PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 100


__ADS_3

“ Hanya terpaut sedikit,” ujar Devan. “ Kaulihat? Hanya beberapa bulan.”


Namun aku nyaris tidak meliriknya. “ Seharusnya tetap ada sebuah halaman mengenai keluarganya, karena dia menikahi seorang bangsawan. Ah, ini dia.” Aku membalik halamannya, tapi Devan menangkap dan memeganginya di antara kami, agar bisa tetap melihat isi halaman sebelumnya. “ Devan,” ujarku dengan jantung berdebar, “ dia punya saudara perempuan, Alecia. Dia meninggal karena….demam nadi merah. Dan dia meninggal—Devan, tanggalnya sama seperti yang terukir di atas makam sang peramal.”


Devan mengalihkan tatapannya padaku. “ Ada yang lain,” Devan berkata dengan suara tercekik. “ Mungkin kau tidak menyadarinya, Melani punya seorang bayi.”


Aku menggelengkan kepala. “ Tidak, dia tak punya. Dia sama sekali tak punya pewaris.”


“ Bayinya meninggal. Menurut buku ini, Melani punya bayi perempuan yang meninggal saat dilahirkan. Dan itu hanya lima hari sebelum Diana dilahirkan. “ Wajah Devan tiba-tiba memutih, bahkan bibirnya berubah pucat. “ Tapi bagaimana kalau bayinya tidak meninggal? Bagaimana kalau dia hanya memalsukan kematiannya? Dan bukannya mengirim sang putri ke panti asuhan biara, dia memastikan putrinya yang pergi ke tempat itu.”

__ADS_1


“ Riana,” bisikku. Aku merasa kedinginan, sangat dingin hingga aku menarik jubah berat itu lebih erat lagi. “ Riana adalah putri Melani.”


Semuanya cocok—saudara perempuan Melani adalah sang peramal, yang mungkin bersedia membantunya merebut takhta jika diminta. Bayi itu lahir hanya beberapa hari sebelum putri yang asli.


Kata-kata sang raja, tiba-tiba teringat, bergema di telingaku. Diana dibesarkan di sebuah panti asuhan biara tidak jauh dari sini—Melani membawanya ke sana beberapa hari setelah kelahirannya. Waktunya sangat tepat untuk menukar kedua bayi. Begitu mudah, tanpa ada yang mengetahui.


Ya, batinku. Ya. Itu pasti berhasil meluluhkan raja dan ratu yang putus asa ingin menyembunyikan anak mereka.


“ Tapi kenapa?” Pertanyaan Devan menyentakku dari lamunan. “ Hanya untuk menempatkan putrinya di atas takhta?”

__ADS_1


“ Alasan itu sudah cukup,” ujarku, tapi lalu terdiam. Devan membiarkan halamannya jatuh di atas pohon silsilah yang memperlihatkan keluarga Melani, tapi aku membukanya lagi dengan pembuluh darah yang serasa dialiri es. Pohon silsilah itu memenuhi satu halaman, dengan nama Melani dan Alecia di bagian paling bawah. Namun, bagian puncaklah yang membuatku memejamkan mata dengan ngeri.


“ Melani adalah seorang anggota keluarga Feidhelm,” ujarku. “ Ini bukan hanya sekedar menempatkan putrinya di atas takhta. Tapi ini sebuah balas dendam.”


“ Aku tak mengerti,” desis Devan.


Aku mengerucutkan bibir, lalu menariknya lagi dan menggelengkan kepala. “ Kau tidak pernah memperhatikan guru sejarah. Empat generasi yang lalu, sepasang bayi kembar berjenis kelamin perempuan dan laki-laki dilahirkan sebagai pewaris takhta—Luisa dan Luis, Luisa berusia lebih tua, tapi hanya beberapa menit saja. Saat raja tua meninggal, Luisa mewarisi takhtanya. Namun saudara lelakinya, Luis, menganggap dirinya sebagai pilihan yang lebih baik, dan dia memimpin pemberontakan melawan saudara perempuannya. Mereka berseteru selama hampir satu tahun, tapi akhirnya Luis kalah dan dihukum mati sebagai pengkhianat. Istrinya juga terbunuh saat menolak menyerahkan diri pada Luisa, bahkan setelah kematian Luis.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2