
Kemudian Diana berbalik dan hampir tiba di jalan saat aku teringat sesuatu. “ Tunggu!” aku berteriak. Diana berpaling menatapku, secepat dan semulus gerakan seekor rusa, “ Siapa namamu, dulu?”
“ Riana,” ujarnya “ Dulu namaku Riana.”
Aku memiringkan kepala. Riana. Dia menatapku beberapa saat lagi, lalu aku pun sendirian di samping patung, air hujan menetes-netes pada wajahku.
Aku sudah kembali ke rumah Paula saat teringat bahwa aku tidak bertanya pada Diana apakah dia yang mengirim pria berpakaian cokelat, maupun terpikir untuk mewaspadainya dalam perjalanan pulang.
Setibanya di rumah aku menceritakannya pada Paula. Tidak semuanya, atau bahkan sebagian besar pun tidak, yang sama sekali tidak kuceritakan adalah pria yang mengikutiku. Aku hanya bilang bertemu Diana di jalan dan kami mengobrol. Namun, aku bertanya soal tarikan yang kurasakan tepat sebelum melihat Diana, sensasi di tarik ke arahnya.
__ADS_1
“ Aku berdiri di sana, di luar toko, lalu aku merasa seperti harus menengok ke arahnya. Aku bahkan tidak tahu ada seseorang yang berdiri di sana, tapi aku tetap melirik ke sana. Rasanya seperti….” Aku menggelengkan kepala, mencari-cari perbandingan.
“ Seperti ada tali di antara kami, menarik kami mendekat.”
Paula terdiam, ulekannya bertumpu di tepi mangkuk kecil yang di hadapannya. “ Apa sang putri merasakan hal yang sama? Apa dia mengatakan sesuatu soal itu atau, lebih tepatnya, apa kau menanyakan hal itu padanya?”
“ Tidak,” kuakui. “ Aku terkejut melihatnya, dan aku melupakannya.”
Tapak-tapak kecil rasa takut bermain-main di tulang punggungku. “ Sebuah mantra?” tanyaku. “ Menurutmu itu sebuh mantra?”
__ADS_1
Paula mengintip isi mangkuk, lalu menyodorkannya ke arahku. “ Apa menurutmu biji-biji ini bisa di tumbuk lebih halus lagi ? Menurutku tidak, bagiku sudah agak lumat… tapi, bagaimanapun, tak ada salahnya memeriksanya lagi.”
Saat aku menyetujui pendapatnya, Paula merenggut kembali mangkuknya dan meletakkan uleknya. “ Ya, kurasa itu sebuah mantra, atau tepatnya, efek dari sebuah mantra. Mantra yang dulu membuatmu terlihat seperti sang putri, menurut pangamatanku, bisa dibilang memindahkan sebagian kecil inti sari sang putri. Mereka mengambil sedikit jiwanya, aku tidak tahu istilah yang lebih sesuai, dan memindahkannya padamu. Mereka menggunakannya untuk menutupi inti sarimu sendiri sehingga, di mata penyihir yang mengamatinya, kau akan terlihat seperti sang putri.
Tentu saja keadaan memberi mereka kemudahan, karena siapa yang pernah terpikir untuk mencari orang lain yang bersembunyi, apalagi, di balik kulit sang putri ?” Paula mengerutkan alis dan bersedekap. “ Nah, karena yang mereka ambil hanya sebagian kecil jiwanya, mantranya sangat kuat. Mantra itu membuatmu terlihat sebagai sang putri dari sudut pandang mana pun, bahkan mendesak sihirmu sangat dalam hingga baru berhasil kembali lama setelah mantranya dipatahkan. Kurasa…. meskipun, tentu saja, bisa saja aku salah, kau akan selalu merasakan… gelombang itu saat berada di dekat Diana.”
“ Di dalam diriku ada bagian dirinya?” tanyaku.
Paula menggelengkan kepalanya dengan singkat, entah menandakan ya atau tidak. “ Seperti yang tadi kubilang, itu hanya sebuah teori. Aku berusaha menanyakannya pada Omar, kubilang penasaranku profesional…. tapi dia tidak mau memberitahuku apa-apa. Bagaimanapun, itu hanya sebuah teori, jadi mungkin bukan yang sebenarnya, tapi kurasa memang benar. Bahkan seakan-akan mereka tidak berhasil mengeluarkan semua bagian jiwanya, karena kau merasa ditarik pada yang asli. Seakan-akan mereka tidak sengaja meninggalkan sedikit bagian Diana di dalam dirimu.”
__ADS_1
Bersambung