
Aku merasa limbung. Aneh, betapa cepatnya keadaan bisa berubah. Pagi itu aku merasa bingung, tidak yakin mengenai jalan hidupku. Namun sekarang aku sudah mendapat jalur, sebuah jalan untuk melakukan keahlian yang selama ini diajarkan padaku, untuk membantu Thorvaldor. “ Aku bisa ikut sekarang,” ujarku. “ Saat ini Paula tidak membutuhkan aku. Aku bisa memberitahunya soal pembicaraan kita dan—“
Namun, Bella hanya menggelengkan kepala. “ Jangan. Ada yang harus kita lakukan sekarang.”
Aku balas menggelengkan kepala padanya. “ Tidak, tak ada.”
Bella menatapku dengan ekspresi yang mengatakan, dengan semua pengetahuanku yang setara dengan seorang putri, aku benar-benar dan amat sangat bodoh. “ Dia sedang menunggumu,” ujarnya.
Hatiku sedikit jumpalitan. “ Devan?”
“ Siapa lagi?” dengus Bella.
__ADS_1
Aku sering memikirkan Devan; dia selalu menyela berbagai pikiranku, bahkan kesedihanku atas kematian Riana. Tetapi aku belum bertemu dengannya, tidak sejak acara penobatan. Mungkin aku memang benar, saat Devan tidak pernah muncul di depan rumah Paula aku mulai beranggapan bahwa dia sudah menyerah.
“ Apa kau masih mengkhawatirkan pendapat orang-orangtuanya? Sekarang kau penasihat utama sang putri,” ledek Bella. “ Kau bisa mengangkat kepala tinggi-tinggi di ruangan mana pun di negeri ini. Tapi kalau kau mengkhawatirkan hal itu, kurasa aku bisa memberimu sebuah gelar…”
Aku tertawa tanpa bermaksud melakukannya, sambil menggelengkan kepala. “ Tidak, tidak,” ujarku. Kemudian, dengan lebih serius; “ Kurasa aku sudah tidak mengkhawatirkan hal itu lagi. Aku menyelamatkan negeri ini, ya kan? Tentunya itu punya arti tersendiri.” Namun kemudian rasa ragu menyelinap lagi. “ Tapi dia tidak pernah datang,” aku berkata muram.
Bella meletakkan tangannya di gerbang, seakan-akan mau pergi, tapi kemudian berbalik dan mendesah. “ Dia membiarkanmu membuat keputusan, karena itu satu-satunya cara kau bisa sungguh-sungguh menerimanya. Kali ini,” ujar Bella, “ kau yang harus mendatanginya.”
Devan berdiri memunggungiku, seakan-akan sedang mengamati serumpun bunga yang sangat rumit. Namun, dia tidak bergerak saat kerikil berderak terinjak kakiku, dan aku sadar dia sama sekali tidak sedang mengamati bunga.
Meskipun begitu, Devan tidak terlonjak kaget saat aku menepuk pundaknya dan berkata, “ Aku datang.”
__ADS_1
Devan berbalik perlahan, satu lengannya berkedut seperti ingin memelukku. Namun, dia tidak bergerak.
“ Maaf aku membutuhkan waktuselama ini,” ujarku. “ Tapi banyak yang harus kupikirkan, dan aku tak tahu… aku tak tahu…”
Devan terus menunggu.
Aku mengembuskan napas tidak sabar. “ Tahu tidak, dia menjadikanku konselornya. Aku harus membantunya belajar jadi ratu, menjadi suara yang membisikkan nasihat di belakang singgasananya. Lalu dia akan membantuku membuka sebuah sekolah sihir.”
Devan hanya menatapku, sama sekali tidak membantu.
Aku bergerak-gerak di tempat, sambil merengut padanya. Dulu, mungkin aku akan menyerah pada rasa cemas yang menghantuiku sejak ciuman pertama itu. Bahwa Devan pernah mencintaiku, tapi memutuskan terlalu banyak masalah. Bahwa dia sangat marah karena mantra yang kurapal padanya hingga tidak bisa memaafkanku. Bahwa posisi kami sangat berbeda hingga keluarganya tidak akan pernah mengizinkan kami bersama. Aku mungkin menyerah saat dihadapkan dengan keraguan yang menggangguku saat dia terus menatapku dengan sangat gigih. Mungkin aku akan merona dan mengendap-endap pergi, bukannya berdiri tegak di hadapannya. Dulu, saat aku meninggalkan kehidupanku tanpa perlawanan. Namun tidak sekarang. Sekarang aku lebih kuat, lebih berani. Aku sudah menghadapi ketakutan terbesarku, dan berhasil selamat.
__ADS_1
Bersambung