PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 44


__ADS_3

Pelajaran sihir pertamaku diberikan dua hari setelah kedatanganku. Aku sedang duduk di perpustakaan, membungkuk di atas gulungan kertas tua & rapuh yang menjelaskan, dengan tulisan tangan kecil & melingkar-lingkar, penggunaan tanaman herbal Thorvaldor dalam sihir. Aku ditugaskan untuk menyalin informasinya di atas jurnal kosong, tapi prosesnya tidak mudah. Tulisan tangannya lumayan kecil, & bahasanya cukup kuno, hingga aku merasa sakit kepala mulai terbentuk di antara alisku saat pintu menuju koridor terbuka di belakangku.


Aku terlonjak & nyaris menghantam gulungan kertas dengan siku, yang sudah bisa dipastikan setidaknya akan menyebabkan sebagian kertasnya hancur menjadi debu. Aku nyaris tak punya waktu untuk menenangkan diri sebelum Paula berdiri di hadapanku.


“ Aku berniat untuk menyuruh Breta, tapi kupikir jika aku memanggilnya ke ruang kerja agak sulit, semua pelayanku takut ke ruang kerjaku, aku tidak tahu kenapa & memberitahu apa yang kubutuhkan, lebih mudah kalau aku melakukannya sendiri.”


Paula tiba-tiba terdiam menunggu, & aku tersadar bahwa aku harus menanggapinya.


“ Kau berniat menyuruh Breta untuk….” Aku berkata ragu.

__ADS_1


“ Untuk memanggilmu,” Paula menjawab seakan-akan itu sudah sangat jelas.


“ Oh!” aku mendorong kursi dengan berisik & berdiri secepat mungkin. “ Apa kau membutuhkan aku?”


“ Kupikir kita bisa mulai pelajaranmu. Tapi lebih baik kita memulainya di ruang kerjaku . Sepertinya aku bisa kesal kalau kau membakar buku-buku yang ada di sini, bahkan meskipun setengahnya sudah terlalu tua untuk di baca.”


Setelah mengatakannya, Paula berbalik & keluar dari perpustakaan tanpa melirik sedikit pun untuk memastikan aku mengikutinya.


Aku cukup yakin dulunya ruangan ini digunakan sebagai kamar tidur utama. Namun, Paula sepertinya tidur di kamar yang lain, karena di sini tidak ada ruang untuk menampung dipan kecil sekali pun. Buku memenuhi berbagai meja & bangku, begitu pula dengan tabung-tabung kaca, lumpang & ulek berbagai ukuran, & mangkuk-mangkuk berpantat tebal. Tanaman kering tergantung dari langit-langit, sebuah alat tenun dengan tenunan setengah jadi berdiri di sudut ruangan, & peralatan yang kelihatannya digunakan untuk menempa perak tergeletak begitu saja di atas meja, dikelilingi kalung-kalung yang sudah jadi maupun bagian yang masih terpotong-potong.

__ADS_1


Sebuah cermin besar terpasang di dinding utara, tapi nyaris mustahil melihat bayangan dirimu di sana karena permukaannya tertutup banyak simbol yang ditulis menggunakan cat berwarna merah.


Dua pintu terbuka & memperlihatkan sebuah balkon kecil yang bisa dipastikan menghadap ke taman kecil berbenteng di belakang rumah. Balkonnya dipenuhi pot berisi tanaman herbal & bunga. Ruangan ini berbau tajam aneh, tapi sedikit berbau hangus juga, seakan-akan ada yang dibakar secara teratur di sini.


“ Masuklah, masuklah,” Paula memanggil dari belakang salah satu meja. Dia mendorong beberapa buku dari sebuah bangku & mengisyaratkan aku agar menghampirinya.


“ Nah,” ujarnya saat aku duduk dengan gugup, “ apa yang kauketahui soal sihir?”


“ Hanya tahu bahwa aku memilikinya,” jawabku tanpa berpikir.

__ADS_1


“ Selain itu, hanya pengetahuan yang diketahui semua orang.” Itu tudak benar, karena di istana aku menghabiskan banyak waktu untuk membaca soal sihir, tapi aku tidak mau memberi kesan yang salah mengenai pengetahuanku di hadapan Paula.


Bersambung


__ADS_2