
Serangkaian serangan lain sudah terpikir di dalam benakku, & aku nyaris mengucapkannya. Namun, tepat pada saat itu, aku melihat salah satu tangan Diana mencengkeram kain kasar jubahnya, menggosoknya naik turun di antara jemari seakan-akan gerakan itu bisa menenangkannya. Aku menyadari jubahnya berbau harum. Sama sekali tidak berbau apek khas pakaian yang di masukkan ke dalam peti oleh pelayan istana karena tidak pernah digunakan.
“ Itu bukan hanya digunakan sebagai samaran, ya kan ?” tanyaku .
Diana memicingkan mata, menunggu seruan kasar lainnya, tapi saat tidak mendengarnya, dia mengangguk satu kali.
“ Aku tidak mengizinkan mereka mengambilnya. Mereka memberiku pakaian baru saat di panti biara, untuk perjalanan naik kereta, tapi mereka tidak mengirim jubah. Kubilang aku kedinginan, & mereka mengizinkanku membawa ini. Setelah sampai di sini, aku menyembunyikannya sebelum mereka sempat membawanya.”
Aku membungkukkan tubuh, kedua siku bertumpu di atas lutut & wajahku terkubur di atas telapak tangan. Mudah sekali membencinya. Dipenuhi harga diri karena merasa ditusuk dari belakang. Menyerang Diana atas perbuatan keluarganya padaku, bagaimana mereka memanfaatkan aku, lalu menyingkirkan aku. Aku ingin membenci Diana karena mengambil kehidupan yang kupikir milikku.
__ADS_1
Aku tidak bisa. Devan benar, batinku sambil menahan tawa getir. Kami berdua tidak mengharapkan semua ini. Semuanya diputuskan oleh orang lain… raja & ratu, para penyihir yang mereka mintai tolong, bahkan Dewa Tanpa Nama, saat dia mengirim ramalan kematian setelah kelahiran sang putri. Kami berdua tidak memiliki kendali apa pun. & aku lelah menjadi semak berduri, lelah berteriak pada semua orang yang ada di sekelilingku. Mungkin, dengan tidak membenci Diana, memaafkannya atas kehidupannya atas kehidupan yang sekarang dimilikinya, aku bisa sungguh-sungguh mulai menjadi Amelia, & bukan hanya si putri palsu.
“ Maafkan aku,” ujarku sambil mengangkat kepala dari atas tangan. “ Sepertinya akhir-akhir ini aku hanya berdebat dengan semua orang. Kita mulai dari awal lagi, bagaimana? Namaku Amelia, & kau Diana.”
Diana masih terlalu dingin saat aku mulai bicara, tapi setelah selesai, wajahnya melembut. “ Maafkan aku juga. Aku tahu kau tak mau bertemu denganku, & aku tetap datang.”
“ Aku tak punya waktu lama,” ujar Diana. “ Aku sudah mendatangi tempat ini selama beberap hari terakhir, cukup lama, menduga kau mungkin datang.”
“ Kenapa?” tanyaku.
__ADS_1
“ Kau memberitahu Devan bahwa Paula sering menyuruhmu mengantar atau membeli sesuatu. Jadi aku mendatangi semua toko yang dia bilang sering dikunjunginya, sementara dia berbohong pada semua orang yang menanyakan keberadaanku.” Diana merona lagi. “ Aku ingin menunggu di depan rumahmu, tapi aku tidak berani. Tapi kurasa cara ini lebih memakan waktu.”
Aku mengaitkan jemari, lalu melemaskannya. “ Apa dia memberitahumu aku ada di sini, di kota? Kau mengetahuinya dengan cara seperti itu?”
Aku melihat ekspresi mempertimbangkan yang tersirat pada mata Diana, saat berusaha memutuskan apakah sebaiknya dia memberitahuku atau tidak. Aku menunggu saat Diana mengembuskan napas pelan, lalu berkata, “ Ya & tidak. Maksudku, dia memang memberitahuku kemana menurutnya Paula menyuruhmu, tapi aku sendiri sudah menduga kau ada di kota.”
“ Bagaimana bisa?” Aku membayangkan jaringan mata-mata, semuanya siap & bersedia melakukan perintah sang putri baru, bahkan meskipun aku tahu betapa konyolnya hal itu. Lagi pula, dulu juga aku tidak punya mat-mata, & tidak pernah mendengar putri atau pangeran berusia enam belas tahun yang memiliki mata-mata.
Bersambung
__ADS_1