
Aku nyaris terkejut saat seekor hewan—seekor burung malam atau kelelawar—mendarat di sebuah pohon di dekatku diiringi suara gemerisik dedaunan. Namun, setidaknya teror mendebarkan yang muncul akibat kekhawatiran tertangkap berhasil menyingkirkan ramalan terakhir sang peramal dari kepalaku. Untungnya, kami berhasil tiba di perpustakaan tanpa bertemu siapa pun. Devan mendorong pintunya pelan-pelan, dan, benar apa kata sang peramal, langsung terbuka perlahan.
Perpustakaan sepi, jadi langkah kaki kami terdengar bagaikan petir di telingaku. Lampu di lorong tidak ada yang menyala, dan kami harus meraba-raba langkah demi langkah. Ada satu momen menegangkan saat aku tersandung rokku sendiri dan menabrak pintu yang tertutup, tapi tidak ada yang datang untuk menyelidikinya. Akhirnya, kami tiba di depan pintu dengan tanda peramal, masuk, dan cepat-cepat menutup pintunya lagi.
“ Setidaknya kita harus menyalakan satu lampu,” bisik Devan. Aku mengangguk, berharap dia bisa melihatku. Untungnya, karena di ruangan ini tidak ada jendela, hanya seberkas kecil cahaya yang keluar dari celah pintu yang bisa membocorkan keberadaan kami. Merasa sedikit menghujat, aku membisikkan sebuah doa permohonan maaf pada sang Dewa dan menghampiri lemari hitam. Kunci perak sang peramal meluncur ke dalam lubangnya tanpa suara, dan pintunya terbuka saat aku memutarnya.
__ADS_1
Di dalam lemari terdapat enam buah jurnal—setidaknya salah seorang peramal merupakan seorang penulis yang rajin. Aku mengambil jurnal terakhir, lalu membawanya mendekati satu-satunya lampu yang dinyalakan Devan. Dengan hati-hati, berusaha agar tidak membuat punggung buku retak atau menekuk sebuah halaman, aku membukanya.
Hari kedua puluh tiga musim gugur, tahun 1147, pemerintahan Raja Antoni 10. Hari ini upacara keagamaan selesai. Entah mengapa rasanya aneh, memikirkan bahwa sekarang akulah sang peramal. Aku hanya berharap keluargaku bisa menghadiri, tapi aku tahu itu sebuah ritual suci, dan hanya bisa disaksikan oleh saudara dan saudari religiusku, dan bukan keluargaku…..
Aku memperlambatnya saat mendekati hari lahirku, dan akhirnya berhenti saat mataku menemukan kalimat yang kucari.
__ADS_1
Hari Ratu dan raja berkunjung, meminta ramalan untuk anak mereka yang akan lahir. Sepertinya ratu berhasil melalui perjalanan dengan cukup baik, mengingat kondisinya. Mereka mengunjungi kuil, tapi saat aku meminta sang Dewa agar mengirim ramalannya, aku tersentak oleh visi yang mengerikan. Sebuah ruang tinggi dengan singgasana di ujungnya, dan di hadapan mereka terbaring seorang gadis, dalam genangan darah, pucat akibat kematian. Sebuah mahkota emas tergeletak di dekatnya, darah melebar menuju benda itu. Di belakangnya ada lima belas lampu padam. Mereka meminta ramalan lain, tapi sang Dewa tidak mau memberi petunjuk. Aku hanya bisa menduga itu sang putri yang belum dilahirkan, dan dia bisa meninggal di istana sebelum ulang tahunnya yang keenam belas, korban pembunuhan.
Aku membalik halaman lagi. Tapi tidak ada catatan lain mengenai sang putri. Alih-alih, jurnalnya beralih pada kisah istri seorang saudagar dan permintaannya. Aku bersandar, membiarkan bukunya bergeser mendekat, tanganku berada di antara halaman.
Bersambung
__ADS_1