
Kamarku, sejujurnya, tidak terlalu berantakan ; aku hanya membutuhkan waktu singkat untuk merapikan meja. Namun, selama proses pembersihan, aku menemukan sepasang sarung tangan yang terjatuh ke belakang meja. Bukan sarung tangan yang sering kupakai dan kubeli untuk membantu Paula mengumpulkan tanaman, tapi sepasang sarung tangan kulit untuk bepergian yang kupakai saat meninggalkan istana.
Aku memungutnya, akhirnya ingat aku mengeluarkannya beberapa minggu yang lalu untuk melakukan perjalanan singkat ke luar kota bersama Paula. Namun, Paula membatalkannya pada menit-menit terakhir, dan aku pasti menaruhnya ke atas meja, lalu menjatuhkannya tanpa sadar. Sambil mengedikkan bahu, aku membuka peti yang masih berisi barang-barang yang kubawa dari istana, dan mulai merapikannya. Saat melakukannya, mataku tertumbuk pada sebuah gulungan kain yang tergeletak ringan di atas gaun yang terlipat.
Peta pintu raja Ardan. Aku belum memikirkannya lagi sejak kembali ke kota. Sekarang aku merasakan sengatan rasa bersalah saat mengangkatnya dengan hati-hati dan menghamparkannya di atas meja yang bersih. Peta ini bukan milikku, sejak dulu juga bukan. Aku harus mengembalikannya ke istana, di mana tersedia tempat yang aman untuk menyimpannya, di suatu tempat selain ceruk perpustakaan yang tidak terpakai dan bisa ditemukan anak-anak.
__ADS_1
Sengatannya terus meningkat, berdenyut-denyut di dadaku saat rasa sesal bergabung dengan rasa bersalah. Pasti menyenangkan sekali, batinku, jika kami berhasil menemukan pintu itu. Aku membiarkan jariku meluncur di atas permukaan peta, berniat menggulungnya lagi, tapi tepat pada saat itu sesuatu terjadi.
Aku membaca sebuah kata, salah satu huruf rune yang tidak bisa diterjemahkan, yang tertulis di bagian dibawah peta. Sangat lama aku tidak bisa bernapas hingga, saat menyadarinya, aku mengap-mengap mencari udara dan akhirnya batuk gila-gilaan. Setelah berhasil mengendalikan diri lagi, barulah aku berani menatap huruf rune itu lagi.
Itu bahasa penyihir. Sesuatu yang tidak pernah kupelajari saat menjadi putri, sesuatu yang bahkan jarang digunakan lagi oleh para penyihir. Dan huruf-huruf ini bahkan bukan bentuk terbaru dari bahasa yang diharuskan Paula untuk kupelajari, tapi persi yang lebih kuno, dengan lekukan keriting pada ujung beberapa simbol dan sesuatu yang tampaknya merupakan bentuk sungkatan dari beberapa simbol lainnya. Meskipun begitu, setidaknya aku bisa membaca setiap kata ketiga, sambil membungkuk di atas meja di kamarku.
__ADS_1
Apa tebakan Devan pada hari terakhir kami di taman? Bahwa huruf rune ini mungkin sebuah kode, atau sebuah bahasa sihir? Kelihatannya, di luar dugaan, Devan memang benar.
Tanganku mencengkeram meja dengan sangat kuat hingga buku jariku memutih. Terlalu banyak kata yang tidak kuketahui, atau kata yang bentuknya sangat berbeda dengan versi terbarunya hingga aku tidak mengenalinya. Dan ada beberapa kata di bagian paling akhir yang belum pernah kulihat dalam bentuk apa pun.
Namun, aku menyadari saat sebuah seringai terbentang di wajahku, aku punya perpustakaan seorang penyihir di lantai bawah, dipenuhi hingga hampir meledak oleh buku-buku mantra dan teori sihir, bahkan risalah mengenai berbagai bentuk bahasa penyihir.
__ADS_1
Kalimat, batinku dengan lelah. Bisa artinya ini kalimat. Atau ikan. Mataku terpicing pada huruf rune di atas peta lagi, aku mengalihkan tatapanku pada buku terbuka yang berada di atas setumpuk buku yang sama tebalnya. Kenapa seseorang menciptakan huruf rune yang berarti kalimat dan ikan dengan bentuk yang terlihat sangat mirip? Aku bertanya-tanya. Apa mereka berusaha membuat sebuah lelucon?
Bersambung