
Tangan & lenganku terasa menggelenyar, atau bergetar, atau berdenyut, tapi sebenarnya tidak ada yang terjadi. Sesekali, tanpa peringatan apa pun, aku merasakan desakan luar biasa untuk melakukan… sesuatu. Tetapi aku tidak tahu apa, & setelah beberapa saat tidak nyaman, perasaan itu akan menghilang.
Aku tidak memberitahu siapa pun. Selain Bibi Vania, tidak ada lagi yang bisa kuberitahu. Jadi pada malam hari, saat tidak ada hal lain yang perlu kupikirkan, diam-diam aku takut aku akan gila. Apa lagi yang bisa membuatku merasa ada api di dalam nadiku, api yang ingin keluar melalui tangan, mulut atau mataku?
Aku tidak yakin Bibi Vania akan senang jika diberitahu mengenai perasaanku ini. Menerima seorang keponakan yang tidak dikenal & dilimpahkan padamu begitu saja mungkin masih diterima, tapi menerima seorang keponakan tidak dikenal & gila merupakan masalah yang sangat berbeda, jadi aku sangat khawatir sehingga memberiku pengalih perhatian dari penderitaanku, & tidak mengungkitnya.
Namun, pengalih perhatian yang kedua agak berbeda. Muncul pada saat aku berjalan menyusuri jalan utama berdebu, sambil menggenggam sekeranjang pucuk jelatang. Aku & Bibi Vania pergi mencari jelatang di semak-semak yang berderet di sepanjang jalan-jalan yang mengarah ke selatan. Kali ini aku yang pertama berhasil memenuhi keranjang, & Bibi Vania mengizinkanku pulang untuk membuat cairan celup.
__ADS_1
Saat itu hari cerah, sangat panas hingga rambut yang terlepas dari kepangku menempel di tengkuk. Gaunku terasa basah di atas punggung, & lenganku yang tidak tertutup sarung tangan pemberian Bibi Vania terasa perih. Sambil memindahkan posisi keranjang di pinggul, aku berhenti untuk memberi jalan pada seorang anak desa yang menggiring beberapa ekor kambing lepas menyeberangi jalan & kembali ke kandangnya.
Dua orang gadis seusiaku Sella & Rena sedang berdiri di depan rumah, kepala mereka tertunduk berdekatan. Aku berusaha membuat diriku mengecil & tidak terlihat, seakan-akan aku bisa melebur bagaikan seekor gagak mungil, meskipun mereka tidak pernah bersikap kasar di hadapanku, tapi selalu terdengar banyak bisik-bisik setiap aku lewat di depan mereka, & kuharap mereka tidak menyadari kehadiranku. Namun, saat mulai berjalan lagi, ujung sepatu botku tersangkut pada sebuah batu yang menonjol di jalan.
Aku tersandung, pucuk-pucuk jelatang berhamburan keluar dari keranjang saat aku tersungkur di atas lutut. Dari seberang jalan aku mendengar tawa menggelegar.
“ Kurasa ini milikmu,” pemuda itu berkata sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Hati-hati,” ujarku sambil mengulurkan tangan untuk mengambilnya dari tangan pemuda itu.
“ jelatang itu akan membuat tanganmu terasa gatal.”
“ Tak seburuk itu,” ujar pemuda itu sambil menjatuhkan sebuah lagi ke dalam keranjang. Pemuda itu tidak mengatakan apa-apa lagi selama kami mengumpulkan tanaman, tapi dia tersenyum setiap kali aku meliriknya. Bahkan di bandingkan semua orang yang aku lihat di istana, aku harus mengakui pemuda ini sangat tampan.
Rambut hitam membingkai matanya yang biru cemerlang, & aku bisa melihat giginya yang putih & rata setiap kali dia tersenyum padaku. Aku tersadar bahwa tawa dari seberang jalan sudah terhenti.
__ADS_1
Setelah kami menemukan semua pucuk jelatang, dia mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Ruam samar sudah muncul di atas jemari & telapak tangannya.