PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 33


__ADS_3

Malam ini hanya ada beberapa orang yang berkeliaran di sekitar Treb. Besok merupakan hari sang Dewa Tanpa Nama, & sebagian besar orang sedang menyiapkan makan besar keluarga yang akan mereka nikmati pada acara tersebut. Jadi tidak ada yang melihat saat aku mengetuk pintu utama, & setelah tidak mendapat jawaban, aku menyelinap menuju pintu belakang yang mengarah ke ruang keluarga di atas toko.


Namun, saat tiba di sudut bangunan aku berhenti, karena mendengar suara-suara yang berasal dari kebun kecil tempat ibu Jose menanam tanaman yang di sebut Bibi Vania sebagai “ hiasan omong kosong.” Aku menunggu, mendengarkan, lalu mengenali suara Jose, bersama Revan & Jerry, dua orang pemuda desa yang seumuran dengan kami. Tetapi aku masih ragu. Aku tidak terlalu akrab dengan Revan & Jerry, & aku tidak mau menceritakan masalahku di hadapan mereka.


Aku hampir memutuskan untuk pulang saat mendengar namaku.


“ Akhirnya terjadi juga,” ujar jose.


“ Apa, bersama Amelia?” Entah suara Revan atau Jerry. Siapa pun itu, ada sesuatu pada nada suaranya yang membuatku terkesiap.


“ Tentu saja. Sudah kubilang takkan perlu waktu lama.”

__ADS_1


Salah seorang dari mereka mendengus. “ Menurutku sudah cukup lama,”


Suara Jose terdengar kesal. “ Jangan bodoh. Dia seperti seekor tikus. Aku tidak bisa membuatnya lari ketakutan. Tapi sekarang….” Jose tertawa, & tawanya tidak seperti yang biasa.


“ Sekarang aku sudah mendapatkannya. Seharusnya kalian lihat saat aku memciumnya. Sangat lembut, sangat bersemangat. & sekarang takkan lama lagi.”


Jantungku berdebar sangat kencang hingga aku penasaran mengapa mereka tidak mendengarnya.


Terdengar suara gesekan, seakan-akan Jose menyodok orang yang baru saja bicara.


“ Sudah kubilang, jangan bodoh. Apa pentingnya semua itu kalau nanti aku bisa bilang sudah meniduri gadis yang dulunya sang putri?”

__ADS_1


Aku tidak bisa bernapas. Udara memasuki mulutku tapi sepertinya tidak sampai ke paru-paru, & kakiku mendadak terlalu lemah jntuk menopang tubuhku. Aku merasakan tubuhku merosot di dinding toko, lalu mengulurkan tangan pada apa pun yang bisa mencegahku agar tidak jatuh. Sebuah sulur, yang di penuhi bunga ungu, tumbuh di sisi bangunan, & tanganku mencengkeramnya.


Aku punya banyak teman, aku mendengar diriku mengatakan pada Devan. Tetapi aku tidak punya teman. Jose hanya ingin membuktikan bahwa dia berhasil menaklukkan seorang putri. Aku bisa melihat wajah Jose di benakku, tertawa & angkuh, & wajah Devan, sakit hati & terguncang saat aku melontarkan kata-kata beracun padanya. Akulah yang bodoh, sekarang aku tidak punya siapa pun. Tidak seorang pun.


Bagian sulur yang kucengkeram berubah menjadi abu hitam di dalam tanganku. Sejenak bagian lainnya masih bertahan, berubah menjadi abu hitam rapuh, lalu mulai berjatuhan bagaikan salju. Aku mendongak, terkejut & ketakutan, lalu aku mendengar suara sesuatu yang terbakar. Saat menunduk, rumput di sekeliling kakiku sudah berubah kecoklatan & layu. Udara di sekitarku sepertinya melengkung & memutir, dipenuhi hawa panas. & tiba-tiba saja perasaan itu, sensasi terperangkap yang kurasakan di dada selama beberapa minggu terakhir, terbebas.


Perasaan itu membebaskan diri dari dalam tubuhku, bergulung disekitarku bagaikan seekor ular saat menghilang ke tengah malam, & mendesiskan kata ya.


Sihir. Ternyata yang kurasakan selama ini adalah sihir, sihir yang tidak kusadari kumiliki.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2