PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 57


__ADS_3

Ruangnya kecil, di kota hanya kaum bangsawan yang memiliki ruang untuk membangun taman luas. Dengan dinding batu tinggi di sekelilingnya, taman ini terdiri atas air mancur & jalan setapak melingkar, tanaman herbal & bunga tumbuh di dekat dindingnya. Balkon di atasnya dipenuhi lebih banyak kehidupan, tapi tempat ini tetap terasa nyaman. Sejak tadi aku bersandar pada tepian kolam batu yang terasa hangat, & tersentak bangun dengan saat keras hingga pundak kananku kesakitan karena terbentur. Dengan mata berair aku berkata, “ Kenapa kau berpikir begitu?”


“ Dia bilang,” Dia tahu aku sering menemuimu. Dia ingin bertemu denganmu.


Aku mengusap pundak. Terpikir olehku untuk bertanya pada Devan apakah tubuhku berdarah akibat menggesek batu, tapi aku hanya mengertakkan gigi.


“ Apa? Apa dia berharap kau akan membawanya menemuiku?”


Dari bangku tempatnya duduk, Devan menggeser kakinya di atas tanah, lalu berkata, “ Kurasa begitu.”


Aku merasa pipiku panas tepat pada saat tulang punggungku seakan berubah menjadi butiran es. Aku tidak mau bertemu Diana, tidak mau berada lebih dekat dengannya. Aku tidak peduli dia sang putri, tidak peduli dia punya hak memintaku menari bersama seekor kambing di hadapan seluruh distrik G jika dia menginginkannya. Aku hanya tahu tidak ingin melihat gadis yang kehidupannya kujalani sampai musim kemarin. Lebih baik aku kembali ke Treb sambil merangkak di atas kedua tangan & lututku di tengah guyuran hujan tanpa memakai mantel.

__ADS_1


Namun, aku pernah menjadi dirinya. Bagian diriku yang pembangkang ingin melihatnya, melihat putri asli, sesuatu yang seharusnya aku. Untuk melihat apa yang dilakukannya dengan kehidupan yang dulunya milikku. & itu membuatku takut, karena aku tahu apa yang akan kutemukan. Aku sudah melihatnya sekilas saat dia turun dari kereta untuk menyapa raja & ratu.


Dia seorang putri. Putri yang asli, sangat anggun, gerakannya halus, & tawanya hangat. Sesuatu yang, dengan tubuh mungil, pemalu, & canggung, tidak pernah kumiliki. Melihatnya akan memaksaku untuk mengakuinya, lebih dari yang sudah kurasakan sekarang. & aku takut.


“ Yah,” ujarku sambil berdiri, kedua tangan di pinggul, “ Kau harus memberitahunya kau tak mau melakukannya. Memberitahunya itu tidak bisa dilakukan.”


Devan bersedekap, wajahnya memperlihatkan ekspresi keras kepala. “ Kau tahu aku tak bisa melakukannya, Amelia. Dia putri. Suatu hari nanti dia akan menjadi ratu. Kalau dia meminta, aku harus melakukannya.”


“ Kita tidak sedang membicarakan siapa yang berhak menghabiskan potongan kue rempah terakhir yang ada di atas piring! Kau tahu aku harus mengantarnya jika dia memintanya.”


Aku memang tahu, tapi aku tidak mau mendengarnya. “ Baik ! Lakukan apa pun yang diinginkan Diana. Bawa dia ke sini. Tapi jangan kaget kalau aku tidak membukakan pintu !”

__ADS_1


Setelah mengucapkannya, aku bergegas keluar dari taman, lalu membanting pintu rumah hingga menutup. Dari jendela aku melihat Devan beranjak menuju pintu, lalu berhenti. Perlahan-lahan, dia berbalik & keluar melalui pintu taman, pintu yang mengarah ke gang yang terhubung ke jalan utama.


“ Apa yang dilakukannya?”


Aku cepat-cepat berbalik, terkejut. Aku benar-benar larut dalam pikiranku sendiri sehingga tidak menyadari Paula berdiri di ambang pintu salah satu ruang duduk.


“ Maaf?”


“ Yah, menurut pengalamanku, biasanya pria yang banyak bertingkah & menyebabkan sebagian besar masalah dalam hubungan percintaan,” ujar Paula. “ Jadi, tentu saja, aku menduga teman priamu sudah melakukan atau mengucapkan sesuatu yang membuatmu meleset masuk seperti badai angin. Apa tebakanku benar?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2