
Mungkinkah Paula terlibat?
Tidak aku langsung menyingkirkan kemungkinan itu sesaat setelah kemunculannya. Paula yang konyol dan cuek, yang bahkan tidak menginginkan kebanggaan yang dihasilkan jubah penyihirnya, berusaha untuk mengambil alih sebuah kerajaan? Rasanya seperti berusaha memercayai seekor kuou-kupu memiliki rencana untuk naik takhta. Tidak, aku terlalu lelah dan bingung untuk memikirkannya.
Namun Paula berteman dengan Omar, tak peduli semustahil apa kedengarannya. Aku tahu jika Paula pergi ke kampus, dia hampir selalu menemui Omar, setidaknya untuk menyapanya. Kemungkinan besar Paula akan lebih memercayai Omar daripada aku, terutama jika aku tidak punya bukti selain peristiwa yang kusaksikan. Apakah Paula akan memberitahu Omar? Memperingatkannya bahwa ada kemungkinan aku akan menuduhnya, karena mereka berteman?
Bisakah aku hanya menceritakan sebagian pada Paula? Membuatnya seakan-akan hanya Melani yang dicurigai, dan setidaknya bisa membantu penyelidikan itu? Tidak, putusku. Karena hanya membutuhkan sebuah lompatan kecil dari Melani ke Omar, dan sudah pasti Paula akan melakukannya. Dan itu mambawaku ke posisi semula; dengan kemungkinan Paula membocorkan perburuan ini.
Aku tersadar bahwa Devan menyadari aku sedang larut dalam pikiranku sendiri dan duduk tenang menunggu perhatianku kembali. Jadi aku menjelaskan semua yang kupikirkan padanya. Devan tidak menyukainya, tapi akhirnya dia menganggukkan kepala dengan enggan.
__ADS_1
“ Jadi kita tak bisa memberitahu siapa pun sampai yakin siapa pelakunya, sampai kita punya bukti.” tuntasku. “ Siapa pun pelakunya, dia orang yang cerdas. Kalau kita tidak punya bukti , bukti nyata, mungkin mereka akan mendapatkan cara untuk menghindarinya. Dan omong-omong soal bukti, kita harus memulainya dengan pergi ke kampus….”
“ Tidak.” Dalam sekejap Devan sudah berdiri, kedua tangannya memegang pundakku, mencegahku berdiri dari kursi. “ Kau kelelahan. Kau nyaris tidak bisa membuka mata.”
“ Aku baik-baik saja,” aku bersikukuh, bahkan saat gelombang kelelahan bergulung di dalam diriku bagaikan ombak di lautan.
“ Kau tidak baik-baik saja. Dengar, ini tidak semudah memasuki ruang kerja umum Omar. Dia tidak akan menyimpan barang bukti pembunuhan raja di tempat yang bisa ditemukan semua orang. Kau harus istirahat, setelah itu baru kita pergi.”
Devan mengangguk. “ Kau tahu kan. Pembunuhan seorang penguasa? Aku tahu Diana belum jadi penguasa, tapi nantinya akan menjadi penguasa, jadi…”
__ADS_1
Sedikit demi sedikit, di dalam otakku yang seakan-akan berkabut, semua itu masuk akal. “ Menurutmu Diana yang asli sudah mati.”
Devan menurunkan tangannya dari pundakku. “ Bukankah begitu? Kalau mereka menukar Riana denganmu, alih-alih Diana yang asli, masuk akal kalau mereka membunuh sang putri. Jadi tidak ada seorang pun yang menyadari bayi ketiga dalam pertukaran. Dan seandainya berniat menempatkan Riana di atas takhta, mereka pasti tidak akan membiarkan putri yang asli masih hidup di suatu tempat.”
Aku menggelengkan kepala. “ Dia belum mati, Devan, mereka membutuhkannya, untuk meneruskan mantra. Tanpa putri asli yang masih hidup di suatu tempat, mantranya takkan bekerja. Paula memberitahuku dia hampir yakin soal ini. Siapa pun Yang melakukannya, mereka pasti tahu di mana Diana berada. Mereka akan menjaganya tetap hidup, karena tanpanya rencana mereka takkan berhasil.”
Aku berdiri dari kursi dan maju dua langkah untuk menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur. Sekarang semuanya mulai membuatku kewalahan, seluruh hari yang panjang ini; aku tidak akan sanggup terjaga lebih lama lagi. Aku berhasil mendongakkan tatapanku ke arah Devan yang berdiri menatapku.
“ Inti masalahnya bukan hanya menemukan orang yang merencanakan semua ini dan mengungkap jati diri mereka,“ aku berhasil bicara saat kelelahan mulai menyapuku. “ Diana masih hidup. Putri yang asli ada di luar sana, Devan, dan kita harus menemukannya.”
__ADS_1
Bersambung