PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 138


__ADS_3

Aku baru berjalan beberapa langkah menuju pintu saat memperlambat langkah dengan bingung. Halaman istal mungil di belakang rumah ini sangat sepi, bahkan dengan keributan di jalan. Mana suara Gema yang bersenandung dari jendela dapur? Mana Orion yang biasanya bergegas keluar mengambil alih kuda kami?


Aku mendengar Bella dan Devan turun dari kuda mereka, lalu bergegas menghampiri. “ Mana orang-orang?” tanyaku.


Devan mengamati rumah yang sepi. “ Mungkinkah Paula memberi mereka libur? Dan dia sendiri menghadiri penobatan?”


Aku menjilat bibir. “ Tebakan pertama—mungkin. Tebakan kedua—“ aku mengedikkan bahu. “ Paula tak suka keramaian. Dia mungkin saja menghadirinya, sebagai seorang penyihir kampus, tapi tidak akan sepagi ini. Dia akan menunggu sampai detik-detik terakhir, lalu menyelinap di belakang Devan…” Aku membiarkan ucapanku menggantung. Aku tidak perlu mengucapkan kekhawatiran yang kurasakan, aku bisa melihat pikiran yang sama terpancar pada wajah mereka.

__ADS_1


“ Kita tetap membutuhkan petanya,” ujar Devan. “ Dan baju baru tak ada salahnya. Sesuatu yang bisa membuat kalian berdua terlihat pantas berada di acara penobatan.” Devan sendiri, meskipun tidak mengenakan pakaian yang seharusnya digunakan pada acara penobatan, setidaknya tadi pagi sudah mengganti bajunya dengan pakaian bersih yang dibawanya di kantong sadel. Baju gantiku hilang bersama kuda sewaan di March Holdings. “ Bella lebih kecil darimu, tapi tidak terlalu jauh.”


“ Mereka menyimpan baju-baju terbaikku, tapi semua yang ada di sini tetap lebih baik dari ini,” aku berkata sambil merenggut bajuku yang kotor akibat perjalanan dan penjara. Kami tidak akan terlihat pantas menghadiri penobatan, bahkan dalam pakaian terbaik yang kumiliki, tapi kami tidak akan terlihat seperti anak jalanan.


“ Leherku terasa meremang saat menatap rumah, tapi kemudian aku menggelengkan kepala. Kami tidak bisa menunda lebih lama lagi. “ Kita harus pergi.”


Di dalam rumah bahkan lebih sepi. Aku merinding saat berjalan menuju tangga utama tanpa melihat seorang pun di sana. Meskipun pundakku sakit saking tegangnya, aku berusaha menenangkan diribahwa semuanya baik-baik saja, bahwa perasaan diawasi hanya bayanganku saja. Aku hampir berhasil meyakinkan diri saat kami tiba di lantai dua, dan aku mendengar suara erangan.

__ADS_1


Ternyata Gema, si tukang masak. Seraya menelan ludah dengan susah payah, aku membalikkan tubuhnya sepelan mungkin, dan melihat lebam ungu kehitaman besar di sisi wajahnya. Aku mengangkat tanganku yang gemetar ke arah hidung Gema, dan merasakan embusan samar napasnya pada jemariku.


“ Paula,” aku terkesiap sambil terhuyung-huyung berdiri. “ Ruang kerjanya.” Aku tersuruk-suruk menghampiri pintu yang hanya berjarak beberapa kaki, darah menderu di telingaku. Pintu ruang kerja sedikit terbuka, dan aku membukanya dengan sangat kuat hingga menghantam dinding bagian dalam.


Sebagian besar ruang kerja Paula tidak berubah. Meja dipenuhi botol terbuka berisi cairan, tidak ada yang terguling, masih berdiri di dekat pintu. Kulit ular, bulu unggas, sarang burung, dan cakar hewan tergeletak di sudut di tempat Paula menyimpannya. Buku bertebaran di seluruh penjuru ruang, tapi hanya dalam keadaan tergeletak-setelah-dibaca. Setelah melihatnya sekilas, tidak ada yang salah di ruangan ini.


Aku masuk ke ruangan, dan sepatu botku menginjak kaca. Aku menunduk dan melihat serpihan kaca, seakan-akan ada seseorang yang melempar beberapa cawan ramalan pada seseorang yang berada di dekat pintu. Saat mataku mengikuti jejaknya, aku melihat salah satu meja terguling, sebuah genangan ramuan biru yang bercampur dengan pasir tercecer di sekitarnya.

__ADS_1


Dukung Author dengan cara; Like, vote, dan komen, Terima kasih dan sehat sll 🙏😇😘🥰🌹


Bersambung


__ADS_2