PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 42


__ADS_3

Dengan bingung aku bangkit dari lantai & berdiri menghadap perempuan yang ada di depanku, diam-diam berusaha membersihkan bagian belakang gaunku.


Perempuan itu bertubuh kurus, mungkin setengah kepala lebih pendek dariku, dengan rambut coklat & kelabu kusut yang kelihatannya sudah berusaha di rapikannya tadi pagi tapi tidak berhasil. Sebagian rambut perempuan itu mencuat di puncak kepalanya bagaikan sarang burung, sedangkan sisanya tergerai di punggung. Dia kira-kira sepuluh tahun lebih tua dari bibiku. Kerutan menghiasi kening & sekitar matanya yang berwarna hijau terang & setajam daun cemara.


Dia menatapku seakan-akan aku sebuah gulungan kertas berisi tulisan tangan aneh yang mau tidak mau harus dibacanya.


” Tapi,” lanjutnya, “ apa kau sengaja melakukannya?”


Sejenak aku menduga dia ingin tahu apakah aku sengaja jatuh, & aku membuka mulut untuk memprotesnya, tapi sebelum sempat bicara perempuan itu menambahkan, “ Kalau sengaja, itu sebuah penggunaan prinsip yang syrendal yang mengagumkan ( ini istilah untuk penyihir yang sudah terlatih yah guys ). Sangat mengesankan. Tentu saja, kalau tidak sengaja, & karena kau tidak memakai jubah, kurasa aku bisa mengatakannya dengan cukup yakin bahwa kau bukan anggota kampus, maka artinya kau punya banyak sihir tak terlatih di dalam dirimu, & kau cukup berbahaya untuk berkeliaran bebas.”

__ADS_1


Aku tahu, aku menatapnya dengan mulut ternganga, tapi aku tidak bisa menahan diri. Aku merasa sedang berada di tengah-tengah kerumunan burung gagak, diserang oleh banyak sayap, paruh, & kicauan pada saat bersamaan.


“ Kau juga tidak memakai jubah,” hanya itu yang sanggup kukatakan.


Perempuan itu tidak mengenakan jubah; alih-alih, dia mengenakan sebuah gaun berwarna gelap dengan rok berbelahan, seakan-akan baru saja berkuda.


Dia menggelengkan kepala sangat cepat hingga aku penasaran mengapa tidak terasa sakit, & menghela napas keras-keras.


Aku menelan ludah. “ Tidak, aku tidak berniat begitu. Aku hanya baru tahu aku punya kekuatan sihir, & aku… aku datang ke sini untuk mencari tahu apakah kampus mau menerimaku.”

__ADS_1


Aku merasakan pundakku sedikit merosot. “ Tapi mereka tidak mau menerimaku. Aku bukan bangsawan, & uangku tidak cukup banyak.”


Tiba-tiba, perempuan itu mengulurkan tangan & merenggut pergelangan tanganku. Cengkeraman tangan kurusnya memperlihatkan kekuatan yang mengejutkan, & setelah menarik tanganku hingga terlentang, dia meletakkan tangannya yang lain di atasnya. Saat dia menatap mataku, ada sesuatu yang hangat menyelinap ke dalam diriku, seperti seekor kucing yang menyelinap ke bawah sinar matahari. Kemudian dia melepas tanganku, wajahnya berkerut saat dia merengut.


“ Peraturan bodoh. Aku sudah pernah memberitahu Omar … Yah, aku harus mengungkitnya lagi, bukan berarti akan ada gunanya,” perempuan itu bergumam pelan. Dia menggelengkan kepala & mengentakkan satu kaki, lalu berkata padaku, “ Aku bisa memberitahumu, sayangku, bahwa kau jelas-jelas dipenuhi sihir. Bahkan, aku bingung juga bagaimana sihirnya bisa bertahan selama ini tanpa menunjukkan diri. Tentu saja, kalau saat kecil kau kelaparan, atau sangat, sangat sakit, itu bisa sedikit menekan sihirnya, tapi…. Tak masalah, yang penting sekarang kau memilikinya, & ia tidak sabar lagi ingin keluar dari dirimu. Siapa namamu?”


Pertanyaan yang tiba-tiba diajukannya membuatku ragu “ Bicara, bicara. Kau tahu siapa namamu, kan?”


Kadang-kadang, batinku dengan murung. “ Amelia,” ujarku keras-keras. “ Amelia Muller.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2