
Bibi Vania tetap bersikap dingin, puas menghabiskan waktu sendirian & itu membuatku menderita. Selama beberapa hari pertama, aku berharap, Bibi vania akan terbiasa dengan kehadiranku, & mulai menyukaiku.
Aku tahu aku bukan Devan, yang di mana pun dia berada selalu disukai oleh orang di sekitarnya, tapi kupikir mungkin akhirnya Bibi Varil akan menyayangiku, setelah terbiasa dengan kehadiranku di dalam hidupnya. Namun, satu minggu berlalu, lalu minggu lainnya, & minggu berikutnya tak ada perubahan yang terjadi.
Bibi Vania tidak kejam, tapi juga tidak baik. Sesekali, saat kami duduk di ruang utama pada malam hari, aku memergokinya sedang menatapku dengan ekspresi merengut, seakan-akan aku ini benda yang diletakkan di depan pintunya & dia berharap bisa menyingkirkannya.
Kurasa memang itulah aku, aku merasa tidak berguna baginya, keahlianku dalam mencelup, memasak, & bersih-bersih paling tidak bisa di andalkan. Meskipun begitu, aku tahu aku sopan, pendiam, & pada dasarnya tidak membutuhkan biaya mahal. Jadi, sementara ini, aku terus berharap suatu hari nanti Bibi Vania akan menyukaiku.
Namun, pada saat aku bertanya mengenai orangtuaku, barulah aku mengerti bahwa ketidaksukaan Bibiku karena aku mencari tahu tentang mereka. Ketidaksukaannya lebih dari sekedar masakanku yang tidak enak atau seringnya aku memecahkan piring saat mencucinya. Jadi untuk sementara aku berhenti bertanya tentang ke dua orangtuaku sambil menunggu waktu yang tepat.
Kami sedang di dalam rumah, menggantung tanaman dari kasau gudang penyimpanan, saat mengulurkan tangan untuk menggantung sweet gale, aku melihat ukiran pada kayu kasau; gambar seekor kucing dalam posisi meringkuk seperti bola, ekornya melingkar ke depan tubuhnya.
“ Apa Bibi Vania yang mengukirnya?” aku bertanya sambil menunjuk gambar itu.
__ADS_1
Bibi Vania memunggungiku, tapi aku bisa melihat tubuhnya mendadak kaku. Dia tidak bisa menjawab, hanya mengangkat tangan untuk menyusun beberapa gulung benang wol biru di atas rak.
“ Ayahmu yang mengukirnya,” Bibi Vania menjawab dengan ketus.
“ Dulu ini kamar kami, saat masih kecil. Orang tua kami tidur di kamar satunya.”
Aku tidak sanggup menahan diri agar tidak terkesiap saat mendengar ucapannya. Karena Bibi Vania tidak pernah membicarakan ayahku sama sekali, sejak kedatanganku.
Bibi Vania tidak pernah menceritakan tentang masa kecil mereka, atau penjelasan apa pun mengenai alasannya menyerahkan aku. & aku tidak pernah, sampai sekarang, berani lagi bertanya mengenai hal tersebut.
Lagi-lagi, aku melihat pundak Bibi Vania berubah kaku, tapi dia tidak berbalik.
“ Dia…. pendiam. Serius. Dia sudah tahu ingin menjadi seorang penenun sejak berumur enam tahun. Dia selalu melihat sisi baik semua orang.” Suaranya berubah muram.
__ADS_1
“ Karena itulah aku khawatir saat dia pergi untuk belajar ke Vivaskari. Dia terlalu mudah percaya, & aku takut dia akan terluka karenanya.”
Mulutku terasa kering. Ada sesuatu di dalam diriku yang tidak ingin mengajukan pertanyaan berikutnya, tapi aku tidak bisa menahan diri.
“ Dan ibuku? Apa Bibi Vania mengenalnya?”
Kali ini, Bibi Vania berbalik. Dia berputar sangat cepat hingga aku harus mencegah kakiku agar tidak mundur. Wajahnya tegang, matanya memicing.
“ Ibumulah yang menghancurkan ayahmu.”
“ Apa?” Di dalam benakku, aku mendengar ucapan raja. Dia tidak pernah menyebut istrinya.
Bibi Vania tersenyum, tapi ekspresimya muram, sarat dengan harapan & luka lama.
__ADS_1
“ Dia bertemu ibumu di kota. Ibumu hanya mampir , & tidak sengaja mendatangi toko ayahmu. Namanya Tania. Mereka menikah di kota & setelah itu membawanya berkunjung ke sini.”