PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 79


__ADS_3

Sebuah ruangan berbentuk cekung dengan undakan bangku batu, semuanya mengarah pada sebuah panggung kecil tempat sang penyihir berbicara. Para penyihir duduk berpencar di seluruh penjuru ruangan, sebagian besar merupakan Novis berjubah hijau, dan beberapa jubah biru dan ungu—jubah yang di gunakan di kampus penyihir sesuai dengan tingkat kesenioran para penyihir.


Kami memilih sebuah tempat di tengah ruangan, dekat seorang pria botak yang kukenali sebagai salah seorang penyihir yang sudah mengunjungi Paula.


“ Omar tak ada di sini ?” Paula bertanya pada pria itu setelah kami duduk. Karena tidak menyangka akan mendengar namanya, aku nyaris terjatuh dari bangku saking kagetnya. “ Sayang sekali, kupikir dia punya kesepakatan dengan Leonidas. Salah seorang anak buahnya yang lemah dan malang. Meskipun begitu, kupikir dia akan datang untuk mendukungnya.”


“ Apa kau belum dengar?” jawab pria itu, dan aku ingat pria ini bernama Arsen Elver. “ Omar pergi. Dia keluar kota tadi pagi, pergi ke pedesaan untuk mencari udara segar. Dia bilang akan tinggal di sana setidaknya sampai musim gugur.” Arsen menggelengkan kepala. “ Kubilang padanya, tenpo hari, dia kelihatan tegang. Dan sekarang aku mendengar rumor soal demam nadi merah…”

__ADS_1


Aku sudah tidak mendengarkan, benakku berputar kencang. Omar pergi, dan baru tadi pagi?


Paula menggelengkan kepala, wajahnya terlihat kaget. “ Aku nyaris tidak memercayainnya,” ujarnya. “ Dia tidak bilang apa-apa padaku, dasar pria keras kepala, dan aku baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Aku sedang mengerjakan beberapa ramuan, dan mungkin saja membantu.”


Arsen mengangguk, tapi tepat pada saat itu ada seorang pria duduk di sampingnya dan dia pun berbalik untuk menyapa pendatang baru itu. Setelah perhatian Arsen teralihkan, aku bertanya, berusaha agar suaraku tidak terdengar gelisah, “ Tapi bagaimana nasib eksperimennya?”


Paula mendengus. “ Eksperimen? Omar? Sudah bertahun-tahun dia tidak mengerjakan eksperimen praktik. Kurasa tugas administratif membuatnya tidak sempat melakukannya, dan lagi pula sejak dulu dia memang tipe yang lebih pemikir. Semua terobosannya selalu… tidak bisa disentuh, lebih condong pada teori. Dia tidak meninggalkan kuali yang mendidih maupun bulu unggas hangus.”

__ADS_1


“ Itu bagus, sungguh,” aku berhasil berkata. “ Maksudku, bisa jadi ada yang memasuki ruangannya, saat dia pergi, dan mengacaukan eksperimennya. Maksudku, tidak sengaja.”


Paula melambaikan tangan ke udara. “ Oh, ruangannya pasti dijaga oleh mantra-mantra kuat. Penyihir penting mana pun tidak akan meninggalkan ruangannya dalam keadaan terbuka di sebuah kampus yang dipenuhi makhluk-makhluk muda usil. Takkan ada yang bisa memasuki ruangan Omar.


Omar pasti memasang mantra-mantra yang sulit diterobos seorang Master. Meskipun begitu, kuharap dia mengabariku. Mungkin aku harus pergi mengunjunginya, membawa beberapa ramuan baru, kalau kita bisa memperbaiki… kekurangannya…”


Leonidas, penyihir yang memberikan kuliah, menaiki panggung di bawah kami. Saat hadirin mulai tenang, aku merasa harapanku sirna. Sekarang kami takkan bisa memasuki ruangan Omar. Seandainya Omar ada di sini, datang dan pergi, mungkin kami punya kesempatan. Mungkin suatu sore dia lupa memasang mantra pelindungnya, atau suatu hari lupa mengunci pintu. Namun, sekarang ruangannya dikunci dan akan tetap terkunci sampai dia kembali pada musim gugur.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2