
Devan tidak sungguh-sungguh menelantarkan aku. Mungkin dia hanya meremehkan kekuatan tekadku dalam masalah ini, tapi dia tidak menelantarkan aku. Manis, seharusnya ucapan Devan terdengar manis. Tetapi yang bisa kudengar di telingaku hanya suara Melani, memberitahu bahwa semua itu tidak penting, bahwa aku tidak akan pernah cukup baik untuk Devan, yidak pernah cukup baik untuk keluarganya.
Aku menggelengkan kepala, melepaskan genggaman tangannya. “ Kau benar, setidaknya mengenai semua yang sudah terjadi. Melani memang berhasil menangkapku—dia bisa saja membunuhku. Mungkin keinginanmu untuk mengancam akan meninggalkanku ada benarnya, bahkan meskipun itu hanya gertakan.
“ Tidak, aku—“
Aku menjauhi Devan, kepalaku tertunduk, tapi aku bisa melihat sakit hati yang tergambar pada setiap garis tubuhnya. “ Sebaiknya kita jangan membicarakn masalh ini sekarang, Devan. Kumohon, aku senang kau datang. Kau tak tahu betapa senangnya aku. Tapi ada masalah lain yang harus kita khawatirkan.”
Aku berpaling pada Bella yang terus menatap Puri Sare selama kami mengobrol, seakan-akan dia tidak mendengarnya sama sekali. “ Apa yang membuatmu percaya padaku?”
Bella mendengus. “ Para prajurit. Untuk apa lagi mereka mendatangi kita, kecuali kau mengatakan yang sebenarnya? Dan sang baroness ada bersama mereka. Aku melihatnya, tepat sebelum kami kabur. Sebelumnya aku pernah melihatnya, dari kejauhan, tapi dia tidak pernah mengunjungi rumahku. Jadi kupikir kau tidak segila Kedengarannya.” Bella menyeringai dan mengedikkan kepalanya ke arah Devan. “ Temanmu juga pembujuk yang sangat pintar.”
__ADS_1
Devan ikut mendengus, menggelengkan kepala, tapi aku merasa dibanjiri rasa lega saat menyadari matranya terpatahkan tepat pada saat yang kumaksudkan—setelah aku menemukan putri yang asli. Namun, kelegaan yang kurasakan segera tergantikan oleh kesadaran lainnya. Mereka sudah berteman, aku menyadari dengan kaget. Tetapi mungkin seharusnya aku tidak perlu kaget. Bagaimanapun, Devan juga berteman dengan Riana.
“ Kalau begitu kita semua sudah paham,” ujarku. “ Melani memberitahu raja sudah meninggal, dan empat hari lagi Riana akan dinobatkan.”
“ Sekarang tiga hari lagi,” sela Devan. Aku masih bisa melihat rasa sakit hati akibat sikap dinginku padanya, tapi, sesui sifatnya aslinya, Devan menyembunyikannya hungga hanya aku yang menyadarinya.
Kalau begitu selama ini aku mendapat dua jatah makan dalam satu hari, aku menghitung dengan muram sebelum melanjutkan. “ Melani bilang mereka menjauhkan Riana nyaris dari semua orang. Dia mengatakan sesuatu tentang siapa pun yang dulu gagal melukainya—ramalan dan semua itu—bisa berusaha lagi sekarang. Sebelum dia dinobatkan. Itu artinya kita hanya punya satu kesempatan untuk menemuinya dan ratu.”
Aku mengangguk. “ Tapi saat itu pun Melani pasti sudah menyusun rencana pencegahan. Anak buahnya pasti tiba di kota sebelum kita. Dia akan mengawasi kita.”
“ Jadi bagaimana kita bisa memasuki acara penobatan?” tanya Bella. “ Bukankah akan ada penjaga dan prajurit?”
__ADS_1
“ Banyak,” aku berkata muram. Aku menggigit bibir, “ Aku tak tahu bagaimana kita akan masuk. Aku akan mencari cara di perjalanan. Mungkin Paula punya ide; kita bisa pergi ke sana dulu.”
“ Kami mengikat kuda tak jauh dari sini,” ujar Devan.
“ Bukan berarti aku bisa menunggangi kudaku secepat jemari kaki sang Dewa Tanpa Nama,” ujar Bella.
Devan melambaikan tangan untuk membungkamnya. “ Apa kau sanggup melakukannya?” tanyanya padaku.
Aku tersenyum. Aku lelah dan lapar, ketakutan setengah mati memikirkan apa yang akan kami lakukan. Namun untuk sekarang, aku sudah bersama Devan lagi, bersama sahabatku, dan itu sudah cukuo memberiku kekuatan.
“ Tunjukkan jalannya, ujarku.
__ADS_1
Bersambung