PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 64


__ADS_3

Diana membungkuk dan memetik sehelai rumput yang dengan keras kepala terus tumbuh di antara batu tegel yang mengelilingi patung. Aku menatap ke arah istana, larut dalam pikiranku sendiri, dan Diana keliru menanggapinya. “ Apa kamu sangat menyukainya?” Diana bertanya lembut, sambil menjalin rumput di sela jemarinya.


“ Apa? Tinggal di sana?”


“ Menjadi putri?”


Sebagian diriku ingin tertawa, dan bagian diriku yang lain, bagian kecil, ingin menangis. Namun, aku hanya mengeluarkan suara seperti cegukan. Lalu menggerakkan pundak untuk mengedik lemah.


“ Ya. Tidak. Entahlah . Maksudku, itu kehidupanku, dan pada dasarnya aku bahagia. Aku lupa siapa diriku, aku tahu tujuanku. Aku berusaha cukup banyak belajar untuk menjadi ratu yang baik. Tapi, kurasa, aku tidak pernah sungguh-sungguh… cocok. Aku tidak menyukai acara makan malam besar, dengan perhatian semua orang tertuju padaku, karena aku yakin akan menumpahkan sesuatu di atas gaunku. Aku tidak suka terpaksa mengobrol dengan semua putra Duke atau putri bangsawan asing, dan tidak mungkin menghindari dansa di sebuah pesta. Aku bisa melakukan semua itu, tapi membuatku gugup. Jadi, ya, aku merindukannya. Hanya itu yang kukenal dalam hidupku.”

__ADS_1


“ Aku menatap wajah Diana, begitu mirip sekaligus tidak mirip denganku. “ Tapi kadang-kadang, rasanya melegakan juga. Rasanya lebih mudah, hanya menjadi penyalin Paula.”


“ Ya,” bisik Diana. “ Aku tahu.”


Sebuah lonceng berbunyi di suatu tempat di distrik ini, menunjukkan waktu saat itu. Ternyata sudah lebih larut dari dugaanku. Diana berpaling ke arah lonceng, jemarinya mengusap jubahnyalagi. Dia harus segera pergi, atau mengambil resiko semua penjaga istana menggeledah jalana V untuk mencarinya. Sekarang pun dia pasti kesulitan untuk menjelaskannya, karena gerimis sudah berubah menjadi hujan sungguhan, dan tubuhnya akan basah kuyup saat tiba di istana.


Ada sebuah pertanyaan yang ingin kutanyakan, tapi terus-terusan tersangkut di suatu tempat di dalam mulutku sebelum aku mengucapkannya. Namun, akhirnya, dengan detingan lonceng masih tergiang-mgiang di telingaku, aku memaksakan diri mengucapkannya. “ Bagaimana kabar ibu… sang ratu. Bagaimana kabar ratu?”


Kerongkonganku terasa kering dan aku harus memejamkan mata untuk mencegah air mataku tumpah. Kupikir aku ingin tahu bahwa ratu merindukanku, tapi saat mengetahuinya aku tidak merasa lebih baik.

__ADS_1


“ Maafkan aku,” ujar Diana. “ Maafkan aku, tapi aku harus pergi. Mereka akan segera menyadari kepergianku.”


Aku mengangguk, dengan mata masih terpejam. Saat mendengar desiran rok gaun Diana menyentuh tanah, aku membuka mata dan berdiri. Kami berpandangan tanpa mengucapkan apa pun sampai akhirnya Diana tersenyum kaku.


“ Terima kasih. Maaf aku menyelinap seperti itu. Tapi aku tak punya pilihan. Aku harus mencari tahu.”


“ Aku mengerti.” Sekarang aku memang mengerti. Mengerti dengan Diana terasa menyakitkan, tapi juga menyembuhkan, seakan-akan gelembung menyakitkan di dalam diriku sudah dipecahkan. “ Kalau lewat koridor di depan kamar tuan Tristan, mungkin takkan ada seorang pun yang melihatmu. Pada jam seperti ini di sana nyaris tidak ada orang.”


Diana menyeringai. “ Terima kasih.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2