
“ Kau berhasil,” bisiknya penuh semangat. “ kau berhasil menggunakan sihir. Kau melempar para penjaga seakan-akan mereka hanya bantal!”
Aku merasa ingin tertawa sampai tidak sanggup berdiri, atau menangis sampai tidak sanggup melihat. “ Kau menyelamatkanku, dan hal pertama yang kaukatakan adalah soal sihirku?” aku berhasil bicara.
Sepertinya Devan nyaris tidak mendengarku. “ Aku sedang bertanya-tanya apakah aku perlu menyerang mereka, dan mungkin mati saat melakukannya, lalu mereka melayang menjauhimu begitu saja. Kau berhasil melakukannya; kau memanggilnya saat kau menginginkannya.”
Devan tertawa senang, dan aku mendapati diriku ikut tertawa. “ Jadi kami tidak menyelamatkanmu,” tambah Devan. “ Kami hanya menyalakan api, menciptakan pengalih perhatian. Kau menyelamatkan dirimu sendiri, Amelia.”
__ADS_1
Hampir saja aku melangkahi jarak yang terbentang di antara kami dan merangkul Devan. Namun, tepat sebelum aku mengangkat kaki, ledekan Melani saat di sel seakan-akan menggema di dalam kepalaku.
Kau bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Tiruan, yang ditakdirkan untuk diganti oleh yang asli.
Bahkan dengan keadaan wajah merona akibat berlari, bajunya kotor akibat berlari menembus hutan, Devan masih terlihat sangat tampan, sangat… bangsawan. Melani menawariku sebuah kesempatan agar bisa sejajar dengan Devan, agar bisa cukup kuat hingga memungkinkanku untuk memilikinya. Bukan hanya ciuman yang dicuri-curi sesekali, tapi selamanya. Dan aku menolaknya.
“ kupikir kau takkan menolongku,” cerocosku. Pundak Devan sedikit merunduk, tapi aku terus bicara. “ Kupikir kau bilang aku sendirian.”
__ADS_1
Bahkan di tengah gelap aku bisa melihat wajah Devan merona. “ Aku tahu aku bilang apa. Tapi semua itu hanya gertakan. Aku ingin… memperlambatmu. Aku berharap, kalau beranggapan akan melakukannya sendirian, kau akan ragu. Dan kalau kau ragu, aku bisa kembali beberapa hari lagi dan membujukmu agarvtidak melakukannya. Bodoh, sebenarnya, karena aku tahu betapa pentingnya semua ini bagimu. Tapi Sejujurnya, aku tidak menduga kau akan pergi sendirian. Aku hanya ingin menghentikanmu, melindungimu. Aku tidak pernah berniat sungguh-sungguh menelantarkanmu. Aku pasti pergi bersamamu, kalau aku tahu kau benar-benar pergi.
“ Tapi ternyata, sebelum aku menyadarinya, raja sakit, dan kau pergi. Dan tepat setelah aku mengetahuinya, satu haru sebelum raja meninggal, aku tidak sengaja mendengar seseorang berkata Melani sedang merencanakan perjalanan ke Saremarch. Ada keadaan darurat di lahannya, sesuatu yang sangat buruk hingga dia harus pergi, bahkan saat raja sakit parah. Kupikir dia pasti tahu kau sudah pergi, dan dia mengejarmu, dan aku sadar betapa bodohnya aku selama ini. Kupikir aku melindungimu, tapi aku hanya menempatkanmu dalam bahaya yang lebih besar. Jadi, aku menyelinap pergi sebelum Melani—meninggalkan pesan untuk orangtuaku dengan alasan ada urusan penting di luar kota dan aku harus pergi.
Kurasa sekarang mereka sedang menyisir pedesaan dengan panik untuk mencariku. Jadi, aku membawa kuda dan menungganginya lebih cepat seperti dikejar hantu untuk mencarimu. Sudah kuduga kau akan mendatangi tenpat ini. Aku berhenti di kedai minum March Holdings, dan beberapa warga setempat sedang membicarakan seorang gadis yang belum pernah mereka lihat menakuti seorang gadis lain hingga berlari ke luar dari desa. Jadi aku menduga itu kau. Tapi aku terlambat.” Devan mencengkeram pundakku, tangannya terasa panas. “ Maafkan aku, Amelia. Aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu.”
Bersambung
__ADS_1