
Aku sudah mengorbankan banyak hal demi menemukan Bella, melintasi bahaya yang sebelumnya tidak kusadari sanggup kuhadapi. Aku menempatkan Bella dan Devan dalam bahaya, dan kami nyaris tidak berhasil selamat. Jika tertangkap sekarang, dan membiarkan semuanya sia-sia…. memikirkannya saja aku tidak sanggup. Tetapi Paula menerimaku saat aku sendirian. Dia percaya padaku saat kampus penyihir menolakku. Paula temanku, keluargaku, dan terluka, dan aku tidak bisa pergi.
“ Dia pasti ingin kita pergi!” sanggah Devan.
“ Aku tak bisa—“ seruku, tapi sudah terlambat. Kedua pria itu melangkah ke koridor lantai dua dan melihat kami.
“ Sepertinya kau benar,” pria bertubuh tinggi berkata pada pria lainnya. “ Dua ekor burung pipit, dan seekor burung kakaktua yang membawa pedang untuk melindungi mereka.”
Pri kedua tersenyum, makhluk jelek dengan tatapan mengerling. “ Kemarilah, burung pipit,” panggilnya. “ Kami takkan menyakitimu—sedikit saja.”
__ADS_1
“ Mundur!” aku berteriak, lalu, sambil meraih sihirku dalam-dalam, berusaha menggunakan sebuah mantra yang memungkinkanku untuk melempar bola api ke lantai dekat kaki mereka.
Aku tidak bisa melakukannya. Bola api meetup-letup di tanganku, lalu padam.
“ Kau tidak terlihat hebat melakukannya, ya kan, burung pipit?” Pria pertama menggoyangkan pisaunya pada kami sambil melintasi koridor.
Sambil menghela napas, aku mencoba lagi, dan kali ini bola apinya menyala di antara ke dua tanganku. Aku melemparnya ke arah mereka, lalu mengulurkan lengan, berusaha mendorong Devan dan Bella menjauhi ledakan.
Pria kedua menyeringai lagi. “ Benteng sihir, sayang,” pria itu berkata. “ Benteng sihir yang sangat kuat. ‘ Penyihir yang di sana—pria itu mengedikkan kepala ke arah ruang kerja Paula—‘ mantranya juga tidak berguna.”
__ADS_1
“ Lari,” bisikku. Lalu lebih lantang, “ Lari!”
Aku dan Bella langsung berbalik saat itu juga, berlari melintasi koridor menuju tangga pelayan. Aku mendengar suara terkesiap, sebuah belati yang berkelontang jatuh ke lantai, dan saat berbalik aku melihat salah seorang pria kekar itu memegangi lengannya sedangkan pria lainnya menatapnya dengan ngeri. Devan menyunggingkan seringai lebar saat berbalik dan mengikuti kami.
Devan mengejutkan mereka; kelihatannya mereka preman jalanan dan tidak menduga seorang bangsawan seperti Devan sungguh-sungguh tahu cara berkelahi. Namun mereka profesional, dan saat kami tiba di tangga aku mendengar mereka mengejar. Kami hampir jatuh dari tangga saat berlari melintasi koridor dan menghambur keluar dari pintu belakang menuju taman berbenteng. Sambil berlari Devan membanting pintu, dan aku mendengar pintunya menghantam salah seorang dari mereka. Kami berlari keluar dari pintu taman menyusuri gang menuju jalan.
“ Benteng timur laut,” aku berkata terengah-engah pada Devan. “ Mana jalan tercepat ke sana?”
“ Ikuti aku,” Devan berteriak, dan kami menerobos masuk ke tengah kerumunan yang bergerak menuju istana untuk menunggu pengumuman bahwa sang putri sudah dinobatkan.
__ADS_1
Aku tidak tahu para pria yang mengejar kami tertinggal sejauh apa, jadi kami berlari seakan-akan mereka hanya beberapa langkah di belakang kami. Baru melintasi beberapa blok saja pinggangku sudah sakit, dan aku bisa mendengar Bella terengah-engah di sampingku. Keringat menetes di sisi wajahku, dan setidaknya satu kali aku mendengar tepian gaunku robek. Selain memperlambat kami di tengah-tengah massa yang berduyun-duyun di jalanan.
Bersambung