
Tatapan Bibi Vania terlihat kelam saat menatapku. Mungkin karena sihir yang baru kuketahui mengalir di dalam diriku, atau mungkin karena Bibi Vania terlalu keras memikirkannya hingga siapa pun bisa melihatnya terpancar dari wajahnya, tapi aku bisa mendengar kalimat yang diucapkannya. Aku memalingkan wajah, ke utara, ke arah Vivaskari.
Mungkin tidak ada tempat yang bisa membuatku merasa seperti berada di rumah sendiri. Mungkin akan selalu berada di dua dunia, & tidak pernah menemukan kedamaian di mana pun.
Sehari kemudian, aku kembali ke Vivaskari.
Saat kereta sewaan melaju menuju Kota, aku tidak sanggup mencegah diriku menjulurkan leher untuk melihat dinding kota yang terbentang di hadapanku. Untungnya, orang-orang yang berkendara bersamaku,
__ADS_1
seorang perempuan kurus yang berasal dari sebuah desa di selatan Treb & suamimya yang juga kurus,
juga sedang menatap keluar jendela sehingga tidak melihat reaksiku yang seperti orang udik.
Aku berhasil menahan diri agar tidak memperlihatkan sikap mencurigakan lagi sampai melewati gerbang selatan & memasuki Flower Basket, tempat kami menurunkan pasangan suami istri itu, & terus melaju ke distrik G, tapi aku tidak bisa menghentikan debaran jantungku. Pulang, pulang, pulang, seakan-akan itulah yang diucapkan jantungku. Untungnya, sepertinya hanya emosi negatif yang menyebabkan sihir di dalam diriku mengalir keluar, karena udara tidak terpuntir atau memanas bahkan saat jantungku berdebar semakin kencang.
Namun, aku masih bisa merasakannya, karena sekarang aku sudah mengetahui keberadaannya. Sihir terasa seperti matahari mungil di dalam diriku, tapi sebuah matahari yang memiliki kesadaran. Ia ingin keluar, entah bagaimana aku mengetahuinya. Aku hanya perlu menahannya cukup lama untuk melatih penggunaannya.
__ADS_1
Ternyata benar, & tidak berapa lama aku pun terlindung di sebuah kamar. Satu-satunya bagian mengkhawatirkan dalam transaksi terjadi saat pemilik penginapan yang terlihat seperti ibu asrama menatapku dengan ekspresi galak & bertanya,
“ Memangnya berapa usiamu?”
“ Delapan belas tahun,” aku berbohong, berusaha agar tidak berkedip. Meskipun mulutnya mengerut curiga, akhirnya perempuan itu mengangguk & menerima salah satu koinku. Jika dilihat dari matanya yang terbelalak, aku menduga sebagian besar tamunya tidak membayar dengan emas, & aku berjanji malam ini akan menyembunyikan kantong kecilku yang berisi koin emas, lalu menukarnya dengan koin perak & tembaga secepatnya.
Hari sudah malam saat aku duduk di kamar ditemani satu nampan berisi makan malam, aku tidak mau makan di lantai bawah. Meskipun dulu jarang berkeliaran di luar distrik atas Vivaskari, aku khawatir bertemu seseorang yang mungkin masih mengenaliku sebagai putri palsu. Setelah pertemanan terselubung yang dilakukan oleh Jose, yang tidak bisa kupikirkan tanpa merasakan gemuruh tidak menyenangkan di dalam perutku, aku cenderung menilai semua orang dengan rasa curiga & tidak percaya.
__ADS_1
Anehnya, perasaan itu juga berlaku untuk diriku sendiri. Sekali lagi aku berubah dari diriku yang kukenal sebelumnya. & aku tidak percaya pada orang baru.
Bersambung