PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 122


__ADS_3

“ Seperti apa?” ujarku dengan ketus. “ Selama menunggu, aku sudah membayangkan apa yang akan kaukatakan saat datang menemuiku, tapi semua kalimat yang sudah kupersiapkan dengan seksama sepertinya menghilang dan menjauh. Aku merasa sedikit bersemangat, gegabah, tanpa khawatir kehilangan apa pun. “ Kau mengkhianati Thorvaldor—kau mengkhianati raja dan ratu.


Lagi-lagi, kedikan bahu itu, dengan kepala yang sedikit tertunduk. “ Pengkhianatan adalah kata yang kasar. Aku lebih suka menganggapnya sebagai memperbaiki lesalahan masa lalu.”


“ Tidak, kau hanya melakukan keahlian keluargamu. Bertahun-tahun yang lalu leluhurmu mengkhianati saudara perempuannya. Dia berusaha merebut tahtanya, sama seperti yang kaulakukan sekarang.”


“ Tapi apakah perbuatannya salah?” jawab Melani. “ Bagaimanapun, mereka kembar. Dan dari sudut mana pun, Luisa adalah seorang ratu yang lemah, dan sebenarnya agak bodoh.”


“ Itu tahtanya,” aku berkeras. “ Kalau beranggapan Luisa tidak bisa memerintah dengan baik, dia bisa menawarkan nasihat padanya, membantunya menjadi ratu yang lebih baik. Bukan berusaha menggulingkannya.”

__ADS_1


“ Seperti yang seharusnya kulakukan? Menawarkan nasihat kepada raja dan membiarkan putriku mewarisi sebuah gelar baron kecil padahal dia punya darah kerajaan sebanyak yang dimiliki Dianamu?”


“ Ya,” geramku, kedua tanganku terkepal di pangkuan. “ Ya, daripada yang kaulakukan sekarang.” Aku merasa wajahku tertekuk galak saat menatap Melani. “ Kau menumbangkan sang peramal di Siderros, lalu membunuh saudara perempuanmu sendiri setelah dia membantumu. Kau mengirim demam nadi merah pada Omar dan raja untuk membunuh mereka. Kau membiarkan Bella sendirian dan miskin. Kau membuatku beranggapan akulah sang putri. Kau menghancurkan semua kehidupan itu, dan bahkan tak ada satu pun merugikanmu.”


“ Menurutmu begitu?” tanya Melani, dan untuk pertama kalinya, aku mendengar nada gusar pada suaranya. “ Seperti yang kaubilang, aku mengorbankan saudara perempuanku, temanku di kampus. Aku mengorbankan anak perempuanku. Sebelum dia tinggal di istana aku hanya bisa melihatnya sebanyak tiga kali, saat aku mendatanginya untuk memperbarui mantra. Kau takkan pernah tahu apa dampak semua itu bagiku.” Wajah Melani terlihat sangat pucat hingga terlihat mencolok di ruang yang gelap, dan tangannya terlihat gemetar saat dia menyentuh lehernya. “ Jangan pernah bilang semua itu tidak merugikanku.”


Aku menatap Melani dengan cemas, punggungku merinding, Melani datang untuk menemuiku, tapi aku tidak tahu apa yang diinginkannya dariku. Namun, kurasa sekarang kami akan mengetahuinya..


“ Itu membuatmu kehilangan tempat di dunia ini, jati dirimu. Seluruh hidupmu—adalah sebuah kebohongan. Orang-orang yang kausayangi, tidak sabar untuk menyingkirkanmu setelah tidak membutuhkanmu lagi. Dan apa yang bisa kau harapkan setelah meninggalkan istana? Seorang bibi yang tidak menginginkanmu dan membiarkanmu pergi tanpa protes sedikit pun? Saat seorang penyihir tua sinting saat kampus tidak mau menerimamu? Cinta dari Devan, yang sekarang tidak akan pernah diizinkan keluarganya untuk memilihmu?”

__ADS_1


Tubuhku terdiam kaku saat mendengar setiap kalimatnya, kepingan kebenaran yang terdapat di dalam masing-masing kalimat terasa bagaikan serpihan kaca yang menggores hatiku.


“ Aku mengawasimu, Amelia, terutama setelah kau kembali ke kota. Aku mengikuti perkembanganmu. Dari yang kulihat, sepertinya tidak membahagiakan, ya kan?”


“ Karena kau,” aku berhasil bicara, lebih lemah dari yang kumaksudkan. Ucapan Melani merupakan jebakan, dari yang ditujukan untuk memerangkapku, dan aku bisa merasakannya menusuk ke bawah kulitku.


Hai readers sayang.. beri terus dukungannya dengan cara; like, vote, dan komen. Dan mohon maaf jika masih ada salah tulis, atau typo. Salam sayang dan sehat sll.🙏🙏🥰😘🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2