PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 39


__ADS_3

Anehnya, perasaan itu juga berlaku untuk diriku sendiri. Sekali lagi aku berubah dari diriku yang kukenal sebelumnya. & aku tidak percaya pada orang baru.


Aku yang memiliki kekuatan sihir. Sepanjang perjalanan menuju kota, aku terus mengepalkan tangan di atas pangkuan karena takut mengeluarkan kekuatan yang tidak bisa kukendalikan.


Sekarang seluruh harapanku bertumpu pada kampus penyihir. Tentunya mereka akan menyadari bahwa aku membahayakan diriku sendiri & orang-orang di sekelilingku, & bersedia menerimaku. & jika itu tidak berhasil menggugah mereka, aku bisa membayar mereka dengan kamtong berisi emas yang tersembunyi di dasar petiku.


Rasanya lama sekali sampai akhirnya aku berhasil menenangkan benakku yang terus berputar, & akhirnya aku tertidur. Besok, aku berkata dalam hati saat mulai terlelap, aku akan mulai menata hidupku.


“ Maafkan aku, tapi aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.”


Petugas penerima berjubah biru itu menatapku, matanya sayu, lalu menunduk & sengaja memilah-milah beberapa kertas yang ada di atas meja di hadapannya. Beberapa saat kemudian, pria itu mendongakkan kepala lagi & terlihat kaget saat melihatku masih duduk di sana.


Aku tidak beranjak karena merasa terguncang. Pagi itu aku berdandan serapi mungkin, memilih gaun terbaik yang boleh kubawa dari istana; sebuah gaun merah berlengan panjang seperti lonceng. Aku mengepang rambutku dengan seksama di sekeliling kepala & menutupnya dengan cadar gelap. Bukan untuk menghalau angin, bahkan embusan angin pelan pun akan membuat rambutku melayang-layang ke depan wajah, tapi sebagai usaha penyamaran. Saat itu aku berjalan dari penginapan CP menuju kampus penyihir & meminta dipertemukan dengan seseorang untuk membicarakan pendaftaran di tempat ini.

__ADS_1


Sekarang aku mendapati diriku memegangi cadar dengan ketakutan sambil berkata,


“ Apa kau yakin? Maksudku, aku tahu aku agak ketuaan, tapi aku baru saja mengetahui bahwa aku punya kekuatan sihir. Aku mengubah sebuah tanaman menjadi abu & menghanguskan rerumputan….”


“ Itu yang tadi kaukatakan,” sela petugas penerima dengan suara lambatnya, Nona…”


“ Muller,” aku mengingatkannya.


Nada suaranya meninggi di akhir kalimat, seakan-akan menungguku meralatnya. Saat aku tidak melakukannya, pria itu mengedikkan bahu.


“ Nah, kalau begitu kau pasti mengerti bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa.”


Dadaku terasa sesak, seakan-akan ada tali besi yang mengimpitnya.

__ADS_1


“ Tapi pasti ada sebuah cara. Aku punya sedikit uang, jumlahnya tudak cukup untuk satu tahun penuh, tapi aku akan memberikan semuanya padamu. & aku bisa….aku bisa bekerja…”


Aku menatap sekeliling mencari sesuatu.


” Aku bisa berjanji untuk membayar biayanya belakangan.”


Kali ini pria itu tertawa. “ Sungguh, kami tidak bisa menerima janji semacam itu dari semua orang yang datang ke sini. Kami sudah memiliki cukup banyak penyihir untuk melakukan semua tugas sihir yang dibutuhkan untuk menjalankan kampus ini, & cukup banyak pelayan untuk melakukan hal lainnya. Sementara permintaan untuk membayar biayanya belakangan, kau bisa mencapai tingkatan apa pun yang sanggup kaucapai,” nadanya terang-terangan menunjukkan bahwa menurut nya aku tidak akan pernah berhasil melewati tingkat apa pun yang terjadi ..” & menghilang begitu saja.”


“ Tapi aku takkan melakukannya. Kumohon, aku harus belajar mengendalikannya.”


Sang petugas Penerima menatapku dengan tatapan dingin & berkata, nada bicaranya yang lambat terdengar sangat tegas, “ Kalau begitu kusarankan kau pergi ke Wenth atau Farvasee. Aku tahu mereka tidak terlalu selektif soal murid. Selamat siang.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2