PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 26


__ADS_3

Sebagian besar kehangatan yang diberikan Jose padaku sudah menguap, tapi ada sebagian kecil yang tetap melekat.


“ Hanya karena seseorang berasal dari Kota V, bukan berarti mereka biang masalah,” ujarku.


Bibi Vania menghela napas dengan suara nyaring, lalu mengembuskannya keras-keras.


“ Aku tidak bilang begitu. Tapi merasa hebat sering berakibat begitu. & Jose Wiliam merasa dirinya hebat sejak dulu.”


Dia menganggapku seperti itu, aku tersadar. Menganggapku sebagai seseorang yang “ terlalu hebat.” Seorang gadis jelata dengan sikap seorang putri. Yah, aku berusaha menyingkirkannya, belajar menjadi orang biasa. Aku berusaha sebaik mungkin, tapi sulit menghilangkan anggapan yang terpatri selama enam belas tahun bahwa kau seseorang … sesuatu..yang berbeda.


“ Itu membuatnya gelisah,” lanjut bibiku, “ & itu mengarah pada….”

__ADS_1


Tiba-tiba aku merasa marah, lelah mendengar ucapannya, & aku mengayunkan tangan..


“ Cukup,” bentakku


“ Dia ingin berteman denganku. Dia satu-satunya orang di Treb yang bahkan mau berusaha mengenalku alih-alih berbisik-bisik di belakangku atau memberitahuku bahwa aku tidak cukup baik.”


Bibi Vania membuka mulut, garis diantara matanya terlihat panjang & dalam, tapi aku hanya berkata,


Aku meminggalkan ruangan, penuh harga diri. Apa ini hanya cara lain untuk menunjukkan betapa dia tidak menyukaiku? Sebuah cara untuk memastikan kehidupanku di sini membosankan & dingin seperti kehidupannya? Aku mengempaskan tubuh diatas tempat tidursempitku, yang diselipkan di antara jendela & tempat tidur bibiku.


Entah mengapa, aku merasakan desakan luar biasa untuk menghampiri peti bajuku & mengeluarkan salah satu gaun milikku. Sudah berminggu-minggu aku tidak membuka peti itu, sejak tiba di sini aku hanya memakai baju lungsuran anak perempuan Alvi. Namun sekarang aku ingin, setengah mati, memegang sesuatu yang berasal dari masa saat aku merasa bahagia, saat aku memiliki seorang teman, saat aku memgenal diriku.

__ADS_1


Desakan itu menggebu-gebu di dalam diriku, tapi aku mengertakkan rahang & memejamkan mata erat-erat hingga kelopak mataku terasa sakit. Tidak ada gunanya mempertahankan masa lalu. Wajah Devan berkelebat di depan mataku yang terpejam, tapi aku sengaja menggantinya dengan wajah Jose. Aku mencengkeram selimut alasku berbaring, & menjepitnya di antara jemariku. Ini yang kumiliki sekarang. Hanya ini. Aku harus puas.


Setelah itu Bibi Vania tidak mengatakan apa-apa mengenai pertemananku dengan Jose. Dia mengizinkan aku jalan-jalan bersamanya, mengizinkan kami duduk di kebun, bahkan pada malam-malam saat turun hujan, mengizinkan Jose masuk & menyiapkan papan catur untuk kami mainkan. Bibiku bersikap sopan pada Jose, tapi dari posisi mulutnya aku tahu bibiku tetap tidak menyukai keadaan ini sama seperti awal pertama kunjungannya.


Sebaliknya, aku merasa lebih bahagia sejak kedatanganku di Treb. Mungkin tidak bisa dibandingkan, mengingat kesepian yang kurasakan, tapi setidaknya ini sebuah kemajuan.


Satu minggu berlalu, lalu dua minggu berikutnya aku bertemu Jose hampir setiap hari. Aku cepat-cepat menyelesaikan tugasku agar di pengujung hari bisa menghadap Bibi Vania, gulungan benang wol sudah dicelup, baju diperbaiki sebaik mungkin, kebun disiangi, & diizinkan untuk pergi menemui temanku.


Aktivitas yang kami lakukan bervariasi. Terkadang hanya duduk di depan rumah Bibi Vania atau di kebun belakang rumah orangtua Jose & mengobrol. Jose bercerita soal kerabatnya di kota, & berbagai sandiwara & pertunjukan musik yang dihadirinya saat mengunjungi mereka.


Dulu aku suka menonton kelompok seni yang dimaksud Jose, & meskipun merasakan sedikit kerinduan saat Jose menyebut-nyebut hal itu, ternyata sekarang aku bisa membicarakannya tanpa merasa terlalu sedih.

__ADS_1


__ADS_2