
Datangi semua rumah dan bertanya apakah ada yang mengenal seorang gadis seusiaku, yang mungkin, atau tidak, terlihat sedikit mirip denganku? Aku tidak boleh menarik perhatian orang-orang di sekitarku; Bagaimanapun, ini desa Melani, dan siapa yang tahu mata-mata macam apa yang mungkin ditugaskannya di sini? Namun aku tidak punya banyak waktu untuk memunggu, dan hanya berharap Diana akan berjalan menghampiriku.
Di dalam kereta si pematri keliling tidak ada barang yang benar-benar membuatku tertarik, dan aku sudah berbalik, sambil bertanya-tanya mengenai harga sebuah makanan di kedai minum, saat ada sesuatu yang seakan-akan meraih dan menarikku. Aku terhuyung ke samping hingga seorang pria yang sedang melakukan barter dengan pematri keliling mengulurkan tangan untuk menangkapku.
“ Nona? Nona, apakah kau baik-baik saja?”
Aku menganggukkan kepala tanpa menatap pria itu. Seandainya berusaha pun aku tidak akan bisa menatapnya. Karena di sana, menatapku dari tengah jalan, dengan ekspresi terkejut yang pastinya sama dengan ekspresi wajahku, sang putri berdiri.
__ADS_1
Dia menatapku, satu tangannya terangkat ke dada dan wajahnya memperlihatkan ekspresi gelisah. Sebuah panci penyok menggantung pada tangannya yang lain; dia jelas-jelas datang untuk menemui si pematri keliling. Tetapi dia bisa merasakan sensasi ditarik seperti yang kurasakan—hal itu jelas terlihat dari caranya menatapku bingung.
Sekarang sensasinya terasa semakin kuat, saat aku menatap Diana yang asli, daripada yang kurasakan saat bersama Riana; secuil jiwa memanggil-manggil secuil jiwa yang tersisa di dalam diriku, aku merasa dihadapkan dengan sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Namun sepertinya hal itu mulai memudar saat aku terus menatapnya, seakan-akan sihir pada mantranya sudah puas melihatku menyadarinya dan kembali tenang. Aku melepas tangan pria yang menangkapku dan mengangkat tangan ke arah sang putri.
Dalam sekejap, sebuah ekspresi cemas bak seekor rubah mencengkeram wajahnya. Dia memelototiku, matanya menyipit hingga terlihat seperti celah lurus, lalu dia berbalik dan bergegas kembali ke arah yang tadi di datanginya.
Dia berbelok di antara dua rumah dan mulai berlari kecil setelah keluar dari jalan utama. Sebuah jalan setapak kecil membuka dari desa menuju hutan, dan samar-samar aku melihat sosok mungilnya di bawah bayangan yang semakin gelap. Aku mengikutinya, tapi sekarang semakin pelan, sampai jalannya berakhir di sebuah rumah mungil. Di depan pintu dia melirik ke belakang dan, saat melihatku, berbalik untuk menghadapiku, kedua tangannya berada di atas pinggul.
__ADS_1
“ Nah,” tuntutnya, “ Apa yang kau inginkan?”
Tubuh kecilnya, bahkan lebih kecil dariku; aku menyadarinya saat mendekatinya. Terlahir dengan tulang berukuran kecil, dia tidak tinggi seperti Riana. Meskipun begitu, bahkan di hutan yang temaram, aku bisa melihat dia agak terlalu kurus bahkan untuk seseorang yang memang terlahir dengan tubuh yang mungil. Pada mulut dan matanya terlihat ekspresi tajam dan lapar. Meskipun begitu, dia mirip dengan ratu, kalau kau tahu apa yang harus diperhatikan. Dan aku, yang menghabiskan seluruh masa kecilku dengan anggapan sang ratu adalah ibuku, tahu.
“ Aku—aku sedang mencarimu—“ aku terbata-bata. Seakan-akan semua kata tiba-tiba menghilang dariku; aku tidak tahu harus mulai dari mana, apa yang harus dikatakan. Aku sudah menemukan sang putri, aku yakin, dan aku tidak bisa merangkai dua kata menggunakan sebuah jarum.
Bersambung
__ADS_1