
Devan langsung menyadari kesalahannya.
“ Maafkan aku. Maafkan aku…aku hanya…aku lupa. Saat melihatmu, aku langsung lupa. Amelia. Sekarang namamu Amelia, ya kan?”
Perlahan-lahan, kepalaku terasa berat hingga terasa seperti sebongkah batu besar di atas pundakku, aku mengangguk. Aku menunduk, berpaling ke mana pun selain menatap Devan. Kedua lenganku, aku menyadari, sepenuhnya tertutup warna cokelat buram dari celupan yang gagal, hingga aku terlihat seperti habis bermain lumpur.
Bagian depan gaunku… bukan,gaun putrinya Alvi…basah karena air yang terciprat olehku, tapi itu tidak menyembunyikan seusang kain pudar yang sudah menipis itu. Seekor serangga terbang melintas & aku menepisnya dengan tanganku, & jempolku tidak sengaja menggores pipi saat melakukannya.
Aku bisa merasakan wajahku basah, & menyadari mungkin aku baru saja mengusapkan noda berwarna cokelat di atas pipiku.
Dan entah mengapa, saat berdiri terpaku, seluruh kebahagiaan yang selama ini tertahan di dalam diriku & tidak punya alasan untuk muncul, yang menggelegak ke permukaan saat melihat Devan, tiba-tiba berubah masam & muram. Aku malu, akan penampilanku, pekerjaanku, & bagaimana aku sudah mengacaukannya.
Dalam sekejap aku membenci Devan karena melihatku dalam keadaan seperti ini, karena datang & mengingatkanku siapa diriku yang dulu. & aku tahu, begitu membuka mulut, ucapan apa pun yang keluar dari mulutku pasti mengerikan, sekejam & setajam yang mungkin bisa kulakukan.
__ADS_1
Aku bahkan tahu seharusnya aku menahan diri, tahu aku akan menyesalinya, tapi saat ini, dengan pipi kotor yang membara, aku tidak peduli.
“ Apa yang kaulakukan di sini, Devan?” aku bertanya hambar.
Sejenak mata Devan berkerut kaget saat mendengar nada suaraku.
“ Aku datang untuk menemuimu. Aku tahu terlalu lama, aku tahu aku menunggu terlalu lama, tapi…”
“ Tapi ada berbagai seremoni & semacamnya, untuk menyambutnya. Semua orang dipanggil ke istana. Mereka bahkan memastikan putri yang sebenarnya telah kembali.”
Devan menambahkan sambil mendenguskan sebuah tawa & melayangkan ekspresi penuh harap padaku. Keluarga Mossfeld tinggal di tepian Thorvaldor paling utara, & perempuan kepala keluarga itu sangat eksentrik hingga tidak pernah terlihat di istana sejak penobatan raja.
Dulu aku & Devan menghabiskan banyak waktu dengan berbaring di atas rumput taman istana, sambil membayangkan seperti apa penampilan perempuan itu & apa yang dilakukannya selama terjebak di Mossfeld yang bertanah basah & lembek.
__ADS_1
Namun aku tidak tersenyum, & aku melihat Devan menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya.
“ Omong-omong, aku tidak bisa pergi. Ayahku, dia bilang aku bisa dianggap menghinanya…. Amelia… kalau aku pergi mencarimu saat mereka masih melakukan penyambutan untuknya. Akhirnya kemarin dia memberiku izin, & aku berangkat tadi pagi.”
“ Aku mengerti. Tapi kenapa?” tanyaku. Ada nada yang tidak kukenali pada suaraku, nada yang bermata ganda & setajam pedang. Ya, pisau itu akan menyakiti Devan, tapi juga melukaiku di tempat aku menggenggamnya.
Aku tidak peduli.
” Ini,” ujarku, sambil merentangkan lengan untuk menunjuk pondok & tong celup, “ bukan sesuatu yang biasa untukmu.” Devan melirik ke arah yang kutunjuk, mengerjap, & kebingungan. Aku menggelengkan kepala.
“ Tidak. Kau hanya tahu bersenang-senang, hura-hura, bersikap konyol, & bercanda.” Wajah Devan memucat, terluka, & aku sendiri hampir mengalami hal yang sama. Itu tidak benar, Devan jauh lebih baik dari itu, & kami berdua sama-sama mengetahuinya. Meskipun begitu, aku tidak berhenti.
Bersambung
__ADS_1