PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 140


__ADS_3

“ Aku membayar seorang bocah untuk pergi ke kampus,” ujar Devan. “ Seharusnya ada tabib yang masih berada di sana.”


Aku meremas tangan Paula. “ Aku harus pergi. Kami harus mengambil sesuatu dari kamarku, lalu kami harus pergi. Maafkan aku.”


Mata Paula sudah terpejam, kelihatannya dia sudah tertidur lagi. “ Di dalam kalian berdua,” gumam Paula, lalu terbaring diam.


“ Bisakah kau menemaninya sebentar?” aku bertanya pada Devan yang langsung mengitari meja dan berlutut di samping Paula. “ Ayo,” aku berkata pada Bella. “ Kita bisa ganti baju di kamarku dan mengambil peta.”


Devan dan Bella sudah menempatkan Gema dalam posisi yang lebih nyaman, aku melihatnya saat kami bergegas menyusuri koridor. Aku tidak berhenti untuk memeriksa keadaannya lagi; tabib bisa menolongnya saat tiba di sini. Di dalam kamarku, aku dan Bella melepas pakaian kami, tanpa ada perasaan malu, dan memakai dua gaun terbaikku. Gaun Bella sedikit kebesaran, dan kurang mewah untuk sebuah upacara penobatan, tapi lumayan.

__ADS_1


“ Papan yang mana ya?” aku bergumam sendiri setelah selesai berpakaiaan. Bella melirikku dengan ekspresi bertanya, jadi aku menjelaskan. “ Sebelum pargi, aku menyembunyikan Peta Raja Ardan di bawah salah satu papan lantai. Aku tak mau ada yang menemukannya, tapi aku tak tahu tempat yang lebih baik untuk menyembunyikannya. Ah!” Yang itu, setengah tersembunyi di bawah tempat tidur, dengan moda gelap di ujungnya. “ Di atas meja ada sebuah sisir,” ujarku. “ Lemparkan padaku.”


Gagang sisisr cukup tipis untuk diselipkan di antara kedua papan, dan papannya berderit saat aku mencongkelnya. Namun papan yang longgar terangkat dan di bawahnya, aman dan selamat, aku menemukan peta yang tergulung lembut itu. Kertas genealogi dan pengakuan sang peramal, yang disimpan di bawah papan lantai juga kumasukkan ke dalam saku gaunku.


“ Ayo,” ujarku. “ Penobatannya akan segera dimulai.” Bella mengangguk dan mengikutiku keluar dan menuruni tangga. Namun, saat kami memasuki koridor lantai dua, aku berlari menabrak Devan yang langsung mencengkeram pundakku agar aku tidak jatuh.


“ Sst!” desis Devan, satu jarinya terangkat di depan bibir. “ Aku mendengar sesuatu di lantai bawah.”


Kami merapat di dinding agar mereka tidak melihat kita. “ Apa ada jalan keluar lain?” bisik Bella.

__ADS_1


Aku menunjuk. “ Lewat tangga pelayan. Kita bisa ke pintu taman, dan keluar lewat sana. Kecuali mereka meninggalkan penjaga di luar.”


“ Kita harus mencobanya,” Devan menyetujuinya, tangannya sudah terangkat di atas pedang. “ Tapi kita harus pergi sekarang.”


“ Tapi Paula,” ujarku. “ Dan Gema. Orang-orang itu bisa semakin menyakiti mereka. Dan tabibnya akan datang ke sini.”


Devan memperlihatkan ekspresi bingung, dan Bella mengepalkan tinjunya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Namun Devan menggelengkan kepala. “ Kalau mereka menangkap kita, semua tamat, Amelia. Tak ada kesempatan lagi. Riana dinobatkan menjadi ratu.”


“ Aku tidak bisa meninggalkannya! Dia terluka karena saahku!” Aku tahu aku harus pergi. Penobatannya akan segera dimulai, dan kalau kami ingin berada di Aula Thorvaldor untuk mendapat perhatian semua orang—entah bagaimana caranya—kami harus pergi sekarang. Namun sepertinya aku tidak bisa bergerak; aku merasa kakiku dirantai ke lantai.

__ADS_1


Like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰😘🌹🌹


Bersambung


__ADS_2