
Pada hari berikutnya, Aku berhasil mengacaukan mantra pencari yang diajarkan Paula padaku dengan cukup buruk hingga, alih-alih menemukan jarum yang diletakkannya di meja, aku malah menarik semua laci hingga menghantam dinding.
“ Kau tidak konsentrasi,” bentak Paula sambil menunjuk laci agar kembali ke tempat semula. “ Kau hanya membayangkan jarumnya saja, bukan yang lain.”
“ Aku tahu, aku tahu,” gumanku saat duduk merosot di atas bangku. “ Aku hanya….” Aku sedang memikirkan Devan, apakah dia sedang mengobrol dengan Diana. Saat itu sore hari, waktunya para bangsawan istana mencari kesejukan di dalam ruangan sebelum makan malam. Aku merasa terkuras, lelah & pemarah seperti seekor kucing basah, & emosi lainnya. Emosi yang mengingatkanku, meskipun aku ingin menyangkalnya, pada rasa cemburu. “ Aku akan melakukannya lebih baik lagi,” janjiku.
__ADS_1
“ Tidak, kurasa sudah cukup pelajaranku kacau balau sehari ini, atau bahkan mungkin lima hari, “ Paula berkata sambil menggelengkan kepala. “ Ada apoteker… pria asing, sangat tinggi… di distrik penyihir yang berjanji akan memesankan biji ara darah Farvasee, seharusnya sekarang sudah ada. Aku ingin satu stoples penuh, atau sebanyak mungkin yang bisa diberikannya.” Setelah menyingkirkan tengkorak kelinci & palet cat, Paula menemukan sebuah stoples kosong & menyerahkannya padaku, bersama segenggam koin.
Aku mengangguk & beranjak menuju pintu. “ Maafkan aku,” ujarku dari balik pundak sebelum membuka pintu.
“ Ingat ucapanku mengenai burung gagak,” dengus Paula.
__ADS_1
Pada saat itu aku melihat pria itu. Pria kurus, dengan rambut panjang berwarna cokelat, wajah yang sedikit terlihat muram, mengenakan celana ketat cokelat & tunik biasa. Bukan orang yang akan membuatmu berpaling untuk menatapnya. Dia sedang menggosok biral logam yang memagari tangga menuju rumah di seberang rumah Paula, pakaiannya dikotori pernis. Aku tidak akan menyadari keberadaannya, tapi gerakannya yang tiba-tiba tertangkap mataku saat aku membungkuk untuk mengikat tali sepatu. Pria itu berhenti, tepat saat aku berhenti, & tidak bergerak sampai aku berdiri & berjalan lagi.
Jangan konyol, aku berkata dalam hati. Ini hanya kebetulan. Tetapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan merinding pada kulit kepalaku, & aku berhasil mengintip ke belakang setelah berbelok dua kali.
Pria itu mengikutiku. Dia berjalan setengah blok di belakangku, matanya tidak tertuju padaku. Pria itu terlihat seperti pria lainnya yang dipekerjakan selama sehari di salah satu rumah saudagar, dalam perjalanan menuju pekerjaan berikutnya. Tetapi dia berbelok di jalan yang sama denganku, & tidak pernah tertinggal lebih dari setengah blok.
__ADS_1
Sekarang jantungku berdebar kencang, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Apa sebaiknya aku kembali ke rumah Paula saja? Tetapi Paula mungkin tidak akan memercayaiku, mengingat sikapku yang aneh selama beberapa hari terakhir. Apa sebaiknya aku memanggil seorang penjaga kota? Tidak, penjaga jelas-jelas tidak akan memercayaiku, karena aku yakin pria itu akan menghilang sebelum aku selesai menarik napas. Sisi pengkhianat di dalam diriku ingin menjentikkan jemari, memanggil bola pesan, & mengirimnya langsung pada Devan, tapi bahkan dalam ketakutan pun aku tidak sanggup memaksa diriku melakukannya.
Bersambung