PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 89


__ADS_3

Sebuah segitiga. Tiga orang gadis, semuanya terikat bersama-sama. Satu sisi terjatuh, runtuh. Sekarat?


“ Tak perlu khawatir,” gumamku. “ Kurasa aku tahu artinya.”


Sang peramal menundukkan kepala, cahaya yang berasal dari lubang pada kubah menyapu tungkainya yang panjang, dan tidak menjawab.


“ Kau takkan mati,” Devan berbisik di tengah gelap.


Kami sedang duduk di dalam salah satu kamar tidur peziarah, aku di atas dipan dan Devan di lantai . Devan duduk dengan lutut tertekuk, sikunya bertumpu di atasnya. Jika menatapnya, aku tahu akan melihat matanya berkilat bahkan di tengah gelap. Jadi aku bersandar pada dinding batu dan tidak mengatakan apa-apa.


“ Mungkin yang dimaksudnya bukan kau,” lanjut Devan. “ Bisa saja Riana, atau bahkan Diana yang asli.”

__ADS_1


Itu membuatku menatapnya. “ Bagus,” ujarku dengan nada mengejek. “ Jadi kita harus mencari Diana yang asli, entah bagaimana membunuhnya. Itu jelas-jelas bisa membantu kerajaan.”


Devan mendengus kesal, lalu menghela napas. “ Bukan itu maksudku. Lagi pula, tidak semua ramalan menjadi kenyataan. Ramalan yang memulai semua kekacauan ini tidak terjadi.”


Aku tidak menjawab. Aku mati rasa, sudah merasakannya sejak tersuruk-suruk keluar dari kuil. Bahkan kunci yang tersembunyi di dalam kepalan tanganku tidak cukup untuk mengembalikan kesadaranku. Aku membiarkan Devan menuntunku ke kamar peziarah, mendengarnya memberitahu Bruder Akson bahwa aku terlalu lelah belajar untuk pergi malam itu.


Aku makan makanan yang mereka bawakan untuk kami, menganggukkan ucapan terima kasih tanpa sadar, lalu duduk di atas dipan dan membiarkan benakku menerawang.


“ Dan meskipun itu memang ramalan sungguhan, kita tak bisa melawannya. Sekarang kita mengetahuinya, jadi kita bisa…. waspada, hati-hati. Kita bisa melindungi mereka. Kami akan melindungimu—aku akan melindungimu.”


Devan naik ke tempat tidur dan duduk di sampingku. “ Ayolah,” ujarnya sambil mengulurkan tangan dengan ragu dan meletakkannya di pundakku. “ Aku baru saja mendukungmu. Aku takkan membiarkan kamu mati.”

__ADS_1


Sambil memejamkan mata, aku membiarkan diriku bersandar pada Devan. Devan berbau harum, bahkan setelah berhari-hari dalam perjalanan menunggang kuda. Tubuhnya hangat dan kukuh, dan temanku.


Kami berada dalam posisi itu cukup lama hingga aku merasa kekakuan di dalam diriku sedikit menghilang, meleleh akibat kehangatan Devan. “ Maaf,” akhirnya aku berkata. Suaraku terdengar sedikit tercekat, dan itu membuatku beranjak menjahuinya karena malu. “ Itu hal yang aneh untuk didengar, hanya itu.”


Devan sudah menurunkan lengannya dari pundakku, tapi sekarang jemarinya membelai lenganku yang berada paling dekat dengannya. “ Aku percaya,” ujarnya. Devan menatap mataku saat mengucapkannya, tapi lebih mendalam dari yang seharusnya.


Jantungku mendadak bertalu-talu di telingaku, dan aku sangat sadar betapa dekatnya kami. “ Pasti sekarang sudah hampir tengah malam,” ujarku tergagap. “ Kita harus…. Mungkin sebaiknya kita mencoba, uh, perpustakaan.”


Devan mengerjap, lalu berdiri, salah satu sudut mulutnya tertarik masuk. “ Tentu saja,” ujarnya. Kemudian, sebuah seringai nakal tersungging pada wajahnya. “ Nah, ini menyenangkan.”


Aku hanya perlu mengendap-endap melintasi halaman berbayang sinar bulan untuk memutuskan bahwa definisi menyenangkan untukku sangat berbeda dengan definisi Devan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2