PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 151


__ADS_3

Setidaknya dengan sihirku. Aku tidak merasa takut sebelum memulai mantra; aku hanya mencobanya, dan jika berhasil ya berhasil, dan jika tidak, setidaknya tidak ada yang meledak. Kendali yang selama ini kucari sudah kurelakan, digantikan oleh semacam penyatuan, sebuah penerimaan antara aku dan sihirku.


Namun, hal-hal lainnya, tidak semudah itu.


Aku menghabiskan banyak waktu untuk menjelajahi kota. Selama berhari-hari, semua membicarakan peristiwa yang terjadi pada acara penobatan, tapi kisahnya semakin menggila dan jauh dari yang sesungguhnya terjadi. Orang-orang juga membicarakan apa yang terjadi berikutnya, yang kudengar dengan perasaan curiga dan tidak mudah percaya. Namun, ada beberapa hal yang kuakui kebenarannya.


Mereka memakamkan Riana di makam keluarga Enderson di Saremarch. Bagaimanapun, Riana putri seorang baron, dan tidak bersalah dalam masalah ini, tak peduli apa pun yang sudah dilakukan ibunya. Karavan yang membawa jenazahnya dilepas kepergiannya oleh ratu dan sang putri baru yang berdiri memandanginya dari gerbang istana sampai tidak terlihat lagi.


Melani dikubur di sebuah lereng bukit di luar kota, sebuah tempat yang dinamai Sisi pengkhianat. Tidak ada seorang pun selain penggali kubur yang melihatnya dikubur.

__ADS_1


Sepertinya kampus penyihir dilanda kehebohan, mendapati salah seorang dari mereka bertindak kejam pada kerajaan. Untungnya, mereka sudah mendapatkan pemimpin lagi. Demam yang menyerang Omar menghilang pada hari penobatan, dan dia sudah kembali pada tugasnya, lebih lama tapi masih cerdas.


Aku juga mendengar pembicaraan mengenai diriku. Kali ini namaku tidak terlupakan menjadi kenangan lama, melainkan terpatri dengan jelas di dalam benak orang-orang. Aku digambarkan cerdas, berani, penuh pengorbanan, bahkan cantik. Untungnya, dengan penggambaran kata-kata seperti itu, tidak ada seorang pun yang menghiraukan seorang gadis penyalin yang terus berkeliaran di jalanan Vivaskari.


Banyak yang harus kupikirkan.


Apa semua itu sepadan? Aku membatin saat berdiri di luar benteng istana di depan dinding yang seandainya Bella memutuskan untuk melewatinya, sebuah pintu akan terbuka untuknya. Ya, kami sudah menang, tapi dengan bayaran apa? Paula akan berjalan pincang seumur hidupnya karena aku terlalu sombong untuk memberitahunya semua yang kuketahui, dan Gema masih ketakutan setiap kali ada seseorang yang tiba-tiba memasuki sapur.


Riana meninggal, persis seperti yang diramalkan sang peramal.

__ADS_1


Riana mengorbankan nyawanya sendiri, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri saat berkeliaran di jalanan atau berlatih mantra untuk Paula. Dalam detik yang singkat itu Riana membuat pilihan. Aku meyakinkan diriku dengan alasan itu, tapi tetap tidak membantu. Riana baik, lembut, dan tidak menyadari mekanisme seperti apa yang mengatur hidupnya. Seperti yang pernah dikatakan Devan, Riana akan menjadi ratu yang baik. Tetapi tidak berhak mendapatkan tahta tersebut.


Tanpaku, Riana pasti masih hidup.


Itu adalah beban berat yang membuat langkahku berat, sebuah pikiran yang menghantuiku saat berusaha tidur pada malam hari. Saat memikirkan ramalan sang peramal, entah mengapa, aku selalu beranggapan akulah yang mati, atau Bella. Aku baru mempertimbangkan Riana sesudahnya. Namun dialah yang menjadi korban dari peristiwa yang kumulai.


Apakah keadaannya akan berbeda seandainya aku melakukan tindakan yang berbeda? Seandainya aku memberitahu seseorang, seperti yang diinginkan Devan? Apakah Paula akan lebih siap menghadapi serangan? Apakah para penyihir dan tabib yang merawat raja bisa mengetahui demamnya disebabkan oleh sihir dan berhasil menyelamatkannya? Apakah Riana masih hidup?


Dukung author dengan cara; like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih.πŸ™πŸ₯°πŸ˜˜πŸŒΉ

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2