
Aku tidak sempat bicara lebih banyak, karena tepat pada saat itu Bruder Akson membuka pintu dan memanggil kami. “ Kalian beruntung karena datang pada hari yang sepi seperti ini,” ujarnya. “ Kepala Biara bisa menemui kalian sekarang.”
Bruder Akson membawa kami menuju bangunan besar yang tidak kukenali, sambil menyapa para pria dan wanita berjubah yang berpapasan dengan kami. Wajah mereka memperlihatkan ekspresi damai, benar-benar terasa janggal dengan ketegangan yang kurasakan pada wajahku.
Devan mengobrol dengan Bruder Akson, tapi aku tidak memperhatikan percakapan mereka. Namun, saat Devan diam-diam menyodokku dengan sikunya, aku mendengarnya berkata, “ Nah, kauharus mengingatkanku. Aku tahu adikku pernah memberitahuku—mungkin sebanyak lima kali—tapi aku benar-benar tidak ingat peramal yang ini sudah melayani berapa lama.”
“ Lima belas tahun,” Bruder Akson berkata ramah.
__ADS_1
“ Tentu saja, tentu saja,” Devan menjawab saat langkahku terhenti. Lima belas tahun. Jadi bukan dia yang membuat ramalannya. Itu artinya informasi apa pun yang kutemukan pasti berasal dari tempat ini. Tapi di mana?
“ Tenang,” bisik Devan saat kami memasuki bangunan dan Bruder Akson berjalan mendahului untuk menunjukkan jalannya. Saat melirik Devan, aku melihat sebuah senyuman mengangkat sudut-sudut mulutnya. “ Bagaimana mungkin kau merasa gugup? Apa kau tidak menyadarinya? Kita ada di perpustakaan.”
Yang memalukan, simpul di dalam perutku sedikit mengendur saat menghirup aroma dan rasanya sangat akrab, bau dari begitu banyak buku di dalam satu ruangan, dan itu membuatku tenang. Saat Bruder Akson membawa kami melewati beberapa ruang luas berisi buku dan rak setinggi langit-langit, mau tidak mau langkahku sedikit melambat untuk melihat ke dalam. Sebagian besar ruangan berisi meja, dan di sana para biarawan dan biarawati sedang duduk dengan berbagai buku dan gulungan terhampar di hadapan mereka.
Sang kepala biarawan, Bruder Santo, adalah seorang pria tua, rambut kelabunya mengikal di sekitar telinga dan kerutan dalam menghiasi wajahnya. Meskipun begitu, pria itu berdiri tegak, dan aku bisa melihat otot-otot pada lengan atasnya tidak mengendur seiring usinya.
__ADS_1
“ Selamat datang,” ujarnya sambil tersenyum pada kami. “ Jadi, Bruder Akson bilang kau sedang menulis sebuah buku mengenai peramal, dan kau ingin melihat catatan hidup mereka.”
Aku mengangguk, dan pria itu terlihat senang. “ Kurasa itu hal yang baik, seseorang semuda kalian memiliki minat mengenai peramal. Meskipun kalian dipersilahkan untuk mencari koleksi lainnya, kurasa bahan yang paling membantu kalian berada di sini.”
Salah satu tangannya menghilang ke balik jubah, dan dari sana dia mengeluarkan serenceng kunci, banyak dan gemerincing. Bruder Santo memasukkan sebuah kunci panjang ke dalam lubang kunci sebuah pintu, memutar dan membawa kami masuk kedalamnya.
Ruangan ini tidak terbuka dan lapang seperti ruang-ruang lainnya di perpustakaan. Ruangannya kecil dan agak gelap, hanya diterangi lampu-lampu yang diletakkan pada jarak tertentu yang cepat-cepat dinyalakan oleh Bruder Santo, aku menyadari hanya ada satu dinding yang berisi buku, dan buku-bukunya tipis, masing-masing bersampul merah. Di dinding tengah terdapat sebuah lemari yang terbuat dari kayu hitam dan memiliki lubang kunci perak.
__ADS_1
Bersambung