
Aku tidak merasakan sedikit pun penumpukan sihir sebelum kekuatannya mengempasku. Satu menit sebelumnya aku berdiri di sana, dan menit berikutnya aku sudah terlentang di lantai, merasa seperti dihantam sebuah batu besar. Beberapa detik kemudian ada sepasang tangan tak terlihat mencengkeram leherku, hingga aku susah bernapas, meraba-raba leherku dan berusaha, tapi gagal, menghela napas sebelum sihir memitingku lagi, terdiam kaku di tempat.
“ Gadis bodoh tukang ikut campur,” desis Melani. Dari posisiku di lantai Melani terlihat menjulang hingga ke langit-langit, dan udara di sekitarnya berderak akibat sihir. Para bangsawan yang memegangi Devan tersungkur ke belakang. Devan membebaskan diri dan mengeluarkan pedang. Satu gerakan tangan Melani menangkap Devan dalam sebuah mantra hingga, meskipun sudah meronta dan melawan, dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Aku mendengar gerakan dari area tempat duduk para penyihir kampus, tapi Melani mengangkat tangan dan menunjuk mereka, sambil berteriak, “ Satu mantra saja dan aku akan menghancurkan ruangan ini.”
Suara-suara gerakan berhenti saat para penyihir ragu, tidak yakin apakah sebaiknya mereka mengambil resiko. Melani mengguncang pondasi ruangan ini sebelum mereka sempat melumpuhkannya.
“ Kau bisa sangat kuat,” lanjut Melani padaku. Wanita cantiknya tertekuk amarah. “ Aku sudah memberimu kesempatan. Sekarang kau hanya bisa melihatnya mati sebelum kau sendiri mati.”
Melani berbalik, lengannya terentang, dan kelihatannya ada sebuah kilatan petir yang melengkung dari ujung jemarinya ke arah Bella. Aku tidak bisa bergerak, aku tidak bisa menjerit. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mata.
__ADS_1
Sebuah segitiga berada di dalam badai. Salah satu sisinya runtuh dan terjatuh, hanya menyisakan dua sisi.
Tidak, aku berusaha menjerit. Tidak!
Riana melompat .
Riana tersungkur ke depan kilat, jubah berpinggiran cerpelai putih yang dipakainya melayang di belakang. Kilat itu tepat mengenai dadanya, dan Riana terjatuh bagaikan sebongkah batu di kaki Bella dan tidak bergerak.
“ Tidak,” aku mendengar Melani berbisik.
Kemudian, Devan menyerangnya dari belakang, menghujam pedang pada punggung Melani hingga menembus jantungnya. Melani bahkan tidak menjerit. Dia hanya mengangkat sebelah lengannya ke arah Riana, lalu terjatuh.
__ADS_1
Dengan kematiannya sisa sihinya tersapy dari tubuhku. Aku cepat-cepat berdiri, melompati jarak di antara kami, dan berlutut di samping Riana. Bella juga melakukan hal yang sama, dia menopang kepala Riana di atas pangkuannya. Segaris tipis darah mengalir dari salah satu sudut mulut Riana, tapi matanya mengerjap saat melihatku.
“ Maafkan aku.” Air mataku jatuh di atas garis leher gaunnya, dan dengan sia-sia aku berusaha menghapusnya. “ Riana, maafkan aku.”
Senyum yang sangat samar tersungging pada bibirnya. “ Riana,” bisiknya. “ Tak ada yang memanggilku dengan nama itu lagi. Kau ingat.”
Riana menghela satu napas berat, lalu matanya bergulir ke samping, terkunci di satu titik, dan dadanya tidak bergerak.
Aku mengalihkan pandangan dari sosok kaku Riana pada Melani, lalu pada wajah Bella yang merana. Devan sudah menarik pedangnya dari tubuh Melani, tapi dia tidak berusaha menghampiri kami. Orang-orang bergerak di sekitar kami, berbicara dan bergegas ke sana kemari, tapi aku nyaris tidak bisa mendengar mereka. Aku dan Bella tidak bergerak, Riana masih berada di pangkuan Bella—ketiga putri, yang semula merupakan sebuah segitiga, dan sekarang patah.
Like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🌹
__ADS_1
Bersambung