PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 101


__ADS_3

Aku meringis, ini bukan kisah sejarah Thorvaldor kesukaanku, terutama karena aku mengkhawatirkan hantu Luis selama berbulan-bulan setelah mendengar kisahnya. “ Tapi dia punya anak perempuan,” lanjutku. “ Gadis itu masih kecil, dan Luisa tidak membiarkannya dibunuh seperti orangtuanya. Tapi dia mencoretnya dari keluarga kerajaan agar tidak bisa menuntut takhta. Kurasa saat tumbuh besar putrinya hanya merasa bersyukur karena dibiarkan hidup, dan menikahi seorang saudagar kaya bernama Feidhelm. Keluarga Feidhelm tidak pernah menimbulkan masalah—aku bahkan tidak yakin ada yang ingat siapa mereka sebenarnya.”


“ Tapi ternyata Melani ingat,” ujar Devan. “ Dan dia pikir keluarganya harus naik takhta.”


Tepat saat itu salah seorang pustakawan melintas, dia berjalan sambil membaca. Perempuan itu tidak menatap ke arah kami, tapi aku jadi sadar betapa banyaknya orang yang mungkin mendengar percakapan kami. Aku cepat-cepat berdiri, merobek halaman buku, mengabaikan ekspresi terkejut pada wajah Devan karena melihatku merusak properti perpustakaan. “ Kita akan membawanya. Siapa tahu? Ini catatan resmi, Melani bisa saja datang dan menghancurkannya kalau dia beranggapan ada seseorang yang mengetahui rahasianya. Ayo kita kembali ke rumah Paula. Kita bisa mengobrol di sana.”

__ADS_1


Aku menunggu di sudut sementara Devan mengembalikan buku-bukunya, lalu, setelah menatap sekeliling rak buku untuk memastikan tidak ada yang melihat, kami keluar dari perpustakaan. Saat memasuki koridor, aku memasang tudung jubahku untuk menutupi wajah. Kepalaku berputar kencang hingga aku nyaris tidak menyadari arah yang kutuju, tapi itu tidak masalah; kakiku sudah mengenal jalannya. Melani adalah ibu Riana.


Dia menggunakan posisi saudara perempuannya sebagai sang peramal untuk membuat ramalan palsu, memalsukan kematian bayinya sendiri, lalu menukarnya dengan putri asli dan menukarku dengan Riana. Apa sekarang aku sudah punya cukup bukti untuk melaporkannya pada raja dan ratu? Aku sangat ingin memberitahu mereka, agar ada orang lain yang mengkhawatirkan cara menyelamatkan kerajaan. Namun, yang kami miliki sebagai bukti hanyalah beberapa lembar kertas, dan Melani teman raja dan ratu, orang yang mereka anggap sebagai penyelamat anak mereka.


Saat berbelok aku bertabrakan dengan seseorang, kertas genealogis terjatuh dari tanganku saat berusaha agar tidak terjatuh. “Maafkan aku,” ujarku sambil menunduk mengambilnya.

__ADS_1


Aku mendengar Devan menghela napas tajam dan tiba-tiba tangannya sudah berada di lenganku, menarikku mundur beberapa inci mendekatinya. Aku menegakkan tubuh, tatapan mataku tertuju pada wajah Melani Enderson.


“ Melani,” aku berkata dungu. Sejenak aku merasa dilapisi selimut tebal, lalu sarafku meledak dalam kerusuhan sensasi. Lari! Ambil kertasnya! Diam! Jangan biarkan dia menyadari ada yang tidak beres! Semuanya bertentangan, dan tidak ada yang membantu. “ Maksudku… Baroness. Maafkan aku.”


Melani tertawa, suaranya bagaikan lonceng pelan, dan menggelengkan kepala. Melani menarik rambut hitam panjangnya ke belakang dan mengikatnya dengan jepit perak yang memungkinkan setengah rambutnya tergerai di atas punggung. Mata hijaunya setajam daun cemara dan dinaungi bulu mata lebat. Kulitnya terlihat kecokelatan dan lembut, bibirnya penuh. Hari ini Melani tidak mengenakan jubah penyihir, melainkan gaun panjang sutra berwarna merah.

__ADS_1


Meskipun begitu, kau tidak akan mungkin tidak mengenalinya sebagai seorang penyihir. Kekutan terpancar dari dirinya; kau tidak bisa menahan diri agar tidak melihatnya, dan berharap dia tersenyum padamu.


Bersambung


__ADS_2