelilipan.


Biarawan itu menganggukkan kepala. “ Tentu saja. Aku tak tahu apa sang peramal bisa menemui kalian secara langsung—kalian tahu kan, begitu banyak peziarah yang datang mencari petunjuknya, dan dia tak punya waktu untuk menemui semuanya. Tapi aku akan mengusahakannya, dan yang pasti kalian akan bertemu kepala biarawan di sini. Dia akan banyak membantu penelitian kalian.”


“ Apa menurutmu mereka akan mengizinkan kita menemuinya?” aku bertanya setelah memastikan tidak ada peziarah yang duduk di kamar tidur kecil ini.

__ADS_1


Devan mengedikkan kepala sambil menggigit apelnya. “ Kalau mereka mengizinkannya, apa yang akan kau lakukan? Langsung menanyakan soal ramalannya?”


Aku menekuk kedua tangan di atas pangkuan. Aku benar-benar belum punya rencana, meskipun sudah melewatkan perjalanan panjang di atas kuda dan tidak perlu melakukan apa pun selain menatap jalan. “ Entahlah,” kuakui. “ Mungkin. Tergantung.”


“Tergantung apa?


Entahlah aku hanya akan mengikuti…. firasat. Semuanya dimulai dari tempat ini. Pasti ada sesuatu, sebuah pertanda. Tapi aku bahkan tidak tahu dia peramal yang sama yang membuat ramalan mengenai Diana atau bukan.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2