
“ Aku kembali ke rumah Paula,” aku memberitahu Devan setelah kami mengembalikan kuda-kuda ke istal Flower. “ Mungkin beberapa hari lagi aku baru bisa berkunjung ke istana.”
Devan mengangguk. “ Aku mau saja mencari catatannya sendiri, tapi aku bahkan tak tahu harus memulainya dari mana. Kalau kau mau berkunjung, kirimi aku pesan.”
” Tunggu berapa hari lagi,” ujarku, lalu terdiam. Aku ingin memeluknya, mengucapkan terima kasih padanya kerena pergi ke Siderros bersamaku. Beberapa bulan yang lalu aku pasti melakukannya tanpa ragu. Namun ada yang berubah di antara kami, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Devan jelas-jelas merasa tidak nyaman juga; sebuah garis halus muncul di antara kedua alisnya, dan memindahkan tumpuan dari satu kaki ke kaki lainnya.
“ Terima kasih, Devan,” akhirnya aku berkata sambil memeluk tubuhku sendiri.
Sejenak keningnya terlihat semakin dalam, dan perutku serasa jumpalitan. Namun kemudian kerutan keningnya menghilang, dan Devan berkata ceria, “ Kau pasti bisa melakukannya sendirian. Aku hanya menyumbangkan beberapa kekonyolan untuk menghiburmu.”
__ADS_1
Dulu, mungkin aku akan menampar lengannya atau menarik rambutnya karena berbohong. Sekarang, aku hanya merengut dan berkata pelan, “ Itu tidak benar, dan kau tahu itu. Aku takkan bisa melakukannya tanpamu. Kau sahabatku, Devan.”
Devan menelan ludah, tiba-tiba serius. “ Aku tahu. Dengar, Amelia, aku—“
Apa pun yang hendak dikatakannya, Devan tidak punya kesempatan untuk melakukannya. Sebuah kereta ayam yang sedang melintas mendadak kehilangan satu rodanya, sehingga isinya tumpah ke jalan. Beberapa kandang ayam terbuka, memenuhi udara dengan kotekan ayam dan bulu unggas berwarna putih. Kami berdua menutup telinga dengan tangan, dan akhirnya Devan berteriak, “ Apa aku harus mengantarmu pulang?”
“ Tidak,” aku berteriak di tengah keributan. “ Aku memberitahu Paula bahwa aku pergi ke Treb. Dia pasti mengetahui hal yang sebenarnya kalau melihatmu.”
Paula hanya mengajukan satu pertanyaan basa-basi mengenai kondisi kesehatan Bibi Vania sebelum menarikku ke ruang kerjanya untuk memeriksa eksperimen terbarunya. Aku lelah karena baru pulang, tapi entah mengapa, berada di antara botol dan ramuan yang meletup-letup hasil karya Paula membuatku merasa lebih tenang, bukan lelah. Aku tersadar bahwa rumah Paula sudah menjadi rumahku, sesuatu yang terasa seperti rumah sendiri.
__ADS_1
Selama beberapa jam kami mengaduk panci, memotong tanaman herbal, dan pada dasarnya berusaha agar tidak meledakkan diri kami. Saat akhirnya merasa ramuannya mendidih pada kekentalannya yang pas, Paula berbalik padaku dan bertanya, “ Jadi, apa kau punya kesempatan untuk berlatih sihir sedikit saja?”
“ Ya,” aku mengakui. Kemudian aku teringat pada lubang kunci yang tidak berhasil kubuka tanpa meledakkannya, mantra gagal yang seharusnya membuat kami sulit ketahuan. Mungkin biarawan itu tidak akan mencari penyusup jika aku berhasil melakukannya dengan benar.
Pundakku merosot. Seandainya aku bisa mengandalkan sihirku. Aku membutuhkannya untuk menemukan Diana dan mengembalikannya ke atas takhta. Aku yakin soal itu. Tetapi sihirku hanya meletup-letup tidak terkendali, tidak bisa kuandalkan.
Dan sihirnya gagal, jika aku gagal, seseorang bisa mati.
“ Namun, tidak selalu berhasil,” aku mengakui dengan sedih. “ Tidak pernah berhasil.”
__ADS_1
Paula mendongak dari tumpukan batang tak terpakai yang sejak tadi disapunya ke dalam tangan. Dia menjatuhkannya ke lantai, lalu berdiri di depanku.
Bersambung