
Setelah kami menemukan semua pucuk jelatang, dia mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Ruam samar sudah muncul di atas jemari & telapak tangannya.
“ Jatuhmu cukup parah,” ujarnya.
“ Apa kamu terluka?” Aku menggelengkan kepala, tiba-tiba menyadari betapa kotor & berkeringatnya tubuhku.
“ Tubuhku sudah terbiasa dengan kecanggunganku,” aku berkata muram.
“ Aku tidak mudah terluka.”
“ Perkenalkan namaku Jose wiliam. Ayahku pemilik toko,” ujarnya sambil menunjuk satu-satunya toko serba ada di Treb.
“ Namaku …A-Amelia Muller,” ujarku, sedikit terbata-bata mengucapkan namaku. Biasanya wajahku akan semakin merona, tapi karena Jose menatapku dengan ekspresi yang sangat ramah hingga aku merasa bibirku bibirku tersenyum padanya.
“ Aku datang untuk tinggal bersama bibiku, Bibi Vania,”
“ Kalau begitu aku mengerti kenapa kau membawa jelatang,” ujar Jose sambil tertawa.
__ADS_1
“ Tapi aku baru tahu kalau Bibi Vania punya keponakan.”
“ Dia juga tidak tahu,” ujarku.
“ Ayahku meninggal tanpa menceritakan keberadaanku padanya, & aku…selama ini tinggal di kota.”
Matanya menyapu wajahku, & aku melihatnya memahami sesuatu. Jika dia baru saja mengunjungi kota, dia pasti mendengar rumor mengenai sang putri palsu & tempat yang ditujunya. Dia bahkan sudah mendengar nama asliku. Namun Jose hanya menggelengkan kepala & mengulurkan tangan ke arah jalan utama.
“ Kalau begitu, semua ini pasti mengejutkan, kalau dulu kau tinggal di kota. Disini kami hidup agak… sederhana.”
Aku merasa lega. Untuk pertama kalinya, ada orang yang tidak mencecarku soal masa laluku, tidak berharap mendengar kisah seperti apa rasanya menjadi putri.
” Kurasa kau berbohong,” ujarnya, tapi dengan santai.
“ Tidak ada yang bisa ditawarkan Treb pada siapa pun yang sudah melihat dunia. Aku sudah berusaha membujuk ayahku agar kami menyewa sebuah tempat di Kota & membuka toko, tapi dia memiliki cara pandang yang berbeda denganku.”
Jose melirik keranjangku, lalu berkata, “ Jelatangmu sudah mulai layu. & kalau penilaianku soal nyonya Muller benar, dia tidak akan senang kalau matahari merusak tanaman ini,” kemudiam Jose terdiam, keningnya sedikit berkerut, seakan-akan dia gugup.
__ADS_1
“ Apa menurutmu dia akan mengizinkanku mengunjungimu? Aku tadi mengatakan bahwa Treb membosankan, tapi ada baiknya kalau kau mengenalnya sebaik mungkin. Aku bisa mengajakmu berkeliling jika kau mau.”
“ Sepertinya menyenangkan,” ujarku.
Mata Jose seakan-akan berkilau di bawah sinar matahari.
“ Kalau begitu sampai nanti,” ujarnya, lalu berbalik & berjalan menuju toko ayahnya, sambil bersiul.
Keesokan harinya, saat aku sedang membereskan mangkuk bekas makan dari atas meja, terdengar ketukan di pintu pondok. Bibi Vania, yang sedang menyendoki semur buatanku, mengalihkan tatapannya padaku, lalu menoleh ke arah pintu. Aku bergegas menghampiri pintu, berusaha agar tidak menggigit bibir saking gugupnya.
“ Halo, nyonya Muller,” Jose berkata saat aku membuka pintu.
“ Siapa yang datang, Amelia?” seru Bibi Vania, tapi sebelum aku sempat menjawab, dia sudah memundurkan kursi & melintasi ruangan. Kupikir aku mendengar jeda pada langkahnya, keraguan kecil, tapi kemudian dia sudah ada di sampingku, menatap Jose dengan bibir terkunci rapat.
“ Halo, Jose,” ujarnya.
“ Aku sudah bilang pada ibumu, wol kuningnya baru selesai tiga hari lagi.”
__ADS_1
Aku tahu aku cenderung sedikit mengerut saat Bibi Vania menatapku setajam itu, tapi Jose hanya menggelengkan kepala dengan santai.
“ Aku datang bukan karena disuruh ibuku, Nyonya Muller. Kemarin aku bertemu keponakanmu, & kupikir mungkin dia mau ikut jalan-jalan berkeliling desa bersamaku.”