PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 10


__ADS_3

Dulu Devan yang menjadi topik kabar burung, bukan aku. Namun, sepertinya tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku bukan putri raja lagi. Semua pasang mata tertuju padaku saat aku mendekat, & setelah aku berlalu , bisik-bisik pun dimulai. Semua itu membuat wajahku membara, tapi aku tetap mengangkat dagu, mengencangkan rahang, & berjalan bersama paman Ronald.


Aku baru terkulai lemas saat kami melewati sebuah jendela menghadap ke pintu masuk utama istana. Saat kami melewatinya, aku melirik ke luar untuk menatap lintasan batu besar yang terbentang dari gerbang hingga ke tangga lebar di depan pintu istana.


Di dasar tangga, raja & ratu sedang menunggu. Saat itu datanglah sebuah kereta elegan yang ditarik empat ekor kuda putih. Pengemudinya menarik tali kekang kuda hingga berhenti, lalu seorang pelayan maju untuk membukakan pintu kereta.


Seorang gadis turun dari kereta. Dia mengenakan gaun merah, & rambutnya yang berwarna gelap tergerai di atas punggung. Gadis itu bergerak luwes, anggun, bagaikan seekor rusa yang baru saja keluar dari hutan. Dia berhenti sejenak, raja & ratu menghampirinya, dengan tangan terentang. Gadis itu mengulurkan tangan, & aku sempat melihat wajahnya.


Dia mirip denganku, bayiku. Kemudian, Diana tersenyum menanggapi sesuatu yang diucapkan ratu. Senyumnya terlihat santai, senyum yang sering tersungging, hanya karena dia senang melakukannya. Di depan jendela aku melipat bibirku sendiri, tanganku otomatis menghampiri mulut.


Bukan. Aku mirip dengannya.

__ADS_1


Di luar, raja & ratu mengiring Diana menuju pintu istana, lalu mereka menghilang dari pandangan. Kereta pergi, meninggalkan ruang tempat keluarga itu semula berdiri dalam keadaan kosong. Rasa sakit di dadaku mulai berdenyut-denyut lagi, perlahan-lahan, tapi semakin kuat menyebar dari dada ke seluruh tubuhku. Aku baru beranjak saat paman Ronald menyentuh lenganku dengan lembut.


Keretaku sudah menunggu di istal istana. Sebuah kendaraan sederhana, bersih & praktis, sama sekali tidak mirip dengan kereta bersepuh emas yang membawa sang putri. Peti berisi barang-barangku sudah diikat di bagian belakang.


“ My Lady,” ujar paman Ronald, & meskipun telingaku terasa menderu, aku masih bisa mendengar suaranya gemetar.


“ Maafkan aku, aku benar-benar menyesal. Aku tidak tahu, & semuanya terjadi terlalu cepat untuk seorang pria tua sepertiku. Kuharap….” Paman Ronald menelan ludah.


“ Dan ini untuk bibimu.” Selembar surat yang ditulis di atas kertas tebal & disegel dengan simbol raja, aku menerimanya dengan kikuk.


“ Ratu, dia memintaku untuk memberitahumu ….”

__ADS_1


Tampaknya paman Ronald kesulitan menemukan kata yang tepat, tatapan matanya sarat rasa iba.


“ Dia akan berdoa untukmu pada sang Dewa tanpa Nama setiap hari.”


Aku membayangkan, sejenak, ratu berlutut di depan altar kamarnya, seperti yang sudah sering kulihat. Namun, gambaran itu segera tergantikan oleh pemandangan yang kulihat saat dia menyambut Diana di depan tangga istana, & aku tidak sanggup menjawab karena kerongkonganku tiba-tiba tercekat.


Paman Ronald menggelengkan kepala. “ Aku punya seorang cucu perempuan seusiamu. Dia belum pernah mengunjungi istana, tapi kau selalu mengingatkanku padanya. Seandainya paman mengetahuinya dari awal, aku akan berusaha meringankan penderitaanmu ini,” ujarnya. “ Entah bagaimana…”


Penghiburan kecil, & sebagian diriku ingin mencengkeramnya sekuat mungkin, tapi terlalu sedikit, & sudah terlambat. Aku hanya memalingkan wajah dari paman Ronald, tidak ingin pria tua itu melihat reaksiku.


“ Aku fikir sampai di sini dulu ceritanya.. Kalau suka aku lanjut, terimakasih. Jangan lupa di like, vote, & komen, kasih semangat.”

__ADS_1


__ADS_2