
Bella mencibir sambil menggelengkan kepala. “ Dan siapa yang punya kekuatan semacam itu?”
Ada sesuatu yang membuatku tidak ingin menyebutkan namanya ; seakan-akan aku takut, dengan menyebut namanya, aku bisa memanggilnya ke hadapan kami. Namun jika ingin membuat Bella percaya padaku, aku harus melakukannya. “ Melani Enderson,” bisikku.
Nama itu membuat Bella tersentak kaget. “ Sang baroness? Dialah yang melakukan semua ini?”
Aku mengangguk sepenuh hati. “ Kumohon, izinkan aku menceritakannya padamu.”
Sejenak, kupikir Bella akan menolakku. Namun, kemudian dia mengulurkan kakinya ke depan. “ Silahkan,” Bella berkata hambar. “ Aku butuh kisah menarik.”
Malam sudah sepenuhnya turun saat aku selesai bercerita, dan aku sudah menghabiskan satu cangkir tambahan berisi teh encer yang dipetik dari hutan. Bella duduk sambil mengorek-ngorek api kecil. Akhirnya, Bella berkata tanpa menatapku,
__ADS_1
“ Kau seorang pendongeng yang hebat, tapi aku membutuhkan usaha keras untuk memercayaimu. Maksudku, sebuah rencana berumur enam belas tahun yang hanya diketahui olehmu dan temanmu. Berbagai mantra, penukaran bayi, dan pembunuhan raja. Kedengarannya seperti karangan seorang penyair.”
“ Ini benar,” aku berkata lelah. “ Aku melihat sendiri pengakuan sang peramal. Melani berusaha membunuhku menggunakan sihir—dengan cara mengirim badai, atau setidaknya menakutiku agar tutup mulut. Raja sedang sakit dan tidak ada seorang pun, tak seorang penyihir dan dokter di Vivaskari pun, bisa menyembuhkannya. Tidak lama lagi dia akan wafat, lalu Riana akan dinobatkan menjadi ratu. Di atas tahtamu. Demi Dewa, Bella, aku bersumpah aku mengatakan hal yang sebenarnya.”
Salah satu mulut Bella terangkat. “ Kuharap kau benar. Itu akan berarti banyak, membayangkan aku tidak sungguh-sungguh terlahir miskin. Tapi aku tak tahu apa-apa soal menjadi putri. Bahkan meskipun kau membawaku ke istana dan memperlihatkanku pada mereka—jika kita tidak terbunuh di perjalanan—mereka takkan percaya padamu.”
“ Mereka pasti percaya. Kau kepingan puzzle yang terakhir,” aku berkeras, tapi hatiku dirayapi sedikit rasa ragu saat mendengar ucapannya. Bagaimana jika Bella benar? Bagaimana jika, bahkan dengan putri yang asli di sampingku, tidak ada yang memercayaiku? Bagaimana pun, memangnya siapa aku? Hanya si putri palsu, seorang putri penenun yang sudah meninggal, dan penyalin yang bekerja untuk seorang penyihir nyentrik.
“ Aku tak bisa—“ ujar Bella, lalu terdiam. “ Apa kau mendengar sesuatu?”
“ Apa?” tanyaku.
__ADS_1
Bella berdiri, sambil menggenggam penyodok api. “ Kupikir aku mendengar sesuatu di luar.”
“ Aku tak mendengar apa pun,” ujarku, tapi kemudian aku mendengarnya. Dentingan logam dan dengusan seekor kuda. Kemudian geraman pelan suara seorang pria, disusul oleh beberapa langkah kaki yang bergerak maju.
“ Bella,” bisikku. “ Kedengarannya suara pria—banyak pria.”
“ Mungkin kedatangan mereka bukan untuk melukai kita,” ujar Bella, dengan mata tertuju ke pintu. Tetapi aku tahu dia tidak memercayainya. Bella memperlihatkan ekspresi seekor hewan yang terpojok, siap untuk melawan atau berusaha melarikan diri. Dari sikap tubuhnya, aku tahu ini bukan pertama kalinya dia merasa seperti ini, tapi matanya yang terbelalak lebar bisa diartikan ini yang terburuk.
Kami tidak bisa diam saja dan menunggu mereka masuk dan menyerang. Dan tidak ada jalan keluar yang lain, bahkan jendela kecil di belakang rumah pun tidak ada. “ Mungkin mereka belum siap. Kita bisa mendobrak pintu, berusaha kabur. Kita bisa mengejutkan mereka.”
Bersambung
__ADS_1