
Aku tersadar sedang mengusap bekas tanda lahirku dulu berada, dan cepat-cepat menarik tanganku. Diam-diam aku penasaran apa arti tiga huruf rune terakhir, karena pesannya sudah cukup jelas tanpa mengetahui arti huruf-huruf itu. Mungkin itu hanya nama penyihir yang menciptakan pintu, semacam tanda tangan. Aku sudah menyadari bahwa penyihir, bahkan Paula, sering kali bersikap sombong, dan tidak aneh jika seseorang ingin mengabadikan namanya dalam dokumen seperti ini.
Tanganku berkelana ke atas lengan lagi. Kali ini aku mencubitnya sangat keras hingga kulitku memutih lalu kemerahan, dan air mata mulai menggenangi mataku. Hentikan, kau hanya kecewa karena tidak akan pernah bisa melihatnya. Tapi kau memang tidak akan pernah bisa melihatnya. Sekarang pun tidak ada bedanya. Dan ini memunculkan pertanyaan yang tadi menggangguku di kamar tadi sore; apa yang kulakukan dengan peta ini?
Aku harus mengembalikannya. Itu jalan yang benar, hal yang seharusnya dilakukan. Aku bisa memberikannya pada Devan dan dia bisa menyelipkannya ke perpustakaan dengan mudah. Devan bahkan bisa berpura-pura menemukannya agar petanya bisa disimpan seperti yang seharusnya selama ini.
Tidak akan ada yang tahu Devan pernah memberikannya padaku. Aku membiarkan jemariku membelai tepian peta. Ya, seharusnya berada di istana, bersama keluarga yang menjadi tujuan diciptakannya peta ini. Bahkan meskipun Devan memberikannya padaku sebagai hadiah, sebagai sesuatu yang menjembatani jarak di antara dua diriku yang berbeda. Meskipun begitu, aku tidak mungkin mengembalikannya tanpa pamer sedikit pada Devan bahwa aku sudah berhasil memecahkan misterinya.
__ADS_1
Aku memundurkan kursi, aku sudah memutuskan. Membaca hasil terjemahanku berhasil menghilangkan kelelahan yang kurasakan malam ini, hingga anehnya aku merasa pikiranku jernih dan tungkai-tungkaiku berdengung akibat energi yang tertahan. Aku menyingkirkan buku-buku yang kukeluarkan dari rak, merapikan helaian kertas dan catatanku, dan menggulung petanya, lalu mengikatnya dengan longgar menggunakan sehelai pita. Kemudian, tanpa mengetahui alasannya, aku keluar dari rumah Paula dan menuju istana.
Pagi belum merekah di langit gelap, tapi aku merasakan tanda-tanda datangnya udara hangat saat menyusuri jalanan G, Peta Raja Ardan ada dalam genggamanku. Aku berjalan cepat, tidak tahu mengapa aku berjalan secepat ini, sama halnya aku tidak tahu mengapa sekarang aku merasa terdorong untuk mengunjungi istana.
Bagaimanapun, aku bisa mencari Devan setelah matahari tetbit, dan sekarang kemungkinan besar para penjaga istana akan mengusirku karena datang terlalu pagi. Meskipun begitu, aku terus berjalan, seakan-akan sang Dewa Tanpa Nama meletakkan tangannya pada tubuhku dan mendorongku maju.
Hari masih gelap, dan para penjaga lelah setelah melewati malam yang panjang. Keduanya tidak mengenaliku, baik sebagai si putri palsu maupun sebagai penyalin yang sesekali mencari Devan. “ Tak bisa menunggu sampai waktu yang lebih pantas, ya?”
__ADS_1
penjaga di sebelah kanan bertanya.
“ Seandainya bisa, apa aku akan ada di sini sekarang ?” tanyaku.
“ Kurasa tidak. Dasar penyihir,” pria itu berguman pada rekannya. “ Untung aku tak bekerja untuk penyihir.”
Bersambung
__ADS_1