PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 102


__ADS_3

Namun aku tidak mau Melani tersenyum padaku. Aku hanya ingin melarikan diri.


“ Kumohon, tak usah,” ujar Melani. “ Kita sudah terlalu lama saling mengenal untuk menggunakan formalitas semacam itu. Kumohon panggil aku Melani, dan aku akan memanggilmu Amelia. Tapi harus kukatakan, aku tidak menduga akan melihatmu berkeliaran di istana lagi.” Tatapan Melani beralih pada Devan yang ada di sampingku. “ Tapi sekarang aku tahu bahkan tindakan para raja dan penyihir tidak cukup untuk menjauhkanmu dari teman-temanmu.”


“ Ya,” aku berkata dengan suara yang kuharap terdengar santai, tapi bagiku lebih terdengar seperti tercekik. “ Hanya ada sedikit hal yang bisa menjauhkanku dari Devan.” kumohon, doaku, jangan sampai Melani melihat kertasnya. Kertas-kertas itu masih tergeletak di lantai dekat kakiku. Apa ada cara agar Devan bisa mengambilnya tanpa membiarkan Melani melihat apa isinya?


Melani mengangkat satu tangannya ke dagu dan memiringkan kepala, wajahnya memperlihatkan ekspresi geli. “ Ah, ya. Kurasa berperan sebagai penyalin untuk Paula memberimu waktu untuk berkeliaran. Menurutku, dia bukan seorang nyonya yang penuh tuntutan.”

__ADS_1


Itu membuatku terkejut. Aku tidak menduga Melani mengetahui tempat tinggalku atau apa pekerjaanku di sana. Namun aku hanya tersenyum kaku dan berkata, “ Aku memang punya sedikit waktu luang.”


Melani tidak mengangguk. Alih-alih, tatapan matanya beralih ke lantai, dan, sebelum kami mencegahnya, Melani sudah membungkukkan tubuh dan berdiri lagi, kertas-kertas sudah berada dalam genggamannya. Tatapan matanya membaca nama-nama dengan cepat, lalu dia menatapku. Wajahnya, yang beberapa saat lalu sangat tenang dan santai, mengeras bagaikan es di sebuah danau.


“ Sepertinya banyak waktu luang. Menggali masa lalu, Amelia?” tanya Melani. Suaranya masih tenang dan santai, tapi sekarang ada nada tajam yang menggarisbawahinya, bagaikan sebuah pisau. “ Lagi-lagi aku terkejut.”


“ Sebuah proyek,” ujarku dengan suara berdecit. “ Untuk Paula.”

__ADS_1


“ Aku—“ aku hendak bicara, tapi kemudian mundur satu langkah. Kekuatan di koridor menguat, bergulung keluar dari Melani. Aku menunduk dan melihat tangan kosong Melani membentuk simbol-simbol, memperkuat sihirnya, dan aku menelan ludah keras saat mengenali salah satunya. Sebuah mantra lupa, yang sangat kuat hingga bisa membuat seseorang melupakan namanya sendiri. “ Tidak,” desahku. Devan—“


“ Lord David,” panggil Devan, sambil melambaikan tangan dengan panik ke ujung koridor. Melani cepat-cepat berpaling untuk melihat seorang bangsawan muda keluar dari salah satu ruangan yang mengarah ke koridor. Pria itu tersenyum dan bergegas menghampiri kami, tidak menyadari sihir menguar di udara sekeliling kami. Melani menurunkan tangan kosongnya dan kekuatannya menghilang, tapi tangan lainnya menggenggam kertas dengan semakin erat hingga berderak.


“ Devan,” Lord David berkata riang sambil mendekat. “ Kuharap kau memanggilku untuk membayar kekalahan taruhanmu padaku?”


“ Ya, ya, memang itu,” cerocos Devan. Seraya mengeluarkan beberapa keping koin emas dari sakunya, Devan berkata, “ Maaf aku tak bisa tinggal lama-lama dan mengobrol, David, tapi aku sudah ada janji. Senang bertemu denganmu. Baroness.”

__ADS_1


Devan mengulurkan tangan, dan Melani tidak punya pilihan selain menyerahkan kertas-kertas itu padanya. “ Tentu saja,” ujarnya, suaranya terdengar ramah. “ Kita akan segera mengobrol lagi. Jauhi masalah, Amelia.”


Bersambung


__ADS_2